
" Dara kamu belum jawab." Tutur Alfian yg dari tadi menyadari kalo Dara hanya diam.
Dara tersenyum sekilas.. bergantian ia menatap Dessy & Cintya.
" Aku hanya ingin seorang lelaki yg mengerti arti tanggung jawab.. yg mencintaiku apa ada nya.. yg mau mendampingiku dalam keadaan susah ataupun senang.. yg tetap bersamaku dalam keadaan sehat ataupun sakit.. serta yg mau menerima semua kekurangan & kelebihan ku." jawab Dara apa ada nya.
Alfian menatap Dara dengan mata yg tak berkedip.. entah mengapa ada rasa kagum dalam hati nya saat mendengar jawaban Dara.. yg menurut nya sangat sederhana dan tak mulu mulu.. sungguh luar biasa.. Fian menyukai pola fikir Dara.
"Meski dia nggak setia?." sambung Dessy.
" Dess.. kita realistis donk.. jika seorang lelaki benar benar tulus ama kita.. jangan kan seribu wanita.. sejuta pun akan dia tolak demi kita.. jadi inti nya ke tulusan cinta itu yg penting." sahut Dara.. yg lagi lagi menyita perhatian Alfian.
Faozan & Dimaz hanya tersenyum.. sebab mereka hafal dan paham betul sifat Dara.
" Lalu apakah kenyang gitu cuma makan cinta doank." Celetuk Cintya.
" Gini ya Cin.. biar kamu puas.. aku akan tanya ama cowok cowok disini.. jika kalian mencintai seseorang apakah kalian akan tega membiarkan dia kelaparan?." Dara bertanya pada Faozan.. Rama.. Dimaz & juga Fian.
" Tentu saja tidak." sahut Fian.. Rama & Dimaz.
" Sebisa mungkin kita pasti berusaha buat memenuhi kebutuhan dia.. apa lagi masalah makan.. dan aku juga yakin saat seseorang mulai serius mencintai maka semangat nya untuk mendapatkan orang itu akan menjadi motifasi agar dia berusaha lebih banyak lagi." sambung Faozan.
" Apa kamu paham Cin?." tanya Dara... sambil menatap lekat Cintya.
" Kalo masih kurang paham.. biar aku jelasin maksud mereka.. yaitu jika mereka mencintai maka tak mungkin mereka membiarkan kita kelaparan.. bahkan aku sangat yakin jika bisa semua kemuan kita akan mereka turuti bukan karna mereka mampu tapi karna mereka cuma ingin orang yg mereka sayang merasa bahagia.. maka kita sebagai seorang wanita harus sadar akan situasi dan juga kondisi mereka.. mintalah yg wajar dan yg mereka mampu.. sebab pada dasar nya sebagai pasangan kita wajib menerima kekurangan n kelebihan masing masing.. saling pengertian.. saling mengingatkan saling terbuka..Saling percaya.. serta saling menghargai.. jika semua itu di terap kan dalam hubungan insya Allah.. apapun masalah nya.. maka kita akan bisa menyelesaikan tanpa saling menyakiti." Dara menjelaskan panjang lebar.
Sontak membuat Cintya.. Dessy & Faozan terdiam.
Dessy merasa malu karna ia selalu ingin cari pasangan yg kaya dan ganteng.
Sementara Cintya berharap yg bisa memenuhi kemuan dia..
Sedangkan Faozan.. ia merasa perkataan Dara seolah mengingatkan dia bahwa selama ini dia sering egois.. kadang tak percaya.. kadang menuduh.. & sering ia tak menghargai sikap Dara yg sering marah marah nggak jelas menurut nya.
Namun ia juga sadar.. kalo Dara benar benar sayang sama dia.
Setelah berkata.. Dara melihat ke semua teman teman nya yg mulai pada diam.
" Kok pada diem.. apa aku salah ngomong?.". tanya Dara.
" Nggak kok.. justru kami sangat kagum sama jawaban kamu barusan.. kamu benar Ra.. sangat benar." sahut Dessy.
" Setuju." sambung Cintya.
" Oh iya Ra.. lalu gimana tentang fhisik.. apa kamu nggak malu jika seandai nya pacar atau suami kamu itu jelek.. kan sudah pasti saat bertemu teman teman yg pertama mereka tanyain itu pasangan kita iyakan." Rama angkat bicara.
" Cantik & Tampan itu relatif.. tergantung penilaian setiap orang.. Contoh nya gini.. bagi Dessy..Dimaz itu ganteng.. tapi belum tentu kan setiap cewek punya pendapat yg sama.. atau bisa juga sebalik nya.. menurut Dimaz aku ini Manis.. namun belum tentu menurut Faozan.. iyakan... jadi menurut ku kalo masalah wajah itu nggak penting.. yg penting hati nya non." tegas Dara lagi.
" Wiiih... salut Ra aku ama kamu.. sumpah baru sadar aku kalo kamu itu dewasa banget.. & Luar biasa banget." tutur Rama.
" Udah dech Ram.. nggak usah ngejek kenapa sich.. aku kan cuma nyampein cara berfikir aku." tutur Dara.
" Kok ngejek sich Ra.. sumpah aku serius.. selama ini yg aku tahu kamu itu cuma seorang gadis yg keras kepala kadang juga kekanak kanakan.. tapi hari ini aku mengetahui sisi yg berbeda lagi." ujar Rama.
" Rama.. Rama.. kalo kamu mau gombal ama orang lain aja jangan sama aku." Dara berkata sambil tertawa pelan.
" Ya udah kita kembali ke topik semula nih." Dimaz menyela.
" Nah Fian kan udah dengar jawaban dari mereka bertiga.. jadi kira kira siapa yg akan kamu pilih.. atau ada pertanyaan lagi?." sambung Dimaz lagi.
" Nggak ada cukup itu saja.. sebab itu udah cukup untuk aku mengetahui sifat serta sikap dari mereka bertiga." jawab Alfian tegas.
" Ya udah kalo gitu.. cepatan kasih tau kami.. siapa yg kamu pilih." kata Faozan.
Ia penasaran apa tipe cewek yg di sukai sahabatnya itu.
Setahu nya Fian menyukai wanita yg cantik.. jadi jika demikian pastilah pilihan Fian itu Cintya.
__ADS_1
Sebab Cintya itu sangat Cantik.
Dara & juga tak kalah cantik sebenar nya.. tapi Faozan yakin Fian tak akan menyukai Dessy.. karna Dessy terlihat angkuh..
Sedangkan Dara.. tak selintas pun Faozan menempatkan dalam fikiran nya jika Fian akan memilih Dara.
Sebab Faozan tahu Dara istri nya.. jadi sebagai seorang suami ia tak akan mau berfikir jika ada lelaki lain yg menyukai istri nya itu.
" Eeem.. siapa ya kira kira." kata Fian sambil pura pura berfikir sebab ia sudah tahu siapa yg akan dia pilih.. Fian berkata begitu agar semua orang penasaran saja.
Bergantian Fian mentap Dessy.. Cintya dan juga Dara.
Namun saat menatap Dara lama Fian tak mengalih kan pandangan nya.
Dimaz yg menyadari makna tatapan Fian langsung angkat bicara.
" Awas salah pilih.. bisa bisa seseorang disini marah besar." tutur Dimaz menatap Fian & Faozan bergantian.
Fian hanya tersenyum.. sementara Faozan bingung.. kenapa tiba tiba Dimaz berkata demikian.
Tapi Faozan tak mau ambil pusing.. toh iya juga tau itu hanya perumpaman.. bukan perasaan yg serius.. lagi pula ia yakin pasti Cintya yg di pilih Fian.
"Fian ayo jangan bikin kami menunggu lama." Rama mulai tak sabar.
Lagi lagi Fian mulai menatap lekat Dara.. namun Dara tak melihat itu.. sebab ia hanya fokus pada Dessy & Cintya.
Sama hal nya dengan Faozan.. Dara menerka pilihan Fian pastilah Cintya.
" Apa yg harus aku berikan sebagai tanda kalo aku pilih dia nih?." Fian mulai bertanya.
" Kamu berikan saja ponsel mu.. dan yg di pilih harus memasukan no ponsel nya di hp Fian.. biar bisa kontek siapa tahu benar benar lanjut." jawab Faozan tanpa beban.. bahkan dengan tersenyum senang.
Faozan tak berfikir bagaimana jika itu menjadi sebuah boomerang bagi nya.
Mendengar hal itu.. Fian mulai menghampiri satu persatu wanita disana.
Fian berhenti di hadapan Dara.. sambil mengeluarkan ponsel nya.. saat itu Faozan sudah mulai deg deg kan.
Namun sesaat kemudian Fian berjalan ke hadapan Cintya.. saat itu dia mengulurkan ponsel nya.. tapi tidak berkata apapun.. Cintya pun tak mengambil ponsel Fian lantaran belum ada aba aba dari Fian yg mengatakan kata.. " Nih." misal nya.
Dan untung Cintya belum mengambil nya.. sebab sesaat kemudian Fian beralih.. kehadapan Dessy.. kali itu Fian tak memberikan ponsel nya tapi hanya bicara.
" Boleh minta no kamu?." sontak semua orang menatap Fian bingung.
" Ahaha." Dessy tertawa..
" Peraturan nya nggak gitu kan." Lanjut Dessy lagi.
Fian tersenyum.
Kemudian Fian mulai duduk di sebelah Dessy... tepat nya diantara Dessy dan Dara.. sebab Dessy & Dara duduk berdampingan hanya saja ada jarak yg kini terisi oleh Alfian.
Semua orang memperhatikan mereka dengan tersenyum.
" Fian memilih Dessy." Faozan & Dara bergumam dalam hati mengatakan hal yg sama.. dan saling bertukar pandang.
Fian kembali mengambil ponsel nya yg tadi sempat ia masukan ke dalam saku kemeja nya.
Kali ini Fian mengalihkan pandangan nya pada Dara.. sambil mengulurkan posel itu.
" Silahkan save no kamu di ponsel ini." Fian berkata pada Dara... sambil memberikan ponsel itu pada Dara.
Tentu saja itu membuat Dara kaget setengah mati karna tebakan nya benar benar salah.
Suasana di sana menjadi sangat hening.. tak ada satu orang pun yg bersuara.
"Haaaa... haruskah itu?." Dara bertanya pada Fian & semua orang.
__ADS_1
" Haruslah kan kita udah sepakat tadi.. lagian jujur ya Dara.. sejak aku lihat kamu untuk pertama kali tadi aku udah mulai tertarik ama kamu.. dan aku makin kagum sama kamu saat mendengar semua jawaban kamu tadi.. dari sana aku tahu.. kamu bukan gadis biasa oleh..." Fian tak sempat menyelesaikan perkataan nya.. karna dengan segera Faozan menyergap bicara Fian.
" Cukup.". Tegas nya.. sambil menatap tajam Alfian.. tapi saat itu Alfian belum tau apa maksud dari teman nya itu.
Dara menatap lekat pada Faozan.
Dara tahu kalo saat itu Faozan mulai kesal.
" Loh kenapa Zan.. bukan kah tadi kamu bilang kalo merasa cocok bisa berlanjut.. itulah sebab nya aku mengatakan hal ini.. tapi kenapa kamu menghentikan ku?." Tanya Alfian terus terang.
Suasana makin tegang.
" Faozan ini hanya perempuamaan kan tadi.". Dimaz mulai bicara.
" Perempumaan gimana kan tadi kalian yg bilang jika aku di suruh milih aku pilih siapa?.. jadi ya aku pilih Dara lah.. lalu kenapa kalian malah keberatan?." Fian yg belum mengerti keadaan bicara sekena nya saja.
" Maaf ya Fian.. jika pilihan mu adalah orang lain.. yes oke.. tak masalah.. kamu mau langsung lamar dia pun kami nggak akan keberatan.. tapi ini pilihan mu adalah istri dari teman kamu sendiri." Dimaz mejelas kan dengan tenang.
Dimaz memang paling dewasa diantara Faozan dan Rama.
Dengan seketika raut wajah Fian menjadi masam.. antara tak enak hati dan juga kecewa.
Hingga dia hanya bisa tertunduk malu.
Harus nya dari awal tadi ia menyadari kalo itu hanya seandai nya saja.. tapi mengapa semudah itu hati nya meletak rasa kagum pada seseorang.
Dan parah nya.. kagum pada seorang wanita yg telah menjadi istri teman nya sendiri.. nggak kebayangkan apa yg Alfian rasa kan saat itu.
Apalagi tadi ia sudah terang terangan bilang kagum bahkan tetarik.
Jika saja bisa.. ingin rasa nya ia segera menghilang dari tempat itu sekarang juga.
Dara yg menyadari air muka Alfian yg serba salah itu langsung bicara.
Karna ia sungguh tak nyaman dengan apa yg terjadi.
" Udah lah Fian.. kamu nggak salah dalam hal ini." tutur Dara juga dengan tenang.
" Kamu nggak perlu merasa malu atau pun tak enak hati.. kan semua itu terjadi secara tidak sengaja.. aku yakin kok Faozan juga bakal ngerti itu... Iyakan Sayang." Dara bertanya pada Faozan.. berharap Faozan mengiyakan.. dan membuat Fian tenang.
Namun sayang nya harapan Dara salah.. Faozan tak menanggapi sebagai ganti nya.. ia malah berdiri dari tempat duduk nya dan mulai melangkah untuk masuk ke dalam rumah.. dengan raut wajah yg sangat kesal.
Dara tahu sifat suami nya yg emosional itu.. karna itulah ia berniat untuk membujuk Faozan.
" Nih ponsel kamu.". usai mengembalikan ponsel Alfian Dara langsung bergegas untuk menyusul Faozan.
Namun di hentikan oleh Alfian... dengan meraih pergelangan tangan Dara.. hingga langkah Dara pun terhenti.
" Jangan Ra.. biar aku saja."
Dara menoleh sejenak.. sambil menarik tangan nya dari genggaman Alfian.
" Kamu yakin?." Tandas Dara..
" Karna kamu kenal Faozan kan.. kalo dia lagi marah bisa bisa dia berkata yg tidak tidak tentang mu.." lanjut Dara lagi.
" Iya Fian.. biarkan Dara saja yg bicara dengan Faozan.. lagian inikan urusan pribadi mereka." Ketus Dessy.
" Kamu salah Des.. ini bukan urusan pribadi Dara & Ozan.. tetapi urusan ku dengan Ozan.. kalian tidak lihat dia marah pada ku bukan pada Dara." tegas Alfian.
Lalu kemudian tanpa menunggu tanggapan dari siapapun ia bergegas menyusul Faozan masuk ke rumah.
Dara memilih untuk mengikuti Alfian.. Dan menyusul suami nya itu.
Apa yg terjadi ya????
Apakah Faozan akan tenang atau justru marah pada Dara & juga Fian???
__ADS_1