
Mereka ber 4 hanya saling bertukar pandang mendengar jawaban Faozan.
Siapakah Faozan?.. itu yg jadi pertanyaan mereka.
" Apakah kamu teman nya Dara?." tanya Ayah nya Dara.
Faozan hanya mengangguk.
" Aku baru liat kamu.. orang mana kamu?." giliran Daniel yg bertanya.
" Saya asli Lombok bang." jawab nya seada nya.
Mendengar jawaban Faozan barusan.. sekilas ada senyum di wajah Daniel.. ia tahu kalau Faozan ini adalah pacar Dara.. karna sering ia bicara dengan Faozan saat Dara lagi ada kegiatan dan Faozan telpon maka Daniel sering mengangkat nya.
" Oh kamu Zan pacar nya Dara?." tandas Daniel.
Lagi² Faozan hanya mengangguk.
" Bukan kah kamu kerja di Malaysia Nak?." Ibu nya Dara angkat bicara.
" Iya Bu.. tapi ketika saya mendapat kabar bahwa hari ini Dara akan dioperasi saya memutuskan untuk kesini... maaf kalau kalian semua tak suka dengan kehadiran saya." kata nya rendah hati.
" Tidak seperti itu.. tapi kapan kamu berangkat dari Malaysia?." ayah nya Dara yg bicara.
" Tadi pagi Pak.. penerbangan jam 8 tadi.. kebetulan Paman saya membelikan tiket yg tak perlu transit.. jadi saya langsung dari bandara kuala lumpur ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 Palembang."
" Oh.. siapa yg memberitau kamu tentang Operasi nya Dara?." tanya istri nya Daniel.
" Salah satu teman nya Dara Mbak." jawab Faozan.
" Pasti Dessy." Celetuk Daniel.
" Iya Bang benar saya di beritahu oleh Dessy... Oh iya Bang bagaimana keadaan Dara sekarang?." Faozan mulai bertanya.
"Sejak jam 11 tadi ia masuk ruang Operasi tapi sampai sekarang Operasi nya belum juga selesai.. ntah apa yg terjadi didalam." Ibu nya Dara yg menjawab.
" Ya Allah kasihan Dara." Gumam Faozan terduduk saja.
__ADS_1
Keheningan kembali terjadi.. karna masing² sibuk berfikir sendiri.
" Nak Faozan.. kamu pasti sangat lelah apa kamu nggak akan istirahat dulu.". Ayah nya Dara mulai bicara menyadari raut wajah Faozan yg begitu lesu dan lelah.
" Nggak kok Pak.. Saya hanya ingin disini menunggu Dara sampai ia sadar kembali.. tapi itupun jika kalian semua mengizin kan." jawab nya terus terang.
" Nggak usah panggil Bapak.. panggil Ayah saja seperti Dara."
" Baik Ayah." kata nya kemudian.
" Apa kamu sudah makan?." tanya Daniel.
" Belum Bang."
" Mau makan dulu ayo ikut Kakak." tawar Daniel.
" Nggak Bang.. saya belum lapar."
" Baiklah jika begitu.. tapi ingat jangan sampai saat Dara siuman nanti ia melihat mu seperti ini.. yg begitu lesu dan tak bersemangat.. sebab ia pasti sedih jika kamu sedih karna nya." tegas Daniel.
" Iya iya.. tapi nggak perlu seformal itu juga Dek bicara nya." Goda Daniel.
" Maksud Abang?." tanya Faozan bingung.
" Bicara lah seperti kamu bicara pada Dara.. nggak perlu pake saya.. cukup aku saja."
Faozan sedikit tersenyum.
" Dan iya rencana nya akan berapa hari kamu disini?." tanya Daniel lagi.
" Belum tau Bang.."
" Jangan Abang tapi kakak.. kamu tau dalam bahasa daerah sini abang itu artinya merah." Daniel menyergap bicara Faozan.
" Ii.. iya kak.". jawab nya.
" Kenapa belum tau?."
__ADS_1
" Karna jika kalian setuju aku mau ajak Dara menikah setelah itu baru kami akan kembali ke Lombok." saat bicara seperti itu Faozan hanya tertunduk saja.
" Apa kamu serius?." tandas Daniel.
" Iya kak." jawab nya takut².
" Liat aku.. jangan cuma menunduk saja.". tegas Daniel.
Mau tak mau Foazan menatap muka Daniel.
" Ide yg bagus.. nanti setelah Dara pulih kita akan bahas masalah ini lebih lanjut lagi.. sekarang kita fokus kan dulu perhatian kita pada Dara.. berdo'a semoga ia baik² saja." kata Daniel kemudian sambil menepuk pundak Faozan.
Faozan hanya mengangguk.
" Dan iya Zan.. selama disini kamu mau tinggal dimana?." tanya Ayah nya Dara.
Faozan hanya bisa diam ia sendiri belum memikirkan itu..
Melihat kebingungan Faozan.. Kedua orang tua Dara bisa mengerti kalau Faozan pasti tak tau mau tinggal dimana.
" Kamu bisa nginap di rumah.. ada kamar kosong disana dulu nya Kak Daniel yg nempati tapi sekarang dia udah punya rumah sendiri." Ibu nya Dara yg mengatakan itu.
" Benar Zan.. dari pada kamu nginap di penginapan kan uang nya lumayan buat biaya pernikahan mu dan Dara nanti." sambung Daniel.
Faozan menatap Daniel sekilas mendengar perkataan Daniel.. ia sebenar nya ragu apakah uang nya akan cukup untuk biaya pernikahan nya nanti.
Melihat kebingungan lagi² terpancar di mata Faozan Daniel terkekeh.
" Tenang lah aku hanya bercanda.. nanti mengenai pernikahan... kamu nggak usah khawatir kami yg akan urus.. yg perlu kamu persiapkan hanya mahar untuk Dara.. karna itu harus di beli dengan uang mu sendiri." Kata Daniel seada nya.
Faozan mengangguk tenang.. begitu juga kedua orang tua Dara.. sekilas mereka menampakan senyuman.
Dalam hati nya Faozan sungguh bersyukur karna tak ada respon negatif dari keluarga Dara.. yg ada malah semua begitu baik dan ramah.
Semula ia sangat takut khusus nya pada Daniel kakak nya Dara.. karna Foazan pernah di marahin Daniel lantaran selalu telpon padahal sudah larut malam.
Namun tampak nya benar yg dikatakan Dara.. Daniel bersikap begitu hanya karna ia tak mau Dara sakit sebab saat itu Daniel sudah tau kalau Dara menderita kanker Otak... Dara saja yg tak memahami itu.
__ADS_1