
Ke esokan hari nya Faozan benar² sangat kalut karna dari semalam ia mencoba menghubungi Dara tapi Dara tak pernah menjawab panggilan nya.. hingga pagi itu pun berkali² juga Faozan mencoba menghubungi Dara lagi.. namun hasil nya masih sama saja.. tak ada jawaban dari Dara.
Dara sengaja tak menjawab nya sebab ia ngerasa tak ada lagi yg harus di bicarakan.. bukan karna ia benci pada Faozan yg mengambil keptusan dalam keadaan marah.. tapi karna ia harus mencoba untuk melupakan Faozan karna ia hanya ingin melihat Faozan bahagia..
Karna kecewa atas sikap Dara yg seolah sudah nggak peduli lagi pada nya.. Faozan benar² merasa sedih dan sangat kalut.. itulah sebab nya untuk menenangkan fikiran nya dengan segera ia menemui beberapa teman nya dan mengajak teman² nya mabar ( mabuk bareng) alias minum minuman keras..
Awal nya teman² Foazan menolak.. tapi Foazan memaksa hingga akhir nya mereka setuju.. dan akhir nya membeli miras..
Setelah habis beberapa botol miras dan melihat Faozan yg mulai tak sadar lagi.. teman² nya mencoba untuk menghentikan kegilaan Faozan saat itu.. namun sayang nya tak ada satu orang pun yg bisa membuat nya berhenti untuk minum.. padahal kondisi nya sudah sangat buruk.. sudah beberapa kali ia muntah dan nggak bisa bangun lagi..
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dara di kagetkan oleh sebuah no baru yg tak terdaftar yg tiba² menelpon nya.. awal nya Dara tak ingin menjawab nya.. tapi ia takut kalau² itu adalah no teman² nya yg sengaja ganti sim card..
Dengan pemikiran itulah ia menjawab panggilan tersebut..
" Hallo..". terdengar suara seorang pria dari sebrang sana.
Dara.
" Iya hallo.."
" Ini Dara bukan ya?.". tanya pria itu.
Dara.
" Iya benar.. tapi kamu siapa ya?." Dara balik bertanya.
" Nggak penting kamu tau siapa aku.. aku hanya ingin memberitahu kamu.. kamu itu benar² jahat...."
Dara.
" Apa maksud nya sich?." Dara memenggal bicara nya tegas.
" Kamu tau gara² kamu.. Ozan saat ini tak sadarkan diri."
__ADS_1
Dara.
" Emang apa yg terjadi dengan nya?." Dara langsung bertanya demikian.. karna jujur saja ia masih peduli sama Faozan..
" Dia minum banyak... itupun karna ia sakit hati karna kamu.. setelah kamu memutuskan dia.. kamu bahkan tak menjawab telpon dari nya.. kamu itu benar² nggak punya hati..."
Dara.
" Maaf kalau kamu nggak tau apa yg sebenar nya terjadi harus nya kamu nggak usah ikut campur urusan pribadi orang.." Dara lagi² memenggal bicara orang itu dengan jengkel.. " Dan iya mengenai putus nya hubungan kami itu bukan karna aku... tapi teman kamu sendirilah yg menginginkan nya.. oh iya satu lagi aku udah nggak heran kalau Ozan itu mabuk.. bukan kah emang sudah kebiasaan nya mabuk."
" Sudah hampir 5 bulan ini Ozan nggak pernah minum.. bahkan ia sering marah kalau kami mengajak nya minum.. alasan nya karna ia takut kamu marah sebab ia nggak mau kamu niggalin dia.. tapi apa balesan kamu terhadap nya kamu malah menyakiti nya.. jujur aku nyesel banget karna dulu aku sangat mendukung hubungan kamu dengan nya.. selama ini setiap kali kalian bertengkar aku selalu menyalahkan Ozan.. tapi ternyata kamu lah yg nggak pernah tulus sama dia.. kurang sayang gimana sich dia sama kamu.. apapun yg kamu katakan ia selalu menuruti mu.. tapi kamu bahkan mutusin dia tanpa alasan."
Ucap pria itu panjang lebar.. Dara hanya mengambil nafas dalam..
Dara.
" Maaf dalam hal ini kamu keliru.. bukan aku yg mutusin dia.. tapi dia sendiri yg memutuskan hubungan kami.."
" Iya mungkin dia emang mengatakan itu.. tapi harus nya kamu ngerti dia mengatakan itu karna ia sedang marah.. aku mohon jika emang kamu masih punya hati.. tolong bicara lah sama dia meski hanya sebentar saja." pinta lelaki itu kali ini dengan nada memohon.
Dara.
" Dia masih belum sadarkan diri.. setelah tadi dia muntah beberapa kali karna minum terlalu banyak."
Dara.
" Kamu ini teman nya kan.. lalu kenapa kamu biarin teman kamu minum banyak.." Dara malah marah sama teman Faozan itu.
" Aku dan teman² yg lain sudah sering menghentikan nya.. tapi ia terlalu marah dan tak bisa untuk di hentikan."
Dara.
" Ya harus nya kalau ia tak mau dengar apa salah nya sih kamu tampar dia agar dia sadar." tegas Dara lagi..
" Aku ini hanya teman nya.. aku nggak berani berbuat demikian.."
__ADS_1
Dara.
" Kenapa kamu takut ia membalas mu?." Dara menyela dengan pertanyaan itu..
" Bukan itu.. tapi aku nggak enak berbuat demikian."
Dara.
" Itu artinya kamu nggak peduli pada teman mu.. teman macam apa sich kamu ini.. ya udah sekarang kamu tampar dia biar dia sadar.. setelah itu kamu berikan telpon ini pada nya aku mau bicara.. dan ingat kita VC aku pengen liat jika benar yg kamu katakan itu.."
" Baiklah.. Berapa no wa mu..?"
Dara.
" Cari aja di ponsel nya Faozan.. kamu kan teman nya aku rasa kamu juga pasti bisa membuka kunci tombol ponsel nya."
" Baiklah.. Nama ku Irwan.. maaf karna tadi aku sudah bicara kasar pada mu."
Dara.
" Udah lah lupain aja.. sekarang kamu ambil ponsel nya Faozan dan hubungi aku cepat." Dara berkata dengan nada perintah.
" Iya iya.."
Usai menanggapi perkataan Dara ia mengambil ponsel Faozan.. mencoba mengingat sandi nya dan untunglah ia berhasil hingga ia bisa menghubungi Dara lewat WA nya Faozan..
Seseuai perkataan Dara ia melakukan panggilan Video..
Dara pun langsung menjawab begitu panggilan itu masuk..
Dara.
" Ya udah mana Ozan nya aku mau lihat."
Seperti seorang anak yg patuh sama ibu nya Irwan teman nya Faozan itu menurut saja.. ia memperlihatkan Faozan yg tengah terkapar tak sadarkan diri itu.
__ADS_1
Dara yg melihat itu benar² merasa bersalah.