
Hari terus berlalu, tak terasa sudah masuk bulan suci Ramadhan, dan bulan suci Ramadhan ini makin berkesan lagi bagi Dara dan Faozan, karna ini adalah bulan Ramadhan pertama setelah mereka pacaran, khusus nya Faozan, di bulan ini ada yg membangunkan nya saat sahur, bahkan saat berbuka pun ada yg menemani walau hanya lewat telpon, tapi itu sudah cukup membuat nya bahagia.
Karna perbedaan waktu satu jam, itu membuat mereka bisa saling menemani saat sahur dan berbuka puasa.
Malam itu setelah shalat isya, Faozan duduk sendiri di rumah nya, kakek dan adek nya sudah pergi ke Mesjid untuk tarawih, sementara ia sendiri tadi nya juga mau tarawih, tapi ia melihat Ella yg hanya sendirian di rumah, karna Ella lagi nggak enak badan maka nya ia tak ikut bersama kakek nya, Ella adalah adik sepupu nya Faozan, kedua orang tua Ella juga sama seperti hal nya kedua orang tua Faozan, mereka menitip kan Ella kepada kakek dan nenek nya.
Sambil duduk Faozan menikmati sebatang rokok dan juga segelas kopi, setelah habis sebatang rokok ia langsung menghubungi Dara, Faozan tau benar jika disana sudah ba'da isya maka di tempat Dara pasti baru usai magrib, itulah sebab nya ia menunggu beberapa saat.
Benar dugaan nya, saat ia menelpon Dara tak butuh waktu lama, begitu masuk tak lama kemudian langsung di jawab, itu artinya Dara juga pasti lagi duduk menunggu waktu isya.
Dara.
" Hallo Asalamualaikum."
Faozan.
" Waalaikum sallam, lagi ngapain sayang?." itu lah Faozan pasti langsung bertanya.
Dara.
" Lagi duduk aja, baru beres makan." jawab Dara seadanya. " kamu sendiri lagi apa?." ia balik bertanya.
Faozan.
" Aku juga lagi duduk."
Dara.
" Oh, emang nya kamu nggak tarawih tah?." Dara bertanya demikian karna biasa nya jam segitu Faozan pasti udah di mesjid.
Faozan.
" Nggak, Ella nggak ada teman nya, soal nya ia lagi demam maka nya nggak ikut kakek."
Dara.
__ADS_1
" Si Ella demam, udah di kasih obat belum?." tanya Dara tulus, meski ia belum kenal Ella tapi mendengar Ella sakit ia merasa kasihan, apa lagi ia tau, di rumah kakek nya Faozan nggak ada seorang wanita yg bisa mengurus mereka.
Faozan.
" Udah kok, tadi udah di bawa ke puskesmas sama kakek, dan ini cuma demam biasa." Apa yg di katakan Faozan itu memang benar adanya, Ella memang udah di bawa ke puskemas tadi siang.
Dara.
" Oh syukurlah kalau begitu, kamu jangan tinggalin dia sendiri ya, kasihan."
Faozan.
" Iya sayang pasti." Saat itu di sebrang sana terdengar suara tangis anak kecil, dan itu adalah Ella, bergegas Faozan melihat nya, sebelum itu ia sempat berkata pada Dara. " Ntar dulu yach sayang, Ella nangis, aku mau liat dia, bentar doank." tutur nya, kemudian tanpa menunggu respon dari Dara ia langsung menghampiri Ella.
Ella masih menangis sambil berjalan menghampiri Faozan yg kini juga bergerak maju untuk mendekati Ella.
Begitu sudah berada di dekat sang kakak, Ella langsung memeluk nya, Faozan pun menggendong nya menuju ruang tengah dimana ia sedang duduk tadi, sebab ponsel nya masih ada disana, Faozan mengambil ponsel nya dan kembali ke kamar tidur Ella.
Namun Ella masih terus menangis, bahkan saat Faozan meminta nya berbaring dia menolak dan makin menangis, jadi mau tak mau Faozan tetap menggendong nya, padahal Ella bukan bayi lagi, umur nya udah 5 tahun, bahkan udah TK malah, tapi kayak nya ia lagi manja saat itu.
Faozan mencoba menenangkan Ella yg masih menangis.
Faozan.
Ella.
" Ka.. kak.. Ozan, Nenek mana?." tanya Ella, pertanyaan Ella membuat hati Faozan bagai disayat², bagaimana tidak begitu, Ella menanyakan Nenek nya yg telah meninggal kira² 8 bulan yg lalu.
Faozan mengambil nafas dalam mencoba untuk menenangkan diri nya, setelah sedikit tenang ia menjawab pertanyaan Ella.
Faozan.
" Ella, Nenek kan udah pergi." kata nya tenang, Ella masih kecil ia mana tau artinya meninggal dunia.
Ella.
__ADS_1
" Oh ke mesjid ya kak Ozan?." sama seperti tadi untuk beberapa saat Faozan terdiam, dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Ella, anak seusia dia belum ngerti apapun.
Akhir nya Faozan hanya mengangguk kan kepala nya.
Ella.
" Lalu kakek kemana?."
Faozan.
" Kan pergi tarawih tadi." Ella langsung tertawa kecil mendengar nya, " ya sudah kamu tidur lagi." Ella pun hanya menurut, ia mencoba memejamkan mata nya sambil terus memeluk Faozan.
Melihat Ella yg sudah diam, barulah Faozan kembali menempel kan ponsel nya di telinga.
Dara memang tak melepas ponsel nya itu, sebab ia menggunakan headsed, hingga selama menunggu Faozan ia bisa sambil main game.
" Hallo." terdengar suara Faozan di sebrang sana.
Dara.
" Iya, gimana Ella udah diam?."
Faozan.
" Iya ini masih di pangkuan ku." jawab Faozan, saat itu suara nya masih biasa saja.
Dara
" Kenapa tadi ia menangis?." tanya Dara, pertanyaan Dara kali itu membuat nya sedih.
Faozan.
" Dia nanyain Nenek.". suara nya mulai bergetar karna menahan tangis. " Dia bahkan merengek minta ketemu Nenek." Faozan sudah tak bisa melanjutkan bicara nya lagi, yg terdengar saat ini hanya suara isak tangis, tapi karna ia laki² nggak mungkin ia menangia histeris.
Heeekkks.. heekkkss.. heekks..
__ADS_1
Mendengar hal itu Dara pun tak bisa berkata apapun lagi, ia bingung harus bicara apa, dia juga sedih mendengar nya, tapi disuatu sisi ada rasa ingin tertawa juga, karna seorang lelaki yg selama ini begitu tegas, dan egois bisa serapuh itu.
Dara mengambil nafas dalam dan membuang nya pelan, dan di biarkan nya Faozan menangis dulu, fikir nya biar beban di hati nya sedikit berkurang.