
Akhir nya setelah menyelesaikan semua administrasi dan segala prosedur Rumah Sakit.. sekitar jam 4 sore Dara bisa keluar dari Rumah Sakit itu.
Perjanjian dengan Dokter Alex.. kalau 2 hari lagi Dara harus menemui Dokter Alex untuk membuka perban yg ada di kepala nya.
Dengan pelan Dara ingin turun dari ranjang tempat dimana ia duduk dan berbaring tadi.
Melihat hal itu dengan cepat Faozan menghampiri nya untuk membantu.. Di saat yg bersamaan pula Dimaz juga berniat yg sama.
Ia juga mendekati Dara.
" Ayo aku bantu." Dimaz dan Faozan berkata bersamaan.
Kemudian mereka berdua saling menatap sinis.
Dara menyadari itu.. hingga ia menolak kedua nya.
" Nggak usah.. aku bisa sendiri kok." jawab nya meski agak lemas tapi ia masih kuat untuk berjalan.
" Yakin kamu?." tanya Faozan.
Dara hanya mengangguk dan mulai berjalan pelan.. diikuti oleh Dessy.. Dimaz dan juga Faozan.
Kedua orang tua Dara sudah menunggu di luar RS tersebut.
Namun belum lagi kaki nya mencapai ambang pintu.. kepala nya mulai sedikit berdenyut.. hingga dengan spontan ia memegang kepala nya sendiri.
" Kamu kenapa?." tanya Faozan cemas dan juga gesit.
Dara hanya menggeleng.
" Sudah lah ayo aku bantu." kata Faozan seraya mendekatkan diri nya ke Dara berniat memapah gadis itu.. dan disisi yg satu nya lagi Dimaz juga ingin melakukan hal serupa.
Dara menyadari jika ia menerima nya maka perasaan Dessy pasti hancur.. karna ia tau Dessy sangat mencintai Dimaz... Belum lagi Faozan.. ia pasti marah banget.
__ADS_1
Namun kalo ia menolak.. kedua nya pasti kecewa.
" Dess.. kamu aja ya yg bantu aku." begitu akhir nya kata Dara.. iya hanya itulah cara yg tepat dan terbaik.
Dessy segera menghampiri Dara dan menuntun Dara untuk berjalan.
Sementara Faozan dan Dimaz hanya bisa menyaksikan dan mengikuti dari belakang.
Sampai di parkiran Rumah Sakit.. Dara langsung di hampiri oleh kedua orang tua dan juga kakak dan kakak ipar nya.. bahkan ada juga tadi kakak sepupu nya istri.
" Dara.. kamu naik mobil nya Kak Aldy aja ya!." Ibu nya Dara langsung memberi saran.. sebab nggak mungkin Dara naik motor dengan kondisi nya yg masih belum pulih betul.
" Nggak usah Bu.. biar Dara naik mobil ku saja." tukas Dimaz.
Dara menatap Faozan sejenak.. terlihat jelas ketidak setujuan Faozan atas perkataan Dimaz.
Saat itu Dara berniat menolak.. namun tiba² kakaka sepupu nya Dara langsung bicara setelah ia menutup telpon nya.
" Dek.. maaf ya kakak nggak bisa anter kamu sampe rumah.. kakak baru saja mendapat telpon.. ada kasus darurat.. jadi kakak harus kembali ke kantor dulu."
Memang beberapa bulan yg lalu saat Aldy tau Dara sakit.. ia sempat berjanji pada Dara jika Dara sembuh maka ia akan memberikan hadiah.. terserah Dara mau handphone atau motor pilih aja.. tapi kalo lebih dari seharga motor dia tak sanggup.
" Iya kakak nggak lupa kok.. tenang aja.. kamu mulailah fikirkan apa yg kamu mau." setelah itu ia memeluk Dara sejenak dan mencium kening adek sepupu nya itu.. meski dia sudah beristri dan Dara sudah dewasa namun mereka berdua tak merubah sikap nya.. karna meski bukan saudara kandung.. tapi Aldy sudah seperti kakak kandung Dara sendiri.. karna memang Ayah nya Aldy adalah kakak kandung ayah nya Dara.. jadi masih sedarah lah.
" Kakak duluan ya.. jaga dirimu baik² ingat jangan bandel.. nurut ama Paman dan bibi.". tegas nya.
" Iya kak.". sahut nya pelan.
Aldy melangkah dan mulai meninggal kan parkiran Rumah Sakit itu.
Dara mengerti dengan profesi kakak nya yg seorang Polisi itu.. yg sangat sibuk.. bahkan kadang hari lebaran aja nggak ada kata libur.
Karna Aldy sudah pergi mau tak mau Dara naik mobil nya Dimaz.
__ADS_1
Disana juga sempat terjadi perdebatan.. karna Dimaz meminta Dara duduk di sebelah nya yaitu didepan.. sementara Faozan tentu saja tak mengizinkan dan meminta Dara untuk duduk di belakang bersama nya.
" Hey.. inikan mobil ku.. jadi terserah ku donk mau nyuruh Dara duduk dimana.". tegas Dimaz saat dia berdebat dengan Faozan.
" Aku tau ini mobil punya kamu.. tapi bukan berarti kamu bisa seenak nya saja.. kalo begini cara mu akan lebih baik Dara pulang dengan ku kami akan pesan taxi online aja." Sambil berkata Faozan meraih tangan Dara untuk membawa nya pergi jauh dari depan mobil Dimaz itu.
" Eh kamu jangan egois.. Dara masih belum sembuh betul.. ia harus cepat² istirahat.. kalo nunggu taxi online kelamaan.". Dimaz meraih tangan Dara yg satu nya lagi.
Jadi posisi sekarang adalah saling tarik menarik.. dan Daralah yg jadi korban.
" Lepas." Dara yg tadi diam mulai membuka suara nya.. karna tangan nya sungguh sakit..
" Tangan ku sakit.. kalian berdua udah benar² nggak sehat." kata nya kesal.
Dengan sigap Dimaz dan Faozan melepaskan tangan mereka.
" Aku masih punya hak untuk menentukan pilihan ku sendiri nggak nih?." tanya Dara kemudian..
" Atau justru aku harus menjadi boneka kalian berdua.". sambung nya.
" Kamu bebas menentukan pilihan." jawab Faozan.
" Iya.. sekarang kamu pilih.. ikut naik mobil ku atau taxi online dengan nya."
" Aku dan Faozan akan ikut dengan mobil mu.. tapi di belakang.. biar Dessy yg menemani mu di depan..."
Saat Dimaz baru saja mau membuka mulut untuk menyela Dara segera menyergap nya.
" Ini keputusan Final.. tak bisa di ganggu gugat."'
Kemudian ia menarik tangan Faozan dan masuk di bagian belakang mobil Dimaz.
Dimaz sudah tak punya pilihan.. begitu juga dengan Faozan meski ia enggan naik mobil pria itu.. namun ia tak mungkin membiarkan Dara bersama Dimaz... tanpa pengawasan nya.
__ADS_1
Dimaz mulai masuk ke dan duduk di kursi kemudi.. di susul Dessy yg duduk di sebelah nya.
Dengan perasaan kecewa Dimaz mulai menjalan kan mobil nya pelan meninggalkan parkiran Rumah Sakit dan menuju rumah Dara.