
Faozan menatap Dara tak mengerti.
Dara mengerti kecemasan serta rasa bersalah yg terpancar di wajah Faozan.. hingga lekas lekas ia menenangkan Faozan.
" Tenang aja.. aku nggak apa apa kok.. ini hanya luka kecil.. kamu juga nggak perlu merasa bersalah ini bukan salah mu.. aku lah yg salah harus nya aku bilang dulu pada mu.. kemana aku akan pergi dan untuk urusan apa." Dara berkata dengan tenang nya.
Faozan makin merasa bersalah mendengar perkataan Dara yg selalu memahami diri nya.
Sementara dia selalu merasa curiga dengan istri nya itu.. tapi sudah menjadi sifat nya yg posesif.. hingga ia pasti merasa curiga jika Dara tak mengatakan pasti kemana ia pergi dan bersama siapa.
" Maaf kan aku.. karna ke egoisan ku.. kamu yg terluka." Faozan berkata sambil tersedu memeluk Dara.
Dara mencoba tersenyum menatap Faozan.
" Sudah lah aku nggak apa apa kok." sahut Dara sambil menjauhkan wajah Faozan dan menatap nya dengan penuh pengertian.
Tapi Faozan masih tetap menangis.. Dara tau Faozan memang sedikit rapuh.. tapi ia tak menyangka kalo Faozan juga menjadi cengeng seperti anak kecil.
" Perlukah aku ambilkan ember untuk tempat air mata mu itu." Dara mulai meledek Faozan.
Faozan langsung menepis air mata nya.
" Iih kamu.. orang lagi sedih malah di ledek." Baru lah Faozan mulai bicara.
" Apa nggak malu.. seorang suami nangis di hadapan istri nya." Goda Dara lagi.
" Ahh.. udah lah.. sekarang katakan pada ku kenapa lengan mu bisa terluka." Faozan mengalih kan pembicaraan karna malu.
" Lengan ku bukan terluka.. tapi sengaja di lukai." jawab Dara.
" Siapa yg melukai mu?." Faozan mulai bertanya tak sabar.
" Dokter." sahut Dara seada nya.
Faozan menatap Dara dengan dahi berkerut.. ia benar benar tak mengerti maksud perkataan Dara.
" Maksud nya." Faozan bertanya terus terang.
__ADS_1
" Tadi aku pergi ke RS untuk memasang implan.. dan disanalah aku bertemu Ifan..."
" Tunggu tunggu.. implan?." Faozan tak tahu apa itu implan.. hingga dia sangat bingung.. " Apa itu implan." Faozan menyela pembicaraan Dara.
" Implan itu salah satu alat kontrasepsi."
" Oh.. kenapa kamu nggak bilang dari tadi.. kalo kamu bilang aku kan.. aku bisa menemani mu." sahut Faozan mulai mengerti.
" Kalo aku ngajak kamu saat aku masang implan tadi.. yg ada aku nggak bisa fokus.. sebab aku yakin kamu bakal histeris saat melihat jarum suntik." Sahut Dara tertawa pelan.
" Ehehe.. iya benar juga sich." Faozan menanggapi dengan tertawa pelan.
" Nah itu tau." kata Dara lagi.. " Sekarang aku jelasin lagi masalah Ifan.. biar kamu nggak mikir yg aneh aneh."
Faozan mengangguk.
" Saat aku berniat pulang setelah memasang implan.. di parkiran aku bertemu Ifan.. kami sempat saling menyapa & menanyakan kabar.. lalu aku bertanya kenapa dia berada disana.. Ifan mengatakan kalo Mama nya sedang di rawat disana lantaran maagh.. jadi aku kasih tau tentanv daun jati yg dia tanya kan tadi." Dara mulai menjelaskan detail nya.
" Lalu apa kamu bertemu dengan Ibu nya Ifan tadi sampai Ifan bilang kalo Ibu nya mengatakan kamu makin cantik." tandas Faozan.
" Iya.. saat aku baru saja mau pulang.. kakak nya Ifan menghampiri kami.. dan dia mengajak ku melihat Ibu nya.. jika Ifan yg mengajak aku bisa menolak nya dengan tegas.. tapi ini kakak nya.. aku nggak bisa menolak.. karna selama ini dia sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri." Kata Dara terus terang.. " Jadi aku menemui Mama nya Ifan setelah ngobrol sebentar aku langsung pulang." jelas Dara panjang lebar.
" Iya Suami ku.. hanya itu.. nggak ada hal yg lain.. aku bertemu Ifan hanya sebuah kebetulan.. aku nggak ada hubungan apalagi perasaan pada nya.. aku memberitahu tentang obat maagh itu hanya atas dasar kemanusian saja.. apa lagi dulu Ifan adalah teman ku.. keluarga nya juga baik pada ku." Dara berkata sambil mencubit lembut pipi Faozan.
" Iya aku ngerti kok.. sekali lagi maaf kan aku ya.. aku sudah berfikir yg nggak nggak tentang mu.. tapi kamu tau kan sifat ku.. aku akan merasa cemburu jika ada lelaki lain yg bicara apalagi bertemu dengan mu tanpa sepengetahuan ku." Faozan berkata dengan rasa bersalah.
" Iya aku paham kok.. aku kenal kamu kan bukan baru sehari dua hari." tutur Dara tersenyum lembut.. " Jadi aku udah hafal sikap cemburuan mu ini."
" Ehehe.. makasih ya.." sahut Faozan tertawa pelan.
" Iya.. tapi jika bisa... tolong hilang kan sikap curigaan mu ini sedikit saja.. aku juga butuh kepercayaan dari mu." pinta Dara lembut.
" Aku bukan nya tak percaya sayang.. cuma hanya sedikit posesif aja.."
" Sedikit kamu bilang." Dara menyela bicara Faozan.. " Sedikit aja sudah membuat kita berantem gimana kalo banyak ya." sambil berkata Dara menatap Faozan dengan pandangan manja nya.
" Aku janji aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlalu posesif terhadap mu.. tapi ku harap kamu bisa bersabar ya sayang."
__ADS_1
" Pasti.. ingat lah.. jika saat kita jauh saja aku setia pada mu.. maka bagaimana bisa aku akan selingkuh saat kita sudah dekat bahkan saat kita sudah menjadi suami istri.. jadi untuk selingkuh itu hal yg sangat mustahil bagiku.. apa lagi aku tau.. selingkuh itu dosa besar sayang."
Faozan mulai tersenyum mendengar nya.
" Eeem.. pinter nya kesayangan ku." sambil berkata Faozan mencubit pipi Dara.
Dara hanya pura pura cemberut.
" Jangan cemberut.. karna kamu makin imut kalo cemberut gitu.."
" Lah bukan nya bagus ya kalo aku makin imut." kata Dara apa ada nya.
" Bagus sich bagus.. tapi masalah nya kalo kamu makin imut aku makin tak mau jauh dari mu.. emang nya kamu mau kita ngelakuin itu tanpa berhenti." Faozan sengaja menggoda Dara.
" Iih apaan sich.". sambil berkata Dara mendorong pelan muka Faozan yg memang dekat dengan wajah nya.
Faozan hanya tertawa saja.
" Oh iya.. apa kamu udah makan?.". Dara mulai bertanya lagi.
Faozan hanya mengangguk.
" Beneran kamu udah makan?.". Dara masih kurang yakin.
" Iya Mama." jawaban Faozan membuat Dara tertawa.
" Kenapa kok kamu ketawa?." tanya Faozan lagi.
"Denger kamu manggil mama... rasa nya seperti seorang anak yg memanggil ibu nya.. alias aku jadi ngerasa seperti ibu mu.. bukan istri mu." jawab Dara terus terang.
" Iiih kamu.. kalo gitu nggak usah panggil mama ah."
" Terus." tanya Dara dengan menginjit injit alis nya.
" Harus nya tadi aku jawab gini ya.. iya sayang."
" Nah ini baru suamiku."
__ADS_1
Mereka berdua sama sama tertawa.