
Sebuah pesan chatt masuk di inbox Faozan.. yg tak lain itu adalah pesan dari Tiana.
Faozan pun membuka nya.
“Hy Ozan.” itulah isi pesan chatt yg di kirim Tiana lewat mesengers.
Faozan hanya membaca nya.. dia sama sekali tak berniat untuk membalas nya.
Entah apa tujuan Tiana mengerim pesan chatt itu dia tak tau.. yg pasti dia tak ingin menjalin hubungan apapun lagi dengan Tiana meskipun hanya sebatas teman.
Bukan lantaran Faozan sakit hati.. tapi karna dia sadar akan status nya sekarang.. bukan lah hal yg pantas seorang suami menjalin pertemanan dengan mantan pacar nya.
Karna tak ada balasan dari Faozan.. Tiana mencoba mengerim chatt lagi.
“Eehmmz.. udah sombong ya sekarang mentang mentang hidup nya udah enak.” begitu lah isi pesan chatt kedua Tiana.
Membaca nya Faozan hanya mengambil nafas dalam.
“Apa sich mau kamu Ti.” gumam Faozan kesal.
Namun kali itu Faozan membalas pesan chatt nya.
“Ada apa Ti?.” itu balas Faozan.
Saat itu Dara sudah selesai mandi & melihat Faozan tengah serius dengan ponsel nya.
“Loh kata nya tadi mau tidur.. kok malah sibuk main hp.. chatt ama siapa hayoo.” tutur Dara setengah menggoda.
Namun perkataan Dara sukses membuat jantung Faozan terlonjak keras.
Ia benar benar bingung harus jawab apa kepada istri nya.. jika dia salah bicara sedikit saja pasti terjadi pertengkaran.. sedangkan itu sama sekalu tak Faozan ingin kan.
Mendengar tak ada jawaban dari Faozan Dara menatap suami nya itu sekilas.. kemudian dia melanjutkan kegiatan nya di depan meja rias.
“Sayang kok muka mu seperti pencuri yg sudah tertangkap basah gitu.” tutur Dara sambil tertawa pelan.
Sebenar nya dia tak ada niat untuk mencurigai suami nya itu.. Dara percaya sepenuh nya terhadap Faozan.. tapi reaksi Faozan membuat nya bertanya tanya.
__ADS_1
“Kamu bicara apa sich.” Baru lah kali itu Faozan menanggapi perkataan Dara.
“Bercanda Sayang.” lekas lekas Dara bicara lagi..
Faozan pun mulai tersenyum mendengar hal itu.. dengan cepat dia menghapus pesan nya.. kemudian meletak kan ponsel tersebut diatas nakas yg ada di sebelah tempat tidur mereka.
Lalu dengan pelan Faozan menghampiri Dara yg tengah asyik merias diri.
Faozan memeluk Dara dari belakang.. dengan meletakan kepala nya di atas pundak Dara.
Dara melihat hal itu dari cermin.. bagaimana wajah suami nya saat ini.
Sekilas Dara menoleh dan tersenyum.. Faozan pun mencium sekilas pipi Dara.
“Aku sayang kamu.” ucap Faozan lembut.
“Iya aku tau.” sahut Dara tersenyum.. kemudian dengan pelan dia melepaskan tangan Faozan dari perut nya.
Dara berdiri dan berbalik menatap sang suami.. dengan tangan Faozan masih ada dalam genggaman Dara.
Dara mengamati wajah suami nya yg hari itu benar benar terlihat tak biasa menurut nya.
“Ada apa? Kok kamu natap aku begitu?.” tanya Faozan yg menyadari tatapan Dara bebeda dari biasa nya.
“Nggak apa apa.. hanya saja aku ngerasa hari ini kamu terlihat lebih ganteng dari biasa nya.” Dara demikian mencoba untuk menutupi kecurigaan nya.. bahkan sambil tersenyum lembut.
Perkataan Dara berhasil membuat raut wajah Faozan menjadi begitu ceria.
“Makin hari kamu makin gombal aja ya.” sahut Faozan dengan tertawa pelan.. bahkan sambil mencubit lembut pipi Dara.
Dara hanya menanggapi nya dengan tertawa pelan.. Kemudian Dara pun duduk di tepi ranjang.. Faozan menyusul nya dengan duduk di sebelah kiri Dara.
“Sayang aku mau ngomong.” tutur Dara mulai serius.
“Apa?.” sahut Faozan dengan harap harap cemas.. takut Dara bertanya lagi mengenai dia chatt dengan siapa tadi.
“Gini..” Dara menghentikan bicara nya sejenak.. dan menoleh pada Faozan yg saat itu mulai terlihat resah.
__ADS_1
“Kok nggak di terusin.” tutur Faozan menatap sang istri.
“Ada apa dengan mu?.” tanya Dara.
“Maksud nya?.” Faozan balik bertanya
“Dari tadi aku perhatiin kamu terlihat resah.. bahkan kadang terlihat seolah kamu sedang menutupi sesuatu dari ku.. Apakah kamu lagi ada masalah?.” Dara berkata terus terang.
“Nggak ada kok Sayang.. itu hanya perasaan kamu saja.. semua nya baik.. aku juga nggak resah ataupun bingung.. apalagi merahasiakan sesuatu dari mu.” jawab Faozan datar.. tapi sekilas pun dia tak berani menatap mata Dara.
"Yakin?.” tandas Dara.
“Yakinlah Sayang.. selama kamu bersama ku.. masalah apa yg akan membuat ku merasa tak tenang.. nggak ada kan.” sahut Faozan untuk membuat Dara lebih merasa yakin lagi.
Dara hanya tersenyum lembut.
“Bibir kamu mungkin bisa berkata bohong.. tapi tidak dengan mata mu Sayang.” sahut Dara dalam hati.
“Tapi apa sich yg begitu mengganggu fikiran mu.. apa yg kamu sembunyiin dari aku.” gumam Dara dalam hati.. sambil tetap tersenyum dan menatap sang suami.
“Kok diem?.” tanya Faozan.
“Nggak apa apa.” sahut Dara masih dengan senyuman lembut.
“Aku cuma mau bilang ke Kamu.. besok Dr.Farez mau mengajak ku makan katanya sambil membahas tentang RS.. apakah aku boleh pergi?.” Dara mengalihkan topik pembicaraan.
Tapi memang benar ada nya Dr.Farez memang mengirim chatt ke Dara dan mengajak Dara pergi.. alasan nya seperti kata Dara mau membahas soal pekerjaan.
“Sejujur nya aku agak berat sich Sayang.. tapi jika ini masalah kerjaan kamu di RS iya aku izinin kok.” sahut Faozan ragu ragu.. sebab dia merasa tak rela jika Dara harus pergi bersama lelaki lain.. walaupun dia tau lelaki itu hanya rekan kerja istri nya.. tapi tetap saja ada rasa cemburu dihati nya.
Namun dia harus membuang jauh jauh fikiran buruk itu demi kelangsungan karir istri nya.. lagi pula dia harus bisa percaya sepenuh nya terhadap sang istri.
Jadi meskipun berat dia mengizinkan.
“Benar kamu ngizinin?.” tandas Dara.
“Iya Sayang.. asal kamu nggak macem macem aja ama tuh Dokter.” sahut Faozan dengan tersenyum.. sambil mengelus lembut pipi istri nya itu.
__ADS_1
“Siap Bos.. Aku nggak akan macam macam kok.. kan di hatiku ini hanya ada kamu.” sahut Dara mencoba gombal lagi.
Tapi hal itu cukup untuk membuat Faozan merasa lega mendengar nya dan mulai tertawa.