
" Maaf karna.. karna..karna."
" Karna apa?.". Faozan menyela tak sabar.
" Karna aku telah egois." barulah Ia mulai bicara normal.. nggak gugup kayak tadi.
" Kamu egois soal apa?.. aku nggak ngerti bicara lah yg jelas." tutur Faozan.
"Kamu benar.. aku memang merasa risau tentang pernikahan ini.." kata nya pelan.
" Kenapa?.. apakah ada orang lain dalam hati mu?."
" Nggak bukan karna itu."
" Lalu karna apa?."
" Jujur aku senang dengan rencana pernikahan ini.. tapi disisi lain aku juga kecewa.."
" Kecewa karna aku bukan seperti yg kamu harapkan?." Faozan menyela lagi.
" Nggak.. nggak ada hal seperti itu."
"'Terus."
"Aku hanya kecewa karna aku harus mengubur impianku untuk kuliah dan mengejar mimpi ku." Dara mulai bicara terus terang.
" Kamu mau kuliah?." Kata Faozan mulai mengerti
" Iya bahkan aku sudah membayar biaya pendaftaran dan semua keperluan sudah aku beli semua.. saat itu aku nggak tau kalo ternyata kamu akan mengajakku menikah secepat ini jika nggak.. aku pasti nggak akan punya niat untuk kuliah lagi."
" Tapi masalah nya apa?.. bukan kah meski sudah menikah kamu masih tetap bisa kuliah.. apa ini soal biaya.. kamu merasa aku nggak akan sanggup untuk membiayai kuliah kamu gitu."
" Bukan soal itu.. kalo masalah biaya toh Ibu sama Ayah udah mendukung penuh.. & mereka sudah bilang nggak usah khawatir masalah biaya."
" Lalu apa kendala nya.. kamu takut aku nggak mengizin kan?." Tanya Faozan menebak².
" Nggak.. kalo itu meskipun aku belum begitu mengenal mu secara pribadi.. tapi aku yakin kamu nggak akan keberatan tentang ini."
" Itu kamu tau.. tapi kenapa kamu masih risau.. jika kamu bilang semua nya dari awal.. maka kamu nggak perlu sampai berfikir keras cuma karna masalah kecil seperti ini."
" Apakah setelah menikah kamu setuju jika kita tinggal di tempat yg terpisah?." Tanya Dara.. iya itulah masalah nya.. Dara telah mendaftar di Universitas yg ada disana.. sementara Faozan sudah pasti setelah menikah ia ingin kembali ke Lombok.
Faozan tersentak kaget mendengar perkataan Dara kali itu.. ia tak menyadari itu.
__ADS_1
Dan dia sendiri tak akan sanggup untuk tinggal di tempat yg terpisah dengan Dara.. sudah cukup selama ini mereka hanya menjalin hubungan jarak jauh.. ia sudah tak sanggup lagi.. karna alasan itulah ia memutuskan untuk segera menikahi Dara.. lalu jika seperti ini maka apa yg harus ia lakukan.
" Aku yakin kamu nggak akan mau kita menjalani hubungan jarak jauh lagi.. mengingat nanti aku adalah istrimu.. jadi tentu kamu pasti ingin aku ikut kamu kan."
" Iya.. Huuhh.. ini benar² sulit." keluh nya sambil menghembuskan nafas kasar nya.. " Di satu sisi aku ingin secepat nya menikah dengan mu.. tapi di sisi lain aku juga nggak mau melihat mu bersedih lantaran harus mengubur semua mimpi mu.. Andai aja aku tau sejak awal kalo kamu ingin kuliah dan mengejar mimpi mu dulu.. maka aku nggak akan menempatkan mu dalam kondisi ini.. tapi sekarang aku nggak bisa mundur lagi.. karna aku bahkan sudah bicara pada kedua orang tua mu kalo aku mau menikahimu." lanjut nya.
" Ibu dan Ayah sudah memikirkan itu.. kalian tak perlu khawatir.. tapi itupun kalo kalian setuju." dengan seketika suara Ayah nya Dara menyela.. Ayah nya Dara bersama Ibu nya menghampiri mereka.. kedua orang tua nya Dara telah mendengar pembicaraan mereka sejak tadi.
Faozan & Dara menatap kedua orang tua nya dengan bersamaan.
Ibu & Ayah Dara duduk di dekat mereka.
" Zan maaf jika ide Ayah ini sedikit egois menurut mu.. tapi Ayah minta sekali lagi.. agar kamu mau berkorban untuk Dara."
" Ayah." tutur Dara.
" Apa itu Ayah?." Tanya Faozan.
" Tolong tinggalah disini bersama kami.. setidak nya sampai kuliah Dara selesai setelah itu kamu bisa kembali ke Lombok untuk selama nya & tentu nya juga bersama Dara."
" Itu nggak mungkin Yah.. Faozan nggak akan bisa tinggal disini." Tegas Dara.
" Kenapa nggak bisa sayang.. jika Ayah yg meminta aku bisa melakukan nya bahkan dengan senang hati.. tapi yg aku fikirkan jika aku disini aku akan kerja apa?.. sementara aku harus menafkahi kamu bukan." jawab Faozan.
Kedua orang tua Dara tertawa mendengar nya.
" Aku nggak akan keberatan Ayah.. selama itu bisa menghasil kan uang.. dan selama Ayah mau mengajariku cara untuk menyadap karet." Tutur Faozan terus terang.
" Ayah pasti akan mengajari mu."
" Atau kalo kamu mau.. kamu bisa minta tolong Kak Daniel buat bekerja di tempat nya kerja ya mesti hanya sebagai security." Ibu nya Dara mulai memberi saran.
" Kalo itu nggak mungkin Bu.. sebab aku hanya punya ijazah SMP.. tidak SMA apa lagi Sarjana."
" Ya udah terserah Faozan aja mau nya gimana?." tutur ayah nya Dara lagi.
" Yah maaf nih sebelum nya.. aku setuju untuk kerja di kebun karet.. tapi kebun karet nya milik siapa?." tanya Faozan terus terang.
" Milik Ayah lah nak.. karna kalo milik orang lain.. hasil nya nggak akan memuaskan."
" Emang Ayah punya kebun yg nganggur gitu.. sebab jika itu mata pencaharian Ayah selama ini aku nggak enak jadi nyusahin kalian." kata Faozan lagi.
" Kamu tenang saja.. ada dua hektar kebun karet milik Ayah yg di anggurin saja.. karna kebun itu belum pernah di sadap alias jika kamu mau maka kamu adalah pemula yg menyadap nya nanti." Ayah nya Dara berkata terus terang.
__ADS_1
" Apa beda nya yg pemula sama yg telah lama di sadap?." Faozan mulai bertanya².
" Kalo yg pemula itu hasil nya belum maxsimal.. dalam satu hektar mungkin hanya bisa menghasil kan 200 kilogram perbulan.. sedang kan yg sudah lama disadap satu hektar nya bisa mencapai 400 kilogram perbulan." Pak Rahmad ayah nya Dara menjelaskan panjang lebar.
" 200 kilogram satu hektar.. artinya kalo dua hektar 400 kilogram.. lumayan lah." Cetus Faozan.
" Iya kalo kamu mau.. bilang saja kapan kamu siapa ayah ajarin.. nanti uang nya kamu ambilah buat kebutuhan kamu sama Dara.. Ayah & Ibu tak akan minta bagian.. & kalo masalah makan kamu juga nggak usah khawatir.. Ayah & Ibu masih sanggup kok.. begitu juga dengan kaliah Dara nanti nya."
" Nggak Ayah.. ntar kalo kami udah nikah biar makan kami bantu Ayah dan Ibu.". tutur Faozan.
" Udah nggak perlu.. kalian kan anak² Ayah & Ibu jadi biarin aja Ayah yg menanggung nya.. jadi uang kalian.. kalian bisa tabungkan.. siapa tau suatu saat kamu mau bikin rumah di Lombok.. jadi nggak susah lagi kan kalo kalian sudah ada tabungan saat masih disini.. dan kalian nggak akan menyusah kan keluarga Faozan yg ada disana." jelas Ayah nya Dara yg memikirkan tentang masa depan putri nya.
" Makasih Ayah.. ayah tau aja.. kalo kami memang punya impian untuk bangun rumah sendiri di Lombok." sahut Dara tersenyum dengan memeluk sang Ayah.
" Iya lah.. tak ada yg lebih penting dari kebahagian putri kecil Ayah ini." sambil mengecup kening sang putri.
Faozan hanya tersenyum lega.
" Ayah harap meskipun kamu sudah menikah kelak.. Ayah masih bisa memeluk dan mencium mu seperti ini." tutur sang Ayah lagi.
" Tentu Ayah.. karna sampai kapan pun Dara adalah putri kalian." Faozan yg menanggapi begitu.
" Iya iya.. Calon menantu Ayah memang pengertian dan dewasa." Kini giliran Ayah nya Dara yg menepuk² pelan pundak Faozan.
Faozan berserta ibu nya Dara hanya tersenyum.
" Jadi inti nya Faozan setuju kan tinggal disini bersama Ayah & Ibu sampai kuliah Dara selesai."
Ayah nya Dara mengulangi lagi.
" Setuju banget Ayah." Jawab Faozan.
" Ya sudah kalo begitu.. Ayah sudah putuskan.. 2 bulan lagi kalian menikah.. & biarkan Ayah dan seluruh keluarga yg mengurus semua nya."
Dara & Faozan hanya mengangguk.
" Dara hanya perlu fokus pada kesehatan nya.. dan Faozan tugas mu hanya membuat Dara bahagia." Tutur Ibu nya Dara.
" Insya Allah Bu." jawab Faozan mantap.
" Oh iya satu lagi.. kalo bisa hubungi orang tua mu.. siapa tau mereka mau dateng saat pernikahan mu nanti." Ayah nya Dara berkata pada Faozan.
" Aku rasa itu nggak perlu Ayah.. sebab Ayah dan Ibu nggak akan pernah peduli pada ku... tapi kalo kakek pasti akan aku hubungin." Jawab Faozan seada nya.
__ADS_1
" Ya sudah terserah kamu saja yg mana baik nya." tutur ayah nya Dara.
Faozan hanya mengangguk.. setelah semua nya selesai.. kedua ortu nya Dara beranjak meninggal kan ruangan itu.