
Melihat Dara yg hanya sibuk dengan pemikiran nya sendiri.. Faozan memilih untuk duduk di tepi ranjang tempat tidur mereka.
Perasaan nya masih bercampur aduk.. antara takut dan juga kesal.
Takut jika Dara akan semakin marah pada nya.. Namun juga kesal karna sejak tadi tak ada sepatah kata pun yg keluar dari mulut Dara.
Dara menatap Faozan beberapa saat lama nya.. dia dapat melihat bahwa saat ini suami nya itu sedang resah.
Dengan pelan Dara menghampiri Faozan.. dan mengalungkan kedua tangan nya di depan dada Faozan.. lebih tepat nya lagi.. Dara memeluk Faozan dari belakang tapi tangan nya tidak lah di lingkarkan di pinggang melain kan di depan leher Faozan.
“Maaf atas sikap kekanak kanakan ku tadi.” Ucap Dara kemudian.. dengan nada yg sangat lembut.
Sambil meletakan dagu nya di pundak sang suami.
“Iya nggak apa apa kok.. aku ngerti.” sahut Faozan.. dengan meraih kedua telapak tangan Dara yg kini ada di depan dada nya.. dan mengenggam nya lembut.
Kemudian Faozan menoleh sekilas menatap wajah Dara yg kini berada disisi kanan nya.
“Mungkin memang aku yg salah.. karna terlalu berlebihan.” lanjut Faozan lagi.
Dara tersenyum.. Faozan pun melepaskan tangan Dara dari leher nya dan sebagai ganti nya dia meraih tangan Dara agar Dara duduk di sisi nya.
Dara pun mengerti maksud Faozan.. hingga dia sekarang duduk manis disamping Faozan.
“Kamu nggak salah.. aku saja yg tak memahami mu.. harus nya aku bisa menghargai perasaan mu.” tutur Dara lembut.. sambil menatap wajah Faozan.
“Maaf in aku ya Sayang.” pinta Dara.. sambil menyentuh pelan pipi Faozan.
Faozan tersenyum dan meraih telapak tangan Dara... kemudian nya di kecup nya lembut.
“Iya Sayang.. aku udah maaf in kamu kok.” sahut Faozan kemudian.
“Benar?.” tanya Dara meminta kepastian.. takut nya Faozan tak ikhlas memaafkan nya.
“Iya.” sahut Faozan lebih meyakin kan.
“Mana bukti nya kalo kamu beneran ikhlas maafin aku.” tutur Dara manja.
Yg membuat Faozan langsung tersenyum sumingrah.. sebab dia tau maksud dari perkataan Dara tersebut.
Itulah sebab nya tanpa berkata apapun Faozan meraih wajah Dara.. untuk kemudian di kecup nya lembut kening sang istri.. lalu kedua belah pipi nya dan terakhir mengecup sekilas bibir Dara.
“Udah.” tanya Faozan tersenyum menggoda.
“Atau mau yg lebih lagi.” lanjut Faozan.. yg membuat Dara tersenyum malu malu.
Melihat reaksi Dara yg terlihat malu malu.. Faozan malah memeluk nya dari belakang.
Dengan menyenderkan kepala sang istri di dada nya..
Sekilas Dara menoleh menatap Faozan yg kini tengah mencium pucuk kepala nya.
Faozan menaikan kedua alis nya.. melihat Dara yg menatap nya.
Dara hanya menggelengkan kepala nya... Kemudian dia mengembalikan pandangan nya kearah depan.. dengan kepala yg masih bersender di dada sang suami.
“Gedok.” panggil Dara lembut.
“Eem.” sahut Faozan setengah bergumam.
“Boleh aku tanya sesuatu?.” tutur Dara pelan.
__ADS_1
“Tanya aja Sayang.” sahut Faozan.
“Apa kamu merasa cemburu melihat aku bersama Dr.Farez?.” tanya Dara apa ada nya.
“Menurut mu?.” Faozan balik bertanya.
Dara menatap Faozan kembali.. kali itu dengan pandangan lebih mengamati lagi.
“Kayak nya iya.” tutur Dara kemudian.. tapi dengan setengah bercanda.
“Lalu apakah itu salah?.” tanya Faozan serius.
Dara langsung tertawa mendengar nya.. karna sebenar nya Dara bertanya demikian tidaklah serius.. niat nya hanya ingin menggoda Faozan.
Dia tak menyangka jika Faozan akan menanggapi dengan sangat serius.. biasa nya jika Dara menggoda nya maka Faozan akan menjawab dengan sama menggoda juga.. atau jika tidak.. Faozan akan langsung menyergap bicara nya gesit.. karna dianggap konyol.
Tapi kali ini Faozan malah menanggapi serius.. Itu artinya Faozan memang tak suka melihat kedekatan nya dengan Dr.Farez.
“Jadi benaran kamu cemburu melihat kedekatan aku & Dr.Farez?.” begitu tutur Dara kemudian.
“Suami mana sich yg nggak akan merasa cemburu melihat istri nya bersama pria lain.. apa lagi sampe di belikan mobil lagi.. sementara aku.. aku nggak bisa memberikan apapun buat kamu.” kata Faozan lirih.
Dara jadi tak enak hati mendengar nya.
“Tapi kamu tau kan seperti apa hubungan kami.. aku & Dr.Farez hanya sebatas rekan kerja atau teman saja nggak ada hal lain.” jelas Dara.
“Iya aku tau.. tapi tetap saja rasa nya hati ini tak terima melihat kedekatan kalian... walaupun itu hanya sebatas rekan kerja dan teman saja.” Faozan menghentikan bicara nya sejenak.
Sebab dia melihat Dara yg menatap nya dengan pandangan yg menurut nya sangat aneh.
Memang saat itu Dara menatap nya dengan mata setengah melotot dan meneliti pula.
Faozan menatap Dara kesal.. melihat Dara yg tiba tiba tertawa.
“Kenapa kamu nggak suka melihat aku bersama Dr.Farez?.” tanya Dara kemudian.
“Karna menurut ku Dr.Farez itu seperti nya punya perasaan khusus pada mu.” jawab Faozan tegas.
Dara mengangguk kan kepala nya.. sambil memutar mutar bibir nya.
“Sayang dengar.” sambil berkata Dara meraih telapak tangan Faozan dan meremas nya lembut.
“Jika benar Dr.Farez punya perasaan lebih terhadap ku.. bukan kah itu juga hak nya..”
Faozan langsung bercedak kesal mendengar perkataan Dara.. Sambil mendengus dan membuang pandangan nya kearah lain.. Hingga Dara pun menghentikan bicara nya.
Dara menghela wajah Faozan agar kembali menatap nya.
“Tatap mata ku.” pinta Dara.. yg diabaikan oleh Faozan.
Giliran Faozan yg kekanakan..
“Lihat aku.. atau aku tinggalin kamu tidur nih.” Ancam Dara.. memang seperti itulah cara Dara agar Faozan mau menurut.
Mendengar hal itu mau tak mau Faozan menuruti nya dan kembali menghadap kearah Dara.
Dara tersenyum kemenangan.
“Tatap mata ku.” pinta Dara sambil mencoba untuk menatap tepat kebola mata Faozan.
Faozan tak bisa menghindar.. semarah apapun dia jika dia menatap kedua bola mata istri nya itu maka dia hanya bisa diam.
__ADS_1
Mata itulah yg paling dia sukai dari Dara.. sebab saat dia menatap mata Dara.. seolah mata itu tak pernah berbohong dan menyembunyikan apapun dari nya.
Hingga hati nya merasa begitu teduh.
“Apakah dari tatapan mata ini kamu melihat ada cinta untuk orang lain selain kamu?.” tanya Dara kemudian.
Perkataan Dara kali itu membuat Faozan merasa jadi orang paling bahagia didunia ini.
Sebab yg ia lihat kedua bening itu hanya memancarkan cinta untuk nya.
Hingga tanpa disadari nya air mata menitik dimata nya.
Entah itu air mata bahagia atau air mata haru.
Faozan tersenyum.. kemudian langsung meraih tubuh Dara kedalam pelukan nya.
“Aku mencintai mu.” Bisik Faozan pelan disisi kanan telinga Dara.. dengan tubuh yg masih berpelukan.
“Aku cuma takut kehilangan mu.. karna aku nggak akan sanggup hidup tanpa mu.” lanjut Faozan lagi.
Mendengar hal itu Dara mulai merenggangkan tubuh mereka agar bisa menatap wajah sang suami.
Dilihat nya ada bulir bening yg mulai tergelincir di pipi Faozan.
Dengan jemari nya di tepis pelan air mata itu.
“Begitu pun aku.” tutur Dara lembut.
“Jadi kamu tenang aja ya.. nggak akan pernah ada yg lain dalam hidup ku.. cukup kamu sampai mati... Memang benar Dr.Farez lebih segala nya dari mu.. tapi satu hal yg perlu kamu tau.. Cinta nya tak akan melebihi cintamu pada ku.” sambung Dara.. yg seketika membuat Faozan tersenyum lebar.
“Kamu bisa aja.” sahut sambil tertawa pelan.
“Apakah udah lega sekarang?.” tanya Dara.
“Sangat.” sahut Faozan senang.. Memang setelah pembicaraan mereka tadi perasaan nya sedikit lega.. tak merasa tertekan seperti sebelum nya.
Usai menjawab pertanyaan Dara.. sekali lagi Faozan memeluk erat tubuh sang istri.
Rasa nya tak ingin ia lepaskan seumur hidup nya.
Pelukan hangat yg selalu ia rindukan itu.
“Kamu merasa lega dengan semua ini.. lalu bagaimana dengan ku.. bisakah kamu menjamin bahwa kamu nggak akan berpaling dariku.. mungkinkah kamu bisa setia pada ku seperti selama ini.. rasa nya aku ragu mengingat kedekatan mu kembali dengan Tiana.. Dan itu pun secara diam diam.. tak pernah sekalipun kamu mau menceritakan tentang Tiana.. kenapa Gedok?.. Kenapa? Dan kenapa?.” Gumam Dara dalam hati.
Rasa nya sakit saat dia tau Faozan berbohong pada nya.. Hingga tanpa sadar air mata mulai menetes di pipi nya.
Faozan bisa merasakan kalo saat itu ada air mata di wajah sang istri.. Hingga lekas lekas dia menjauhkan wajah Dara dan menatap nya.
“Kamu menangis?.” tanya Faozan bingung.. sambil menyeka air mata yg mengalir di pipi sang istri.
“Ada apa?.” tanya Faozan mulai cemas.
Dara menggelengkan kepala nya.
“Nggak ada apa apa Sayang.. Hanya saja mata ku berair saat aku menguap tadi.. mungkin karna ngantuk kali ya.” sahut Dara mencoba tersenyum.
Faozan mengambil nafas lega mendengar nya.
“Ya udah ayo kita tidur.” ajak Faozan kemudian.
Dara hanya menurut saja.. mereka berdua akhir nya tertidur.
__ADS_1