
Setelah merasa cukup lega, Faozan kembali bicara.
Faozan.
" Maaf ya." kata nya nggak enak.
Dara.
" Iya nggak apa² kok, sekarang gimana udah sedkit lega?." Tanya Dara.
Faozan.
" Iya." Faozan menjawab seada nya.
Dara.
" Ternyata di balik sikap kamu yg sering marah², tegas, dan egois, ada kelembutan juga, sampai² kamu nangis begitu, padahal kamu itu laki² loh, emang nya kamu nggak malu nangis di depan aku begitu?."
Faozan.
" Ehehe.". sudah ada sedkit tawa yg terdengar, " aku kan juga manusia, aku punya hati, dan masalah malu, aku sama sekali nggak malu, sebab aku menangis karna aku kangen sama Nenek, aku nggak nangis karna di putusin atau di tinggalin pacar." tegas nya
Dara
" Oh iya iya, berarti kalau aku ninggalin kamu, kamu nggak akan nangis yach?."
Faozan.
" Nggak lah.". jawab nya yakin. " Tapi kalau patah hati iya."
Dara.
" Iyalah, oh iya apa sih yg paling kamu kangenin dari Nenek kamu saat ini?."
Faozan.
" Ntar dulu, eh kamu nggak tarawih emang nya?." Faozan baru menyadari karna dari tadi ia sibuk telpon lupa bahwa Dara belum pergi tarawih.
Dara.
" Mungkin aku nggak tarawih malam ini.". jawab Dara
Faozan.
" Kenapa emang nya? kalau cuma gara² aku lagi sedih, sekarang aku udah nggak apa² kok, jadi kamu bisa pergi tarawih. "
Dara.
" Iidiihh, PD banget sich jadi orang, siapa juga yg nggak tarawih cuma gara² kamu lagi kangen Nenek kamu, aku nggak tarawih karna disini lagi hujan lebat, emang nya nggak denger tuh suara air yg menetes ke atas genteng." sahut Dara.
Faozan.
" Dengar kok, aku tadi juga cuma bercanda doank, lagian PD itu perlu sayang, kalau kita sendiri nggak PD, orang lain bisa seenak nya sama kita."
Dara.
" Up to you lah, sekarang jawab pertanyaan aku tadi."
Faozan.
" Yg paling aku kangen dari Nenek adalah masakan nya, biasa nya saat buka dan sahur ia selalu memasak yg enak², tapi sekarang kami harus masak sendiri untuk buka puasa dan juga sahur, dulu waktu masih ada Nenek, walaupun makan cuma sambel doank, tapi rasa nya enak banget." ia mulai antusias saat menceritakan tentang Nenek nya.
Dara.
" Masakan yg paling sering Nenek kamu masakin saat sahur apa??."
Faozan.
" Plecing."
Dara.
" Apaan tuh?." Dara bertanya heran, nama nya aja aneh.
__ADS_1
Faozan.
" Itu loh sayang, makanan khas Lombok."
Dara.
" Oh, bahan² nya apa aja sih, dan itu sejenis apa makanan nya."
Faozan.
" Plecing itu sebenar nya nama sambel khas daerah Lombok, bisa di makan ama apa aja, tergantung kita, tapi yg sering Almh Nenek bikin yaitu plecing kangkung."
Dara.
" Bikin plecing kangkung itu gimana sich?, kamu tau nggak cara nya?."
Faozan.
" Gampang kok, kangkung nya di rebus ama air mendidih di kasih garam secukup nya, setelah kira² setengah mateng kangkung nya di angkat, kemudian di cocol ama sambel."
Dara.
" Sambel nya apa aja, sambel kacang atau sambel apa sih?." Dara menyela tak sabar.
Faozan.
" Bisa sambel kacang, bisa juga sambel terasi biasa."
Dara.
" Yg kamu sering makan sambel apa?."
Faozan.
" Sambel terasi, beda nya ama sambel terasi biasa disini dia di kasih merica, dan air jeruk juga, iih pokok nya mantep banget dech."
Dara.
" Oh iya iya."
Faozan.
Dara
" Tapi itukan demi kebaikan kamu.". Dara menyela lagi.
Faozan.
" Iya benar banget, tapi saat itu aku nggak pernag menyadari nya, aku selalu berfikir kalau Nenek nggak sayang pada ku, tapi saat ini aku sadar, dan aku menyesal karna aku nggak pernah dengar nasehat nya, dan lebih sedih nya lagi, aku belum bisa ngasih apa² buat Nenek untuk membalas budi nya, aku tau meskipun sebanyak apapun aku berusaha untu membalas budi nya, itu nggak akan pernah terbalas, apa lagi saat ini Nenek sudah pergi untuk selama nya." Lagi² suara nya terdengar bergetar saat mengatakan semua itu.
Dara
" Sudah lah, nggak perlu di sesali, yg terpenting sekarang kamu do'a in Nenek kamu disana, karna hanya itu yg ia butuh kan saat ini, dan kamu juga kalau bisa dengar kan nasehat Nenek kamu, nggak usah ngelakuin hal² yg nggak ada faedah nya."
Faozan.
" Iya iya Bu ustadzah, lama² kamu lebih bawel dari emak² yach, bahkan lebih cerewet dari Nenek." kata nya setengah mengeluh.
Dara.
" Aku cerewet dan bawel kan karna aku sayang sama kamu."
Faozan.
" Iya aku tau kok, dan itulah yg membuat aku nggak mau kehilangan kamu."
Dara.
" Ya elah ujung² nya gombal lagi."
Faozan.
" Nggak sayang, aku nggak gombal serius, sebelum ada kamu, maksud nya sebelum aku kenal kamu, sejak kepergian Nenek nggak ada yg peduli pada ku, mau aku keluar malam kek, mau aku nggak pulang kek, mau aku main judi kek, mau aku minum² keras kek, mau ikut drag kek, nggak akan ada yg marah², tapi sejak aku kenal kamu, aku di larang inilah di larang itulah, dan itu membuat hidup ku seakan berarti bagi orang."
__ADS_1
Dara.
" Justru itu, maka nya kamu jangan nge bantah kalau aku kasih tau, sekarang gimana? apa kamu masih sering keluyuran malam nggak jelas, masih suka judi, masih suka miras, dan lain sebagai nya itu?."
Faozan
" Nggak kok sayang, kan aku udah janji ama kamu, aku akan nge jauhi semua itu, kamu tau sendiri gimana aku sekarang, siang kerja, malam hanya ke mesjid lalu telpon kamu." apa yg di katakan Faozan itu emang benar, seingat Dara akhir² ini Faozan emang sudah banyak berubah, nggak seperti dulu, dimana ia suka judi dan miras.
Yah itulah Faozan di usia nya yg masih remaja tentu saja ia ikut pergaulan anak jaman sekarang, syukurlah sekarang ia mulai menjauhi semua itu, hal itu di katakan sendiri oleh salah satu teman dekat Faozan, yg beberapa waktu yg lalu sempat chatt sama Dara, disana ia mengatakan untuk tidak menyakitu Faozan, sebab sejak kenal Dara, ia mulai menjadi lebih baik, bahkan bisa di bilang berubah 75%, itu artinya masih ada ya yg belum berubah, tapi nggak apa² manusia itu butuh proses untuk berubah menjadi lebih baik.
Dara
" Benar kamu udah nggak minum lagi sekarang?." tanya Dara tegas.
Faozan.
" iya benar, kalau nggak percaya kamu boleh tanya sama Allah ia tau segala nya."
Dara
" Jangan boong, aku nggak yakin kamu nggak pernah minum lagi sekarang, sebab nggak mungkin sehabis makan atau dalam sehari² kamu nggak minum air mineral atau es."
Faozan.
" iiihh kamu bener² yach, tentu saja aku minum kalau air putih sama es, yg aku maksud adalah miras, sayang."
Dara.
" Tapi yg aku tanya tadi kan, benar kamu udah nggak minum lagi sekarang?, bukan benar kamu udah nggak miras lagi sekarang?."
Faozan
" Iya iya, aku yg salah, susah berdebat ama kamu, pasti aku yg selalu kalah."
Dara
" Nah itu tau, pinter nya kesayangan aku."
Faozan
" Nggak usah copas, kesayangan aku itu adalah kata² ku."
Dara
" Ehehe, nggak apa² lah sekali² aku copas, oh iya sayang, udah malam aku juga udah ngantuk banget, boleh aku tidur?."
Faozan
" Nggak, malam ini aku nggak akan izinin kamu tidur."
Dara.
" Iiih kamu jahat, kamu tega." kata Dara dengan manja dan juga cemberut.
Faozan.
" Aku nggak setega itu kok sayang, ya udah tidur gih, tapi inget tidur ya, jangan telponan atau chatt an ama cowok lain,."
Dara.
" Iya iya."
Faozan.
" Jangan iya² doank, awas kalau aku liat kamu masih on, jangan harap aku nggak marah ya."
Dara.
" iya sayang, aku lansung tidur."
Faozan.
" Bagus, ya udah sana, metz bobok sayang ku, cinta, manjaku, manis ku, baby ku, I love you, eeeemmmuuuaccch."
__ADS_1
Dara
" Love you to." untuk kemudian Dara langsung menutup telpon nya.