
Seminggu kemudian.. Dara & Faozan melangsungkan pernikahan..
Mulai dari jam 6 pagi.. Dara & Faozan sudah bersiap siap untuk melakukan akad nikah.. yakni ijab kabul nya akan di langsanakan di sebuah masjid yg tak jauh dari kediaman Dara.
Rangkaian demi rangkaian acara di langsungkan.
Kira kira jam 8: 30 barulah tepat pada acara inti yakni ijab kabul.
Sekilas Dara & Faozan saling menatap saat ijab kabul akan segera di mulai.. dengan pandangan yg sama sama gugup.. jantung Faozan sudah berdebar debar tak karuan.. antara gugup.. cemas.. tegang.. namun juga bahagia.
Tapi syukur Alhamdulillah proses ijab kabul nya berjalan lancar.. tanpa ada kesalahan.. Dan cukup dengan sekali ucap.. para saksi sudah mengatakan SAH.
Setelah prosesi ijab kabul di lanjut kan dengan pembacaan do'a dan juga tahklik.
Semua berjalan mulus.
Hingga usai acara akad nikah..
Langsung saja beralih pada resepsi.
Satu persatu tamu mulai berdatangan.
Dara sendiri sampai merasa pegel lantaran harus berdiri dan bersalaman dengan tamu undangan.
Hari yg benar benar melelah kan sekaligus paling bersejarah dalam hidup Dara & Faozan.
Resepsi selesai jam 4 sore.. Dara telah mengganti pakaian nya.. begitu juga dengan Faozan.
Sekarang mereka masih bergabung dengan keluarga besar yg masih berkumpul di rumah Dara.
Sampai jam 20 malam pun rumah itu masih ramai lantaran keluarga masih berkumpul.
Tapi kali itu Dara memilih untuk istirahat di kamar nya.. karna selain lelah ia juga merasa ngantuk.
" Bu.. Dara istirahat duluan ya.. nggak apa apa kan." Dara berkata pada Ibu nya.
" Iya istirahat lah." Tutur sang Ibu.
" Aku juga mau istirahat Bu.". Faozan ikut ikut an.
Hingga mereka berdua di goda para keluarga yg masih berkumpul itu.
__ADS_1
" Ciyyee Ciyye.. yg pengantin baru.. udah nggak sabar nih kayak nya." goda bibi nya Dara.
" Udah lah biarin aja.. biar kita cepet dapet Cucu." sambung bibi nya Dara yg satu lagi.
Dara hanya tersenyum malu malu mendengar perkataan para bibi nya.. bahkan wajah nya mulai bersemu merah.
Begitu juga dengan Faozan dia hanya tertunduk malu.
Namun karna benar benar lelah Dara & Faozan tak menghirau kan godaan dari pihak keluarga nya.
Tiba di kamar nya Dara langsung merebahkan badan nya di ranjang yg telah di hias seindah mungkin itu.
Tak lama kemudian Faozan pun menyusul.
Dara menatap lekat Faozan yg sedang melangakah kan kaki nya untuk mendekati Dara.
Faozan juga hanya menatap wajah Dara.. yg terlihat sangat lelah itu.
Kemudian dengan pelan Faozan naik keatas ranjang itu & duduk di sebelah kanan Dara yg tengah rebahan itu.
" Cape ya?." Tanya Faozan sambil tersenyum menatap wajah cantik istri nya itu.
Dara pun bangun dan duduk mensejajar kan tubuh nya dengan Faozan.
Faozan menyentuh lembut pipi Dara dengan tersenyum manis.
" Addduuuhhh.. kacian nya kesayangan aku." tutur Faozan setengah menggoda.
" Emang kamu nggak cape apa??" tanya Dara.
" Sedikit lelah." jawab nya terus terang.
Dara hanya menatap wajah Faozan.. begitu juga sebalik nya.. hingga mereka hanya saling menatap.. dengan fikiran sendiri.
Sesaat hanya ada keheningan di sana..
" Sayang." panggil Dara kemudian memecah keheningan diantara mereka.
" Iya." sahut Faozan sambil menolehkan kepala nya untuk menatap Dara yg masih bersender di pundak nya.
" Kamu bahagia nggak nikah sama aku?." Dara mulai bertanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Dara bertanya demikian karna tadi ia sempat melihat kalau mata Faozan memerah dan berkaca kaca.. Entah karna apa
" Bukan cuma bahagia sayang.. tapi sangat sangat bahagia sekali." sahut Faozan dengan tersenyum lembut.
Dara menatap lekat mata Faozan yg masih terlihat berkaca kaca itu.
" Ada apa kok kamu liatin aku kayak gitu." Faozan yg merasa aneh dengan sikap Dara mulai bertanya.
" Karna yg aku lihat di mata mu bukan kebahagian tapi kamu seperti nya sangat sedih." jawab Dara kemudian.. " itulah sebab nya aku bertanya begitu."
Faozan mengambil nafas dalam.
" Sungguh sayang.. aku sangat bahagia dengan pernikahan kita.. saat ini aku hanya merasa sedih aja.. seandai nya saja ada salah satu saja keluarga ku yg dateng saat pernikahan kita tadi.. maka itu akan lebih membuat ku bahagia lagi." Tutur Faozan.. artinya ia merasa sedih lantaran tak satupun keluarga nya yg hadir.
" Aku ngerti perasaan kamu.. tapi nggak harus sedih juga.. kan seminggu lagi kita akan ke Lombok untuk menjenguk kakek.. & kakek juga mau ngadain syukuran.. jadi jangan sedih lagi ya.. & kita juga mau mampir ke Lampung dulu untuk bertemu ibu mu."
" Iya sayang." Kata nya mulai tersenyum... " Dan iya sekarang kan kita udah nikah.. gimana kalo panggilan nya kita ganti aja."
" Dengan dengan apa?". tanya Dara dengan mengernyitkan dahi nya.
" Eem gimana kalo mama.. papa aja." usul Faozan.
" Nggak ah.. udah banyak orang yg menggunakan panggilan itu." Dara menolak.
" Gimana kalo Ayah.. bunda." usul Faozan lagi.
" Nggak ah kurang asyik." Dara menolak lagi.
" Kalo mami papi."
" Terlalu lebay."
" Baiklah Umi.. Aby.."
" Ahaha.. kedengaran terlalu tua." Dara tak setuju.
" Lah terus apa donk.. kamu aja deh yg milih." akhir nya Faozan menyerah kan semua nya pada Dara.
" Eeeemm.. apa ya.." kata Dara sambil berfikir.
" Apa ayo?." tanya Faozan.
__ADS_1
" Nah ini nih panggilan yg unik dan tak sama dengan orang lain." Dara berkata sambil tersenyum.