Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Keangkuhan


__ADS_3

Hari terus berlalu tak terasa sudah beluan lama nya Toko manisan dan Barbershop Faozan di buka.. dan Alhamdulillah sejauh ini baik Toko milik ibu nya Faozan dan Barbershop semua nya ramai akan pengunjung.


Mudah mudahan seterus nya akan seperti itu..


Kalo untuk Ibu nya Faozan dan Faozan sendiri semua nya berjalan lancar.. namun tidak dengan Dara hari ini.


Hari ini karna jadwal Dara di RS tidak terlalu padat.. maka nya Dara memutuskan untuk berangkat ke RS jam 10 pagi waktu setempat.. tidak seperti biasa nya dia selalu berangkat jam 07 pagi.


Kali itu seperti biasa nya Faozan juga mengantar Dara untuk pergi ke RS tempat kerja nya itu.


Namun baru 15 menit perjalanan.. di pinggir jalan ada seorang Bumil yg tengah berdiri sambil terus meringis kesakitan dengan memegangi perut nya.


Bumil tersebut berdiri tak jauh dari rumah nya.. mungkin dia sedang menunggu taxi atau apa pun itu yg pasti dia menunggu.


Dara yg melihat itu langsung meminta Faozan berhenti dan menghampiri Bumil tersebut.


Disaat yg bersamaan seorang lelaki juga menghampiri Bumil tersebut.. tampak nya lelaki itu adalah suami wanita itu.


“Ibu kenapa?.” tanya Dara pada wanita itu.


“Perut saya sakit.” jawab nya dengan terus menahan rasa sakit akibat kontraksi.


Dara menatap wanita itu dari muka hingga ke ujung kaki nya.


Wajah nya terlihat pucat.. dengan mata yg mulai sayu.. bahkan dari antara kedua kaki nya terus saja mengalir cairan yg berwarna putih kekuningan.


Dara paham betul apa artinya itu.. Dara mengambil nafas dalam sambil terus menatap Bumil itu.


“Bu ini keruban nya telah pecah.. bayi Ibu harus segera di lahirkan jika tidak akibat nya tidak akan baik buat bayi Ibu.” tutur Dara pelan.


“La..lu saya harus bagaimana?.” tanya wanita itu sambil terus berusaha menahan rasa sakit nya.


Melihat reaksi wanita yg ada di hadapan nya saat ini Faozan bergidik ngeri.. apa begitu sakit kah rasa nya saat seorang wanita mau melahirkan?.


Itukah yg ada dalam fikiran Faozan.. Entah bagaiman perasaan nya jika istri nya yg ada di posisi itu.


Sambil terus mengamati wanita itu.. bergantian Faozan melirik kearah Dara.


Dara menyadari memahami apa yg ada didalam fikiran suami nya itu.. pasti lah Faozan merasa ngeri.


Hingga Dara hanya tersenyum.. sambil menatap sang suami.


“Jika Ibu mau Saya bersedia membantu Ibu.” tawar Dara.


Saat baru saja Bumil itu mau meng iyakan.. suami nya angkat bicara.


“Tidak! itu tidak perlu.. saya bisa bawa istri saya keruma sakit.. RS sakit itu lebih terjamin.. saya tak bisa menyerah kan keselamatan istri & anak saya kepada Anda.” ketus lelaki itu dengan angkuh nya.

__ADS_1


Dara hanya terdiam.. namun tidak dengan Faozan.


“Istri ku sudah berbaik hati mau menolong.. tapi kamu malah bicara yg kurang pantas terhadap istri ku... kamu fikir kamu siapa haah?.” kata Faozan kesal.


Yg lekas lekas di hentikan oleh Dara.. takut terjadi keributan.


“Udahlah Sayang.. aku kita pergi.” ajak Dara pada Faozan.


“Permisi.” sesaat sebelum menggandeng tangan Faozan Dara masih sempat bilang permisi.


“Iya silahkan.. biar istri saya nanti Keponakan saya yg menangani.” sahut lelaki itu masih dengan keangkuhan nya.


Dara & Faozan masih mendengar hal itu.. namun mereka tak ingin menanggapi.. dan lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan mereka terus membahas betapa angkuh nya lelaki itu..


Dara hanya menanggapi seadanya saja.. sebab dia masih kefikiran wanita tadi.. jarak dari rumah nya ke RS lumayan jauh.. apa yg akan terjadi pada bayi nya.


Namun Dara hanya bisa berdo'a semoga Ibu & bayi nya itu selamat.


Setelah sampai di RS.. Faozan langsung pamit untuk pulang.. Dara pun langsung bergegas masuk ke RS tersebut.


Sapaan ramah dari para Dokter & suster langsung saja menyambut nya.


Dara membalas nya dengan tersenyum ramah.. itulah yg terjadi setiap hari.


Baru saja selesai mengganti pakaian.. Dr.Nadia telah menghampiri nya.. Dr.Nadia adalah Asisiten Dr.Angga yg kini menjadi Asisten Dara.


“Dok ada yg ingin bertemu Anda!.” Dr.Nadia langsung bicara.


“Baiklah dimana?.” sahut Dara.


Dr.Nadia pun membawa Dara kesalah satu ruang perawatan pasien.


Diruangan tersebut sedang terjadi perdebatan antar Dokter dan salah satu keluarga pasien.


“Ada apa ini?.” tegas Dara.. yg seketika membuat kedua orang yg tengah sibuk berdebat itu langsung diam.


“Saya ingin bertemu dengan pemilik RS ini.” tegas lelaki muda yg kira kira berumur 35 tahun itu.


“Pemilik RS ini tidak ada disini.. tapi jika anda perlu apapun atau ada keluhan apapun itu anda bisa bicara kepada saya.. sebab Dr.Farez menyerah kan tanggung jawab RS ini pada saya.” tutur Dara apa ada nya.


“Baiklah jika begitu.. saya perlu bicara dengan Anda.” sahut lelaki itu.


“Bicarakan saja.” tegas Dara.


“Saya ingin membawa istri saya pulang hari ini juga.” lelaki itu mulai mengutarakan niat nya.

__ADS_1


“Tapi para Dokter mu ini melarang saya.” lanjut lelaki itu.


“Apakah itu benar?.” Dara bertanya pada Dr.Ramon yy tadi sempat berdebat sama pria itu.


“Iya Dok.. karna keadaan pasien belum stabil dan masih harus di rawat secara itensif.” jelas Dr.Ramon.


“Itu benar Dok.. bahkan kondisi pasien masih sangat lemah.” sambung Dr.Nadia.


“Anda sudah dengar mengenai keadaan istri Anda.. lalu apakah Anda masih berniat mengeluarkan istri Anda?.” Dara ganti bertanya pada lelaki itu.


“Iya Dok.. keputusan saya sudah bulat.. saya ingin istri saya di rawat jalan saja.” jawab lelaki itu tegas.


Entah karna alasan apa Dara tak tahu.. tapi Dara juga tak bisa memaksa.


“Baiklah jika itu keputusan Anda selaku pihak keluarga maka kami tidak akan memaksa mu.” tutur Dara tenang.


“Namun sebelum itu Anda harus bersedia menanda tangani surat perjanjian dengan pihak RS ini.. dimana jika terjadi hal hal yg tak di ingin kan Anda tak akan menunutut pihak RS ini.” jelas Dara.


Lelaki itu hanya mengangguk.


Dara pun meminta Dr.Nadia mengambil surat perjanjian yg harus di tanda tangani oleh lelaji itu dan pihak RS yaitu Dara sendiri.


Setelah Dr.Nadia memberikan kertas perjanji itu pada Dara.. Dara pun meminta lelaki itu menanda tangani nya.. tanpa fikir panjang lelaki itu langsung menanda tangani nya.


Perjanjian tertera hitam diatas putih dengan materai 6000 yg itu artinya tidak lah main main.


Karna telah setuju dengan keputusan pihak RS.. Dara pun meminta Dr.Nadia untuk mengurus semua nya.


Dr.Nadia pun menjelaskan pada lelaki itu apa saja prosedur yg harus di bereskan sebelum membawa pasien pulang.


Karna Dara telah menyerahkan semua nya pada Dr.Nadia.. Dara pun kembali keruangan nya.


Namun belum lagi lima menit dia duduk di atas kursi kerja nya itu.. lagi lagi Dr.Nadia menghampiri nya.


“Dok ada keadaan darurat.. yg benar benar butuh penanganan dari Dokter.” tutur Dr.Nadia tergesa gesa.


Dara langsung berdiri begitu mendengar hal itu.


Apa yg terjadi selanjut nya???


Temukan jawaban nya di nex episode.


Buat Para Readers makasih ya udah selalu setia ama novel aku ini.. mohon maaf jika masih banyak typo..


Jangan lupa tinggalkan jejak juga ya.. like n keomen.


Salam kenal semua nya..

__ADS_1


__ADS_2