
Setelah pertengakaran tadi, untuk membuat diri nya lebih tenang Dara mengambil air wudhu kemudian shalat Isya karna ia memang belum shalat Isya tadi.
Usai shalat Isya ia memutuskan untuk tidur saja.
Kira² 15 menit setelah ia berbaring di tempat tidur, dan saat itu ia baru saja mau terlelap, ponsel nya berdering, ternyata Faozan yg kembali menelpon.
Panggilan pertama Dara abaikan begitu saja, maka nya Faozan mencoba menghubungi sekali lagi, dan panggilan kedua akhir nya dengan perasaan yg masih kesal Dara menerima nya.
Faozan.
" Hallo Asalamualaikum." Faozan mengawali pembicaraan, suara nya terdengar sudah biasa saja.
Dara.
" Waalaikum sallam." Jawab Dara tak bersemangat, karna sejujur nya ia masih marah, aneh bukan Dara sendiri yg bikin masalah tapi malah ia yg sangat marah.
Tapi kemarahan Dara wajar, ia marah atas kata² kasar yg di ucapkan Faozan tadi, namun jika kita memandang dari sudut pandang Faozan, ia juga tak dapat disalahkan, sebab saat seseorang sedang marah sudah pasti ia tak dapat mengontrol diri, baik melalui ucapan ataupun tindakan, khusus nya saat seseorang masih di usia Faozan yaitu usia remaja dimana ia selalu merasa selalu benar.
Harus nya sebagai yg lebih dewasa Dara bisa mengalah dengan cara diam misal nya, tapi tidak karna Dara itu keras kepala jadi mana mau dia ngalah, terutama karna Dara itu sebenar nya umur nya saja yg dewasa, namun kelakuan nya masih kanak², mungkin karna ia sedikit dimanja oleh keluarga nya, sebab dalam keluarga nya ia anak perempuan satu² nya.
Faozan.
" Kemana aja sich, kok baru diangkat telpon nya." mulai tuh bicara nya bikin jengkel.
Dara.
" Tadi aku lagi shalat Isya, ini aja baru selesai." jawab nya lagi² bohong, namun kali ini bohong demi kebaikan sebab kalau ia bilang ia sengaja nggak angkat maka masalah akan semakin rumit.
Faozan.
" Oh, aku fikir kamu sengaja nggak angkat karna nggak mau aku ganggu." bicara nya bikin naik darah.
Dara.
" Kalau kamu bicara cuma buat lanjutin berantem nya, lebih baik kita lanjut besok aja ya, aku mau tidrur udah ngantuk."
Faozan.
__ADS_1
" Ya udah tidur aja terus nggak usah peduliin aku, toh aku juga nggak penting." lagi² mau cari ribut. " Maaf sudah ganggu Asalamualaikum."
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Dara lagi² Faozan memutus telpon nya.
"Benar² udah nggak waras kayak nya ini orang, iiih sebel.. sebel.. sebel.." Sebel yg di maksud Dara adalah kesal atau jengkel ya, bukan sebel singkatan dari senang betul, ehehehe....Dara bergumam begitu sambil memukul² bantal nya, untuk kemudian ia ingin melanjut kan perjalanan nya menuju alam mimpi.
Namun sama seperti tadi baru saja ia ingin terlelap, lagi² ponsel nya berdering dan itupun oleh orang yg sama, siapa lagi kalau bukan Faozan Febrian.
Itulah sifat Faozan, meski semarah apapun dia, tetap saja ia pasti akan telpon bahkan sampai berulang kali.
Kali itu Dara langsung menerima panggilan nya.
Dara.
" Apa?.". Dara langsung menyambar nya karna kesal.
Faozan.
" Aku minta maaf." mendengar permintaan maaf Faozan dengan seketika rasa kesal nya mulai hilang.
Dara.
Faozan.
" Aku minta maaf atas kata² kasr ku tadi, tolong jangan di masukin hati ya, aku bicara begitu karna aku sedang marah, ku harap kamu dapat mengerti posisiku." kata nya lirih.
Dara.
" Iya nggak apa² kok, udah lah lupain aja." Dara akhir nya mencoba untuk mengerti Faozan.
Faozan.
" Benar kamu mau maafin aku?." tanya nya ingin keyakinan.
Dara.
" Iya, aku udah maafin kok tenang aja."
__ADS_1
Faozan.
" Kalau begitu mana cium nya kalau benar kamu ikhlas maafin aku." ia mulai menggoda Dara.
Dara.
" Kok malah aku sich yg kena, yg minta maaf siapa, eh yg minta cium juga siapa?.". keluh nya.
Faozan.
" Ya udah kalau begitu lupain aja." Faozan mengalih kan topik pembicaraan.. " Aku mau tanya sama kamu?."
Dara.
" Apa?."
Faozan.
" Apa kamu masih mau pacaran dengan ku?."
Dara.
" Kenapa kamu nanya gini?." tanya Dara bingung.
Faozan.
" Jawab aja, iya atau nggak!!."
Dara.
" Iya." jawab Dara tanpa ragu.
Faozan.
" Baiklah, sekarang aku kasih kamu Ultimatum, pilih aku atau Andrian, kalau kamu pilih aku itu artinya kamu harus putusin Andrian, dan hapus semua yg berhubungan dengan nya, tapi kalau kamu pilih dia, ya itu artinya aku yg memang harus hilang dari kehidupan mu."
Dara tercekat mendengar perkataan Faozan, ia benar² bingung harus bicara apa, ia juga bingung harus pilih siapa?.
__ADS_1