
Setelah permintaan nya ditolak tegas oleh Dara.. Faozan berniat untuk tidak menghubungi Dara lagi.. namun sayang ia tak mampu menahan nya hingga ia pun menelpon Dara.
Dara.
" Hallo Asalamualaikum."
Faozan.
" Waalaikum sallam.... aku ganggu nggak nih?." tanya nya.
Dara.
" Nggak kok."
Faozan.
" Maaf ya karna aku belum bisa ngelupain kamu."
Dara.
" Nggak apa² kok justru aku yg harus nya minta maaf.. karna aku telah menyakitimu."
Faozan.
" Sekarang aku udah nggak peduli lagi dengan sakit yg aku rasakan saat ini..aku hanya ingin tahu apakah sampai saat ini kamu masih sayang padaku?." lagi² pertanyaan itu yg ia tanyakan.
Dara.
" Tentu saja."
Faozan.
" Kalau begitu apakah kamu masih ingin menjalin hubungan seperti dulu.. karna aku bersedia meski hanya jadi selingkuhan mu."
Dara.
" Apa kamu sadar dengan apa yg kamu ucapin.. jangan bodoh.. ini tidak lah benar."
Faozan.
" Aku nggak peduli aku hanya ingin kamu yg menjadi pacar ku dan juga istri ku."
Dara.
" Tapi dengan seperti ini.. yg ada aku akan malah makin menyakiti kamu."
Faozan.
" Aku sudah siap apapun resiko nya.. bahkan untuk merebut mu dari suami pun aku siap untuk melakukan nya."
Dara tersentak kaget mendengar nya.. ia tak menyangka kalau Faozan akan senekat itu.
Dara.
" Apa kamu yakin?."
Faozan.
" Sangat yakin.. bahkan jika saja kau dekat aku pasti sudah membawa mu lari.. dan kita akan pulang setelah kita menikah.. tapi sayang nya kamu jauh.. namun aku janji paling lama 2 bulan lama nya aku akan kirim uang buat kamu dan kamu harus pergi dari sana.. dan kita bertemu.. apa kamu mau melakukan itu."
Dara.
" Iya." entah mengapa Dara meng iya kan begitu saja.
Hari itu mereka merencanakan untuk kabur bersama.. setelah Foazan punya uang.. bahkan dengan mantap nya Faozan siap menerima Dara apa ada nya.
2 hari berikut nya di tengah pembicaraan mereka Dara sempat bertanya pada Faozan..
Dara.
" Sayang.. jika kamu di suruh memilih.. kamu pilih di tinggal nikah atau di tinggal mati oleh orang yg kita sayang?." Faozan bingung kenapa tiba² Dara bertanya begitu.
Faozan.
" Lebih baik dia menikah.. karna aku masih bisa melihat nya.. kalau dia meninggal aku nggak akan bisa melihat nya lagi."
Dara.
" Lalu sakitan mana?."
Faozan.
" Udah jelas sakitan di tinggal selama nya lah sayang."
Dara.
" Lalu saat ini apa kah kamu nggak membenciku.. Setelah semua yg aku lakuin pada mu?." Dara terus bertanya.
Faozan.
__ADS_1
" Jujur aku benci kamu.. aku kecewa sama kamu.. tapi tetap saja rasa sayang ku pada mu lebih besar dari rasa benci itu."
Dara.
" Oh iya.. seandai nya kamu mempunyai seorang pacar yg ternyata sakit parah.. apa yg akan kamu lakuin?."
Faozan.
" Aku akan tetap menerima nya apa ada nya.. justru disaat seperti itu dia benar² membutuhkan aku.. aku akan berusaha untuk jadi penyemangat nya."
Dara.
" Eem.. kamu baik banget ya." sahut Dara lega mendengar nya.
Faozan.
" Kan dari dulu aku memang baik... kamu nya aja yg lebih memilih Rafly."
Dara.
" Udah dech nggak usah bawa² dia.. saat aku lagi bersama mu jangan pernah ingat yg lain hanya tentang kita saja."
Faozan.
" Iya iya.. tapi aku masih tetap nggak habis fikir salah ku tuh apa? sampai kamu terima dia?."
Dara.
" Kamu ingin tau alasan nya?."
Faozan.
" Iya katakanlah."
Dara.
" Kamu ingat saat pernikahan teman kamu.. saat itu aku sering hubungin kamu.. "
Faozan.
" Tapi aku selalu angkatkan.". Faozan memotong pembicaraan Dara.
Dara.
" Benar tapi hanya sebentar doank.. oke aku coba memaklumi karna kamu sibuk.. hingga saat acara nya telah selesai tapi malam nya juga kamu tak memberi kabar sama sekali..."
Faozan.
Dara.
" Oke aku ngerti kamu cape.. tapi apakah benar saat kamu bisa On di WA dan di FB tapi nggak bisa ngabarin aku.. walau hanya untuk sebuah chatt." Dara yg balik motong perkataan nya.
Faozan.
" Iya aku memang On tapi hanya sebentar doank... itupun cuma buka grup Timnas.. bukan inbox atau chatt yg lain nya... kan kamu tau sandi FB aku apakah ada aku inbox sama cewek lain."
Dara.
" Emang nggak ada.. tapi saat itu aku juga sempat baca inbox kamu sama Tiana.. dan dia bilang pada mu kalau ia akan pulkam jadi..."
Faozan.
" Jadi kamu fikir aku bertemu dengan nya hingga aku ngga ngabarin kamu gitu." Faozan memenggal bicara Dara langsung ia tahu maksud dari perkataan Dara toh bukan baru sehari dua hari ini dia mengenal Dara meski hanya jarak jauh.. tapi ia sudah paham bagaimana jalan fikiran Dara.
Dara.
" Eeem.. iya." Sahut nya cengengesan karna Foazan dapat menebak apa maksud nya.
Faozan.
" Demi Allah nggak seperti itu sayang.. iya benar Tiana bilang ia akan pulkam.. tapi aku nggak peduli itu.. aku inbox an ama dia hanya sedekar untuk tidak memutuskan tali silaturahmi... hanya itu saja.. sedikitpun aku nggak punya rasa lagi pada nya.. dia adalah masa lalu ku.. dan aku juga pernah bilang pada mu aku pacaran sama dia paling lama sekitar satu bulan jadi dia itu sama sekali nggak pantes untuk kamu cemburui."
Dara.
" Iya iya aku salah.. tapi yg nama nya juga manusia dan aku rasa nggak salah juga kan kalau aku cemburu."
Faozan.
" Nggak kok kamu nggak salah.. malah aku senang karna dari sini aku tau kalau kamu beneran sayang sama aku.. tapi nggak harus berlebihan juga sayang."
Dara.
" Ehehehe.. maaf."
Faozan.
" Udah nggak apa².. tapi apakah karna kamu fikir aku masih berhubungan sama Tiana maka nya kamu terima lamaran si Rafly?."
Dara.
__ADS_1
" Iya." Jawab nya jujur.
Faozan.
" Tanpa berfikir panjang apakah kamu akan bahagia dengan nya.. dan tanpa mikirin apa yg akan terjadi pada ku."
Dara.
" Aku sempat berfikir kok.. aku fikir mungkin lebih baik kita jalan masing².. kamu sama dia dan..."
Faozan.
" Dan kamu sama Rafly." Faozan menyela lagi.. " Gampang banget kamu berfikir begitu kamu nggak pernah mikirin apa yg aku rasain.. gimana sakit nya hatiku.. gimana hancurnya perasaan ku.. yg kamu fikirin hanyalah kebahagiaan mu sendiri.. kamu.."
Dara.
" Maaf." Dara menyela dengan rasa bersalah.
Faozan.
" Kamu nggak tau dampak semua ini bagi ku.. hari itu aku sempat berfikir untuk menjadi diriku yg dulu.. aku ingin kembali mereguk miras itu untuk membuat ku tenang dan melupakan rasa sakit ini walau hanya sejenak.. tapi aku ingat kalau aku sudah berjanji pada mu bahkan pada diriku sendiri aku ingin menjadi lebih baik.. dan aku juga masih ingat nasehat kamu.. dimana kamu bilang saat sedang ada masalah minuman bukan lah pelarian yg tepat.. tapi Shalat lah agar kamu bisa tenang.. maka nya aku mencoba menuruti itu.. dan kamu benar.. tapi dari sana aku juga sadar kalau kalau aku benar² nggak akan bisa hidup tanpa mu."
Dara.
" Maaf in aku.. aku nggak nyangka akan segitu
berpengaruh nya ini untuk mu.. karna selama ini hubungan kita hanyalah di dunia maya kita bahkan tak pernah bertemu."
Faozan.
" Nggak pernah bertemu bukan berarti kata² sayang ku adalah palsu.. aku nggak seperti dirimu yg hanya pura² sayang."
Dara.
" Eh siapa bilang aku pura² sayang.. aku nggak pura² aku beneran sayang." Dara tak mau ngalah.
Faozan.
" Kalau nggak pura² kamu nggak akan terima lamaran orang lain.. saat kita sudah rencanain semua nya untuk menata masa depan kita."
Dara.
" Iya iya maaf.. udah dech nggak usah bahas itu lagi."
Faozan.
" Aku udah maaf in kamu kok.. cuma kadang aku nggak habis fikir aja.. demi kamu aku bahkan mau menjadi orang yg jahat.. orang yg berniat merebut istri orang."
Dara.
" Kalau kamu nggak mau jadi PHO.. maka ikhlasin aja." Tanpa dosa ia bicara seperti itu.
Faozan.
" Itu juga nggak mungkin.. aku nggak mau jadi orang yg munafiq yg di mulut bilang ikhlas.. padahal hati tak pernah rella.. bahkan setiap kali shalat aku berdo'a agar pernikahan kalian batal."
Dara.
" Apa?." Dara berkata kaget.
Faozan.
" Iya itulah yg aku harap kan agar kamu tak menikah selain dengan ku... karna aku nggak akan bisa terima kamu bersama orang lain."
Dara.
" Udah lah yg penting sekarang ini kita udah kayak dulu.. apa kamu nggak senang?."
Faozan.
" Senang sich senang tapi hanya saat aku lagi bicara pada mu.. kalau setelah itu aku menjadi gusar.. apa yg kamu lakukan dengan nya.. apakah kamu bicara dan bertemu dengan nya.. atau berapa lama kamu telponan sama dia.. dan memikirkan itu semua rasa nya sangat sakit."
Dara.
" Lalu kenapa kamu nggak benci aku saja."
Faozan.
" Aku ingin lakukan itu.. tapi hati ini nggak bisa."
Dara.
" Lalu menurut mu apa yg harus aku lakukan? agar kamu bisa tenang dan kamu nggak ngerasa jadi PHO dan orang yg jahat?."
Faozan.
" Batalin pernikahan kamu.. kalau kamu memang sayang dan ingin hidup bersama ku."
Dara tersentak kaget mendengar nya.. ia tak menyangka Faozan akan memberikan ide segila itu.
__ADS_1