
Setelah berjalan kaki kira kira selama lima menit.
Tibalah mereka di depan sebuah rumah sederhana.
Rumah yg hanya memiliki dua kamar.. satu ruang tengah.. & dapur..
Persis seperti rumah bangunan pemerintah.
kamar mandi & toilet ada di tempat yg terpisah.
Dengan sebuah dinding yg terbuat dari bambu.
Begitu tiba disana pintu nya tertutup rapat.. pasti kakek & juga adik adik nya Faozan telah tidur.. maklum udah malam.
Dengan pelan Faozan mulai mengetuk pintu rumah nya.
Tok.. Tok... Tok.
" Papuk ( Kakek)." panggil Faozan kali itu dia menggunakan bahasa daerah nya.
Tak ada respon dari dalam.. suara orang yg membuka pintu juga belum ada.
Maka sekali lagi Faozan mengetuk pintu nya.
Tok.. Tok.. Tok.. Tok..
" Papuk (kakek.)." Panggil nya lebih keras lagi.
Sama seperti tadi tak ada sahutan dari dalam rumah tersebut.
Maka untuk yg ketiga kali nya Faozan mengetuk pintu lagi.
Tok..Tok..Tok..
" Asalamualaikum." Kali itu Dara yg mengucap salam.
" Waalaikum sallam." Barulah terdengar sahutan dari dalam sana.. khas seperti suara orang yg bangun tidur.
Tak lama setelah itu.. pintu mulai terbuka.
Seorang lelaki muda yg membuka nya.. Dara memperhatikan lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dara pernah melihat lelaki itu lewat fhoto & itu pun hanya sepintas.
Tapi ia tahu betul lelaki itu pasti adek nya Faozan.
" Ozan." Tutur adek nya dengan senyum mengembang di wajah nya.
" Papuk Ozan wah jak olek ( Kakek Ozan udah pulang)." Adik nya Faozan yg bernama Randi itu memanggil kakek nya.
Dara yg tak mengerti perkataan adik nya Faozan itu hanya menggaruk garuk kepala nya yg tak gatal.
Faozan pun mengajak Dara masuk.. belum sempat mereka duduk seorang lelaki tua yg kira kira berumur 65 tahun menghampiri mereka.
" Papuk ( Kakek)." Sapa Faozan tersenyum.
__ADS_1
" Berembe kabar tie Zan ( Bagaimana kabar kamu Zan?)." Tanya sang kakek lalu duduk si salah satu kursi rotan yg ada di ruang tengah tersebut.
" Alhamdulillah sehat." Jawab Faozan seada nya.
Kakek nya mengalihkan pandangan pada Dara yg saat itu hanya diam.. karna ia tak tahu bagaimana harus bicara pada kakek nya Faozan tersebut.
" Ye tetu saq no seninem? ( apa benar dia istrimu?)." kakek nya Faozan bertanya pada Faozan sambil menunjuk Dara.
" Aok ( iya)." jawab Faozan.
Dara hanya menatap Faozan karna dia tak mengerti apa yg mereka bicara kan.
Faozan hanya tersenyum karna ia tahu Dara pasti tak mengerti pembicaraan mereka.
" Sai aran? ( siapa kamu atau bisa juga diartikan siapa namamu)." tanya Kakek nya Faozan pada Dara.
Dara hanya melotot menatap Faozan.
" Eem papuk ( kakek)." Faozan mulai bicara pada kakek nya.. " Ngeraos kembek kadu bahase indonesia ( bicaralah pakai bahasa indonesia saja)."
" Oh iya baiklah." sahut kakek nya Faozan.
" Siapa nama kamu?." barulah kakek nya Faozan bicara dengan bahasa indonesia pada Dara.
" Dara kek." sahut Dara tersenyum.. setelah itu dia menyalami kakek nya Faozan dan mencium punggung tangan nya.
" Selamat datang di Lombok.. dan semoga saja kamu betah disini.. mohon maaf jika kira nya kamu kurang nyaman berada disini.. inilah gubuk kami.. kakek harap kamu tak keberatan tinggal disini walaupun kami hanya orang miskin." Tutur kakek nya Faozan rendah diri.
" Kenapa kakek bicara begitu.. kenyaman bukan semata mata karna kemewahan.. tapi kenyaman akan ada jika antara keluarga ada kehangatan.. & aku bersyukur karna kakek mau menerima ku disini.. dan mengizin kan aku menjadi bagian dari keluarga ini." kata Dara apa ada nya.
Kakek nya Faozan tersenyum penuh haru.
" Ah kakek bisa saja." sahut Dara tersenyum.
" Oh iya apa kalian sudah makan?." Tanya kakek nya.
" Udah kek.". sahut Dara & Faozan bersamaan.
" Kalo begitu istirahat lah."
Faozan & Dara hanya mengangguk.
Kemudian Faozan mengajak Dara ke kamar nya.
Selama Dara & Faozan bicara pada kakek nya tadi.. Randi adek nya Faozan memindahkan barang barang nya ke kamar sang kakek.
Begitu masuk kamar tersebut.. lama Dara hanya berdiri menatap ruangan itu.. bukan karna kamar nya kecil dan hanya ada sebuah kasur santai disana.
Tapi karna ruangan itu begitu kotor dan tidak tertata rapi.
Kamar yg hanya berisikan sebuah kasur santai & sebuah keranjang pakaian.
" Ya Tuhan.. jika begini kemana aku harus menaruh barang barang ku." Gumam Dara dalam hati.
Sambil terus memutari ruangan itu dengan mata nya.
__ADS_1
Faozan yg dari tadi sudah duduk di kasur tersebut hanya menatap Dara bingung.
" Sayang kok bengong aja sich??.. kenapa kamu merasa sesak karna kamar nya tak seluas kama mu.. tempat tidur nya juga hanya seadanya." Tanya Faozan kemudian.
Dara hanya menggelengkan kepala nya sambil terus menatap Faozan.
" Lalu kenapa cuma berdiri saja di ambang pintu?." Tanya Faozan lagi.. " Ayo masuk lah kita tidur udah malam nih." lanjut Faozan.
Mendengar perkataan Faozan dengan pelan Dara mulai melangkahkan kaki nya untuk masuk dan mendekati suami tercinta nya itu.
Namun baru saja ia menapak kan kaki nya di dalam ruangan itu.. kaki nya sudah terasa kotor karna debu dan pasir yg ada di lantai.
" Astaga." Umpat Dara sendiri.
" Kenapa?." Tanya Faozan heran
" Nggak apa apa kok." Sahut Dara tersenyum.
" Hanya saja aku bingung mau taruh barang barang aku dimana?." lanjut Dara.
" Kamu letakan saja dimanapun kamu mau.. untuk malam ini saja.. besok baru kita beli lemari pakaian.. maklum kamu kan tau selama ini hanya kami para lelaki yg menghuni rumah ini jadi mana ada tempat pakaian apa lagi meja rias seperti di rumah mu itu." kata Faozan rendah diri.
Dara hanya mengangguk.. kemudian dia pun meletakan barang barang nya di lantai.
Namun ia tak langsung ke kasur.. ia masih terus menatap Faozan.
" Ada apa?." Tanya Faozan tak mengerti.
" Ehehe.. bisa minta tolong nggak?." kata Dara datar.
" Apa?." tanya Faozan.
" Bisa kamu ambilkan sapu.. karna maaf ya bukan nya aku sok kebersihan atau apa lah.. tapi tempat ini banyak debu dan juga pasir nya." Tutur Dara hati hati takut Faozan tersinggung.
Faozan berdiri dan menghampiri Dara.
Sebenar nya Dara sudah sedikit cemas.. takut nya Faozan tersinggung.
Begitu berada di dekat Dara.. Faozan meraih wajah nya dan mengecup kening nya.
Dara hanya tersenyum menatap Faozan.
Perasaan nya lega.
" Eem istri ku manis banget sih malam ini." Kata Faozan kemudian yg membuat Dara menjadi bingung.
" Manis kenapa?." akhir nya Dara bertanya dengan menyatukan kedua alis nya.
" Karna kamu nyuruh aku buat ambil sesuatu dengan sangat manis dan juga manja."
" Iya lah.. masa mau nyuruh orang sambil marah marah.. mana ada yg mau di suruh." sahut Dara tertawa pelan.
" Ya udah sana ambil sapu nya." lanjut Dara lagi.
Faozan keluar kamar dan mengambil sapu nya.
__ADS_1
Setelah menyapu bersih tempat itu.. Dara meminta Faozan untuk menemani nya mencuci tangan dan kaki.
Untuk kemudian mereka tertidur.