
Selepas shalat isya.. Dara beserta seluruh keluarga nya makan malam.
Selama makan tak ada perbincangan sama sekali diantara mereka.
Masing masing hanya fokus menyantap makanan.
Usai makan yg lain sudah istirahat dikamar masing masing.. hanya tersisa Ibu nya Faozan & Dara yg membereskan meja makan dan juga mencuci perlatan makan mereka tadi.
Setelah semua nya beres.. sama seperti yg lain Ibu nya Faozan & juga Dara istirahat di kamar masing masing.
Begitu Dara masuk kedalam kamar nya.. ia sama sekali tak melihat Faozan.
Hingga Dara melihat nya berdiri sambil menerima telpon di balkon kamar mereka.
Dara tak tau bicara pada siapakah Faozan.. yg ia dengar Faozan sempat menyebut kata Ti.. mungkin kah Faozan tengah bicara dengan Tiana mantan pacar nya itu.
Dara tak tau.. sebab belum lama Dara berada di balkon itu.. Faozan langsung menyudahi pembicaraan nya.
“Sayang.. sejak kapan kamu disini?.” Tanya Faozan setelah dia menutup telpon nya.
“Baru aja kok.. aku nggak liat kamu di kamar maka nya aku cari kamu.. eh nggak tau nya disini.” jelas Dara.
“Siapa yg telpon barusan?.” Tanya Dara terus terang.
“Temen lama.” sahut Faozan.
“Cowok atau cewek?.” tanya Dara lagi.
“Cowok lah Sayang.” sahut Faozan sambil menarik pinggang Dara agar berdiri lebih dekat dengan nya.
“Oh.” hanya itu tanggapan Dara.. sebab yg ia dengar tidaklah demikian.. itu adalah suara perempuan.. belum lagi tadi dia juga sempat dengar kalo Faozan menyebut nama Ti.
Siapa lagi kalo bukan Tiana.. apa lagi tadi siang Tiana sempat chatt.. Lalu kenapa Faozan berbohong pada nya.. itulah yg ada dalam fikiran Dara.. sehingga dia hanya terdiam memikirkan semua itu.
“Kamu mikirin apa sich Sayang?.” pertanyaan Faozan kali itu membuyarkan lamunan Dara.
“Bicara di dalam aja yukk.. dingin disini.” ajak Dara mencoba tersenyum.
Faozan pun menuruti nya.. hingga mereka pun mengobrol didalam kamar.
Mereka bedua duduk di sofa yg memang ada di dalam kamar tersebut.
“Sayang kamu ngerasa ada aneh nggak dengan sikap nya Dr.Farez?.” Faozan yg memulai pembicaraan.
“Maksud nya?.” Dara bertanya tak mengerti.
“Gini loh.. mengapa dia begitu baik pada mu.” jelas Faozan akhir nya dia baru berani mengatakan apa yg ada di dalam hati nya sejak tadi.
Dara tak menanggapi perkataan Faozan dia hanya menatap sang suami dengan penuh pertanyaan.
__ADS_1
“Yg pertama begitu dia tau kamu melamar pekerjaan di RS nya langsung saja dia mempercayakan RS itu pada mu.. yg kedua dia juga bela belain mau buka klinik buat kamu.. dan yg terakhir.. dia nggak sayang kasih hadiah semahal itu buat kamu.. Tidak kah menurut mu itu telalu berlebihan jika untuk seorang rekan kerja saja.. kecuali kalo memang dia punya tujuan lain.” jelas Faozan.
“Tujuan lain apa maksud mu?.” Dara bertanya tak mengerti.
“Iya bisa saja kan dia itu suka atau punya perasaan terhadap mu..” sahut Faozan tegas.
“Ngacok kamu.. Aku rasa nggak begitu.” sangkal Dara.
“Aku nggak tau kamu memang tak menyadari nya atau kamu sengaja menutup mata karna kamu juga menyukai nya.” entah mengapa tuduhan itu keluar dari mulut Faozan sebenar nya dia tak bermaksud menuduh tapi terus terang sebagai seorang suami dia tak suka terhadap Dr.Farez yg menurut nya terlalu berlebihan..
Dia juga seorang lelaki hingga tau betul nggak mungkin dia rela berbuat apapun tanpa beharap sesuatu.
Apa lagi dengan yg di lakukan Dr.Farez.. memberikan sebuah mobil mewah.. dan ingin membuka klinik untuk orang itu.. atas dasar apa kecuali memang dia mempunyai perasaan khusus terhadap Dara.
Setidak nya itulah yg ada di benak Faozan.
“Kamu bicara apa sich.. Nggak ada hal yg seperti kamu fikirkan.. Dr.Farez hanya ingin membantuku dengan membangunkan sebuah klinik.. dan mengenai mobil ini ya aku tau ini adalah hadiah yg dia berikan pada ku.. tapi aku rasa dia cuma ngasih aja nggak ada maksud lain kok.” bantah Dara tegas.
“Kamu aja yg berfikir nya terlalu berlebihan.. Sampai kamu menuduh aku punya perasaan pada nya.. Itu sama sekali nggak benar.” lanjut Dara kesal.. dia merasa terluka atas tuduhan Faozan barusan.
“Aku nggak berlebihan.. aku bisa melihat dari cara nya menatap mu tadi.. saat kalian berbicara di dekat mobil nya tadi.” Faozan mulai bicara dengan nada yg agak tinggi.
“Oh iya.. gimana cara dia menatap ku.. apakah sama dengan cara mu menatap ku?.” Tutur Dara masih tak terima.
“Iya kurang lebihnya seperti itu..” jelas Faozan.
“Ehmmz.” Dara mendengus sinis.
Bahkan sambil dia mulai bangkit dari tempat duduk nya untuk menjauhi Faozan.
“Bukan aku yg ada apa.. tapi kamu.” tegas Faozan.
“Kamu mau ngajak berantem?.” tanya Dara ketus.
Faozan mengambil nafas dalam.. tak biasa nya Dara bicara ketus begitu.
Akan tetapi Dara memang sangat kesal saat itu.. bukan lantaran perkataan Faozan.. tapi dia kesal karna Faozan berbohong pada nya dan malah menuduh.
Mendengar perkataan Dara.. Faozan juga mulai berdiri dan perlahan mendekati Dara yg masih berdiri membelakangi nya.
Begitu sudah berada di dekat Dara.. perlahan diraih nya lengan Dara dan menghela tubuh Dara agar menghadap pada nya.
Dara hanya diam dan membuang pandang nya.. karna merasa marah sedikitpun Dara tak ingin menatap wajah sang suami.
Namun Faozan tak akan membiarkan itu.. oleh sebab itulah ia meraih dagu Dara dan menghela agar Dara menatap wajah nya.
“Tatap aku.” tutur Faozan kemudian kali ini dia berkata pelan.
Namun sikap keras kepala Dara membuat nya tak menuruti perkataan Faozan.. hingga sekali lagi dia melempar pandangan nya kearah lain.
__ADS_1
Faozan sudah menduga itu.. sebab bukan baru sehari dua hari saja dia bersama Dara.. tapi sudah hampir 5 tahun lama nya.. mulai dari mereka pacaran hingga menikah.
Jadi Faozan paham betul kalo istri nya ini sangat keras kepala.
Melihat reaksi Dara sekali lagi Faozan menghela wajah Dara agar menatap diri nya.
“Aku tau kamu marah pada ku.. dan kamu berhak untuk itu.. tapi setidak nya kita bisa bicarakan ini dengan baik baik.” Jelas Faozan lembut.
Namun Dara tak menanggapi nya.. dia memang menatap sang suami tapi dia tak membuka mulut nya.
Karna tak ada tanggapan dari Dara.. Faozan mencoba bicara lagi.
“Aku minta maaf atas perkataan ku tadi.. sebenar nya aku nggak bermaksud menuduh mu apalagi melukai perasaan mu.. tapi ku harap kamu mengerti.” lanjut Faozan kali ini dengan nada suara menyesal.
“Gimana sich rasa nya jika kamu yg ada di posisi aku? Dimana aku menyaksikan sendiri orang yg aku sayangi begitu dekat dengan orang lain.. apa lagi jika dilihat lihat orang itu lebih segala nya dari pada Aku.. apakah dengan semua itu aku nggak merasa takut.. cemas bahkan khawatir.” lanjut Faozan dengan perasaan sedih bahkan juga kecewa.
Dara mengambil nafas dalam sambil mencerna semua perkataan Faozan.
Di tatap nya kedua bola mata sang suami yg terlihat sangat risau bahkan juga takut.
Dengan raut wajah yg terlihat begitu murung.
Hati nya mulai melunak.. bahkan Dara merasa bersalah.
Hingga dengan pelan dia menyentuh lembut pipi suami nya itu.
“Apa sich yg membuat mu takut.. Cemas atau khawatir?.” Tanya Dara kemudian.
“Banyak hal.” sahut Faozan singkat.
“Apa itu?.” tanya Dara pelan.
“Takut suatu saat kamu akan mencintai Dr.Farez karna dia lebih baik dari ku.. Cemas bagaimana jika pemikiran ku tentang Dr.Farez itu memang benar bahwa dia menyukai mu.. dan khawatir karna aku nggak mau kehilangan mu.” jawab Faozan apa ada nya..
Iya itulah yg selama ini dia rasakan.
Dara terdiam sejenak mendengar perkataan Faozan.
Sungguh miris memang.. Faozan merasa tak terima akan kedekatan nya dengan Dr.Farez.. yg hanya sebatas rekan kerja dan teman saja.
Lalu bagaimana dengan perasaan nya saat dia tau suami nya berbohong pada nya mengenai mantan pacar nya yg selama ini selalu chatt dan menelpon nya.
Itu rasa nya lebih sakit lagi bukan.
Tapi tidak.. Faozan hanya tau perasaan nya sendiri tak pernah melihat apa yg di rasakan Dara.
Dara bisa saja membahas hal yg sama tentang Tiana.. tapi dia tak akan melakukan itu.. Dara ingin mencoba untuk selalu percaya pada Faozan.. jika memang Faozan mencintai nya maka dia yakin Faozan tak akan merahasiakan apapun dari nya.. Cepat atau lambat Dara berharap Faozan akan bercerita hal yg sebenar nya pada Dara.
Lalu akan kah Faozan berkata yg sebenar nya atau justru tetap diam??
__ADS_1
Dan bagaimana kah tanggapan Dara mengenai perkataan Faozan barusan???