
Karna tak ada lagi yg harus di bicarakan dan merekapun telah selesai makan.. Dr.Farez segera mengajak Dara meninggalkan Caffe itu.
Dia sudah tak tahan melihat Dara yg terluka karna ulah suami nya.
“Kalo kamu udah selesai minum kita pergi dari sini.” Tutur Dr.Farez kemudian.
Dara pun mengangguk.. Dan mereka berdua meninggalkan Caffe tersebut.
Tiba di rumah Dara langsung mengguyur tubuh nya dengan air dingin.. Rasa nya begitu gerah.. seolah hati nya terbakar.. saat dia mengingat ketika Tiana menggenggam tangan Faozan.
Begitu pun yg terjadi dengan Dr.Farez.. tiba di rumah dia begitu hancur.. rasa nya tak ada semangat bagi nya untuk melakukan apapun.
Ini untuk pertama kali dalam hidup nya dia merasakan rasa sakit yg teramat sangat.. lebih sakit dari pada di putuskan saat sedang sayang sayang nya.
Selesai mandi Dara hanya mondar mandir di kamar nya.. Dia sudah begitu tak sabar menunggu suami nya itu pulang.. Dan menanyakan semua nya.
Setengah jam kemudian terdengar suara sepeda motor Faozan.
Dara mengambil nafas dalam.. dia mencoba untuk menenangkan perasaan nya.
Mengetahui Faozan sudah pulang.. lekas lekas Dara duduk di sofa sambil memainkan ponsel nya.
Pura pura seolah ia tak tau apapun mengenai Faozan.
Cekllleeekkk
Pintu kamar terbuka.. Dara menoleh sejanak.. benar saja Faozan yg masuk ke kamar.
Faozan tersenyum melihat Dara telah santai bermain ponsel di sana.
“Sayang kamu udah pulang.” tutur Faozan.
Yg di tanggapi dengan anggukan kepala saja oleh Dara.
Faozan duduk di sebelah Dara.
“Gimana pertemuan mu dengan Dr.Farez apakah semua nya berjalan lancar?.” tanya Faozan.
Lagi lagi Dara hanya mengangguk.. sambil bermain game cacing di ponsel nya.
Faozan menghela nafas dalam melihat reaksi Dara.
Kemudian dengan pelan dia merampas ponsel dari tangan Dara.
Yg membuat Dara langsung membulatkan mata nya menatap Faozan.
“Kenapa mau marah.” tutur Faozan setengah bercanda dia sengaja mau menggoda sang istri.
__ADS_1
Namun lagi lagi tak ada tanggapan dari Dara.. yg ada malahan Dara menjauh dari nya dengan berpindah tempat duduk di ranjang.
Faozan menatap Dara dengan dahi berkerut dalam.. Ia benar benar bingung dengan tingkah Dara yg menurut nya sangat aneh.
Namun demi tak menimbulkan masalah Faozan memilih tetap tenang meski dia kecewa terhadap sikap Dara.
Itulah mengapa Faozan memilih duduk di sebelah Dara.
“Sayang ada apa sich?.” Tanya Faozan kemudian.
“Nggak ada apa apa.. kenapa emang.” sahut Dara ketus.
Yg membuat Faozan menggelengkan kepala nya.
“Oh iya kamu dari mana?.” tanya Dara datar.
“Keluar bersama teman.” sahut Faozan.. Dia tak ingin mengatakan hal yg sebenar nya takut Dara salah paham.
Sebab Faozan menemui Tiana tadi.. lantaran Tiana bilang dia mau bicara hal yg penting.
Faozan tak menduga jika ternyata Tiana mengajak nya bertemu untuk mengajak nya balikan lagi.
“Oh iya teman laki laki atau perempuan?.” tanya Dara memancing Faozan.
“Laki laki.” bohong Faozan.. agar tak banyak pertanyaan dari sang istri.
Faozan hanya menanggapi dengan anggukan kepala saja.
“Oh iya Gedok.. aku punya sesuatu buat kamu.” tutur Dara kemudian.
“Apa itu Sayang?.” Faozan bertanya tak sabar bahkan juga bersemangat.
Fikir nya Dara pasti memberi kejutan yg bagus..
Dara membuka galery di ponsel nya.. Dan memperlihat kan sebuah fhoto pada Faozan.
“Tuh lihat lah.. Fhoto nya bagus nggak.” ketus Dara sambil memperlihatkan fhoto yg diambil nya saat di caffe tadi.. dimana Tiana tengah menggemgam tangan Faozan.
Melihat fhoto tersebut Faozan begitu kaget.. hingga dia hanya bisa terdiam dengan jantung yg terlonjak keras.
“Kenapa kaget?.” tanya Dara sinis.
"Sejak kapan Tiana jadi laki laki.. haaah?.” Lanjut Dara.
“Sayang aku bisa jelasin..” Faozan berusaha untuk membela diri.
Namun lekas lekas Dara merbut pembicaraan.
__ADS_1
“Nggak perlu Ozan.. semua nya udah jelas.” ketus Dara.
Perkataan Dara barusan membuat Faozan merasa terluka.. hati nya begitu sakit saat mendengar Dara menyebut nama nya.. bukan dengan panggilan Gedok apalagi Sayang seperti biasa nya.
“Yg aku nggak habis fikir kenapa kamu bisa berbohong pada ku..Sudah seminggu ini aku perhatiin Tiana selalu chatt dan telpon kamu.. namun setiap kali aku tanya maka jawaban mu selalu berbohong.. bahkan sampai tadi pun kamu masih berbohong pada ku.” kali itu saat bicara nada suara Dara mulai tinggi.
“Aku nggak mengatakan yg sebenar nya tentang Tiana karna aku takut... ” sahut Faozan berusaha menjelaskan.
“Takut apa? takut aku melarang mu komunikasi pada dengan nya dan takut aku nggak ngizinin kamu ketemu dengan nya.. begitukah Ozan?.” segap Dara gesit.
“Sayang.. kamu salah paham.. bukan itu maksud ku.” bantah Faozan.
“Lalu apa? kamu mau mengatakan jika kamu memang masih sayang pada nya dan mau balikan sama dia.” sinis Dara.
Faozan makin bingung harus bagaimana lagi cara dia menjelaskan pada Dara.. jika Dara sama sekali tak memberi nya waktu untuk menjelaskan.
“Kenapa diam.. kamu nggak punya alasan lagi untuk membela diri karna apa yg aku katakan itu benar iyakan.” lanjut Dara... dengan nada suara marah.. bahkan tatapan sinis.
Kali itu Faozan sudah tak bisa lagi tinggal diam.. tuduhan Dara sudah terlalu jauh.
“Cukup.” teriak Faozan.
“Asal kamu tau saja.. aku nggak ada hubungan apapun lagi sama Tiana.. dan mengenai perasaan aku rasa tanpa aku jelaskan sekali pun kamu tau bagaimana aku begitu mencintai kamu.. nggak ada orang lain.. jadi untuk kembali menjalin hubungan dengan Dia itu adalah hal yg mustahil.” jelas Faozan tegas.
“Alasan.” begitu sahut Dara.. yg masih tak percaya dengan perkataan Faozan.
“Alasan apanya?.” tanya Faozan setengah membentak.
“Kamu fikir aja sendiri.” kata Dara tak kalah keras nya.
Usai berkata demikian Dara melangkah pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Faozan sendirian.
Faozan hanya bisa mengambil nafas dalam sambil menenagkan perasaan nya.
Sesekali dia istiqhfar.. untuk menghilangkan amarah nya.
Faozan duduk sendiri di sofa yg ada di kamar itu.
Sementara Dara pergi kekamar yg lain.. memang kamar yg ada di lantai atas itu tak ada yg menempati kecuali mereka.
Ibu nya bersama Ella satu kamar di bawah begitu juga dengan kakek nya Faozan dan adik nya mereka lebih memilih di bawah.
Hingga kalo di lantai 2 begitu sepi.
“Ini benar benar kelewatan.. sudah jelas jelas mereka punya hubungan masih aja nggak mau ngaku.” gerutu Dara sendiri sambil merebahkan tubuh nya diatas tempat tidur yg ada diruangan itu.
Entah berapa lama Dara ngedumel sendiri disana karna kesal.. Yg pasti sampai dia ketiduran disana.
__ADS_1