Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Termenung.


__ADS_3

Setelah kepulangan teman² nya Dara hanya termenung sendiri didalam kamar nya.


Ia sama sekali tak bersemangat.. padahal harus nya ia bahagia.. tapi mau bagai mana lagi.. Dara sedikit kecewa lantaran ia harus mengubur harapan nya untuk melanjutkan kuliah & menjadi seorang Dokter.


Faozan yg dari tadi menyadari reaksi Dara menjadi bingung.. ada apa dengan Dara.. kenapa ia sama sekali tak bahagia.


Apakah keputusan nya yg mengajak Dara menikah itu salah?.. tapi rasa nya tidak.. sebab mereka sudah lumayan lama saling mengenal.. bahkan menjalin hubungan sudah lebih dari satu tahun... lalu kenapa Dara seperti nya tak senang?.


Apakah perasaan nya terhadap Faozan berubah saat ia sudah bertemu langsung dengan nya?.


Berbagai pertanyaan muncul di benak Faozan saat ia menyadari raut wajah Dara yg sama sekali tak bahagia.


Demi untuk membuat hati nya sedikit tenang ia ingin bertanya langsung pada Dara.


Itulah mengapa Faozan mengambil sebuah kado yg pernah di tunjukan nya pada Dara beberapa bulan lalu tepat nya saat Aniversarry mereka tempo hari.


Dengan alasan memberikan kado itu.. Faozan bisa menemui Dara dan bertanya pada nya.


Begitu sudah di depan pintu kamar Dara.. Faozan mengetuk nya.


Took.. tok.. tok..


" Masuk aja nggak di kunci kok." sahut Dara dari dalem.. Dara berfikir itu pasti ibu nya.


Faozan membuka pintu nya dan mulai masuk.


Dara yg memang sudah menanti siapa yg datang hanya sedikit terkejut melihat yg menghampiri nya adalah Faozan.


" Hey." Sapa Dara mencoba untuk tersenyum.


" Apa aku ganggu kamu?.". tanya Faozan.


" Nggak kok.. mana ada aku ngerasa ke ganggu karna kamu." sahut nya lagi.. " ayo duduk lah."


Faozan pun duduk di sebelah kiri Dara.. mereka berdua duduk di tepi ranjang tempat tidur Dara.


" Aku mau bicara ama kamu." Faozan mulai bicara serius.


" Bicara saja." sahut nya.


Faozan menatap wajah Dara sejenak.. kemudian ia mulai bicara.

__ADS_1


" Aku perhatiin dari tadi kamu kelihatan nya kamu nggak seneng ya dengan rencana pernikahan ini.."


" Nggak kok kata siapa.. aku seneng." Dara langsung menyela.. tapi sekilas pun ia tak menatap mata Faozan saat ia bicara.


" Yakin kamu bahagia?." tandas Faozan.


" Iya." Dara mencoba untuk tertawa pelan.. namun masih seperti tadi ia tak berani menatap mata Faozan takut lelaki itu akan menyadari ke bimbangan hati nya.


Faozan yg melihat lagi² Dara tak menatap nya saat bicara mulai mengerti kalo memang Dara menyembunyikan sesuatu dari nya.


Faozan meraih kedua lengan Dara dan menatap tajam mata gadis itu.


Dara hanya membuang pandangan nya kearah lain.


Namun Faozan tak mau kalah.. sekali lagi ia menghela wajah Dara agar menatap nya.


" Jangan berbohong dengan mengatakan kalo kamu bahagia.. karna bukan itu yg tersirat di mata mu.. yg ada di mata mu hanyalah keraguan.. dan keraguan tentang apa aku nggak tau." kata Faozan kemudian.


Dara hanya menelan ludah kasar.


" Apakah kamu tak yakin ingin menikah dengan ku?." tanya Faozan tegas.


" Kalo aku nggak yakin aku nggak akan menyetujui nya." sahut Dara juga dengan tegas.


Dara tak menaggapi perkataan Faozan.. karna ia tak tahu harus mulai dari mana.


Karna tak ada jawaban dari Dara.. Faozan mencoba berkata lagi.


" Jawab aku sayang.. aku mohon jangan seperti ini.. jangan siksa perasaan ku dengan sikap mu yg tertutup seperti ini.. bukan kah kita sudah sepekat bahwa tak akan ada rahasia diantara kita berdua lalu kenapa kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari ku." kali itu nada suara nya sedikit mendesak.


" Mungkin itu hanya persaan kamu saja." Dara bicara asal nge jiplak saja.


" Nggak ini bukan cuma persaan ku saja.. tapi aku yakin betul kalo kamu memang tak bahagia dengan rencana pernikahan ini.. cuma yg aku nggak tau apa sebab nya."


Lagi² Dara hanya menelan ludah kasar.


" Apakah kamu mencintai Dimaz?." Dara langsung melotot mendengar pertanyaan Faozan kali itu.


" Harus berapa kali sich aku bilang kalo aku hanya menganggap Dimaz teman.. nggak ada perasaan yg lain.". tegas nya.


" Lalu adakah laki² lain yg kamu cintai selain aku?." Tanya Faozan menyelidik.

__ADS_1


" Nggak ada.. udah dech.. jangan nanya yg aneh²."


" Giman aku nggak nanya aneh.. kalo sikap kamu sendiri yg aneh."


" Aku aneh gimana?." Tanya Dara gesit.


" Kamu pura² bahagia di depan ku dan semua orang.. tapi saat kamu sendiri kamu selalu merenung.. kamu sering melamun.. dan termangu sendiri.. ada apa sich?." desak nya lagi.


Kali itu sama seperti sebelum nya Dara tak memberi tanggapan.


Tentu saja itu membuat Faozan kesal.. maka lengan Dara yg ada tadi hanya di pegang nya.. kini digenggam nya erat.. dengan sorot mata yg sangat tajam menatap mata Dara.. seolah ingin melihat apa yg ada di balik nya.


"Jawab pertanyaan ku.. kita harus bicara.. jika ada masalah atau sesuatu yg mengganggu fikiran mu keluarkan saja supaya kita bisa mencari solusi nya.. tapi tidak dengan diam seperti ini." tegas nya lagi.


" Kamu menyakiti tangan ku." keluh Dara dengan menatap kesal Faozan yg telah membuat lengan nya terasa sakit dan memerah.


" Maaf." lekas² Faozan melepas genggam nya.


Air mata mulai mengalir di pipi Dara.. ia benar² bingung apa yg harus ia lakukan.. dan harus mulai dari mana.


Faozan merasa melihat Dara mulai menangis.


" Maaf kan aku.. aku nggak bermaksud untuk menyakiti mu." kata Faozan penuh penyesalan.. karna tanpa sadar ia membuat lengan Dara menjadi merah.. itu dapat dilihat nya jelas.


Dara hanya diam dengan air mata yg masih mengalir.


" Maaf kan aku.. sungguh aku tak sengaja melakukan nya.. tolong jangan marah pada ku.. kamu bisa membalas nya pada ku kalo kamu mau.. aku ikhlas kok.. tapi tolong berhentilah menangis.. aku nggak bisa melihat mu menangis... rasa nya sangat sakit." kata nya lirih bahkan kali itu mata nya juga mulai berkaca²..


Dara mendekatkan diri nya dan memeluk Faozan... tentu saja itu mendapat respon yg baik dari Faozan.. dia membalas dengan memeluk erat tubuh Dara.


" Aku mohon jangan nangis lagi ya.. atau aku bisa ikut menangis karna mu." kata Faozan mencoba menenangkan Dara.


Dara melepaskan diri nya dari pelukan Faozan.


Faozan menghapus air mata yg mengalir dipipi Dara.


" Maaf kan aku." kata Dara kemudian... setelah sedikit tenang.


" Maaf untuk apa?.. kan bukan kamu yg salah tapi aku." Faozan bicara dengan dahi berkerut bingung.


" Maaf karna.. karna.."

__ADS_1


Karna apa ya kira²...


__ADS_2