
Dara yg mau saja ingin tidur di kagetkan karna dering ponsel nya.. dengan segera ia menerima panggilan tersebut karna itu dari Faozan..
Faozan.
" Hallo Asalamualaikum." Faozan yg memulai pembicaraan.
Dara.
" Waalaikum sallam."
Faozan.
" Lagi ngpain?."
Dara.
" Tiduran.. kamu sendiri lagi apa?."
Faozan.
" Ini ngobrol ama teman²."
Dara.
" Oh gitu.. udah makan belum?."
Faozan.
" Udah kok.. kamu sendiri gimana?."
Dara.
" Udah juga."
Saat itu disebrang sana terdengar ada suara orang yg mengatakan sesuatu tapi Dara sendiri tak mengerti apa yg dikatakan orang tersebut sebab ia bicara dengan bahasa sasak.
Karna itulah Dara mulai bertanya pada Faozan.
Dara.
" Siapa tuh yg ngomong?."
Faozan.
" Biasa temen, nggak usah di dengerin itu orang pada gila.. suka banget gangguin orang."
Dara.
" Ehehehe,,, aku juga nggak ngerti kok dia bicara apa?."
Faozan.
" Masa kamu nggak ngerti.. perasaan kamu biasa nya ngerti kok walau sedikit²."
Dara.
" Iya tapi tadi nggak begitu jelas."
Faozan.
" Bilang aja kalau kamu itu emang budek." ia bicara sambil tertawa pelan.
Dara.
" Kayak kamu nggak budek aja."
Faozan.
" Kalau aku mah nggak budek ya."
Dara.
" Iya iya.. oh iya kalau bahasa daerah kamu budek itu apa ya?."
Faozan.
" Gedok."
Dara.
" Oh gitu tah."
Faozan.
" Sayang aku tinggal bentar ya, tapi hp nya nggak usah di matiin biarin aja.. aku cuma bentar.. inget jangan caper.. dan kalau ada teman² ku yg bicara nggak usah di ladenin."
__ADS_1
Dara.
" Iya iya.." jawab Dara sambil tertawa pelan.. rasa nya benar² lucu mendengar kata² Faozan tadi.
Usai berkata Faozan beranjak pergi membeli rokok... namun ponsel nya masih ia letakan disana.
Kira² dua menit kemudian barulah terdengar suara.
Faozan.
" Hallo."
Dara.
" Iya."
Faozan.
" Aku fikir udah kamu matiin."
Dara.
" Kan kamu bilang nggak usah di matiin."
Faozan.
" Iya iya.. aku tinggal bentar ya kalau kamu mau tidur, tidur aja tapi hp nya nggak usah di matiin."
Dara.
" Eem."
Usai berkata begitu lagi² Faozan meninggal kan ponselnya.
Sekitar semenit kemudian ada suara orang di sebrang sana.
" Hallo."
Dara tau itu bukan suara Faozan tapi tetap saja ia bicara.
Dara.
" Iya ada apa?.". tanya Dara pada orang itu.
Dara.
" Tanya saja sama Ozan."
" Tapi Ozan nya lagi pergi."
Dara.
" Kemana?."
" Membenturkan kepala nya ke pohon." Benar kata Faozan teman² ya itu pada gila nggak ada yg benar perkataan nya.
Dara.
" Oh iya.. kenapa?."
" Ingin masuk syurga.". jawab nya dengan nada bercanda.
Dara.
" Kalau mau masuk syurga tuh bukan itu cara nya."
" Lalu gimana?."
Dara.
" Menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan nya."
" Ahahaha... Bu Ustadzah." kata tuh orang tertawa lepas..
Dara juga tertawa.. Saat itu tiba² panggilan terputus..
Namun 2 menit kemudian panggilan dari Faozan masuk lagi.. Dara pun menjawab nya.
Dara.
" Hallo Asalamualaikum.". kali itu Dara yg bicara duluan.
Faozan.
" Waalaikum sallam."
__ADS_1
Namun setelah itu Faozan tak bicara lagi padahal Dara udah bicara panjang lebar.. tentu saja itu membuat Dara kesal.
Dara.
" Kok cuma diem sich.. dari tadi aku bicara tapi nggak di respon."
Faozan.
" Kalau begitu gampang.. tinggal tekan tombol merah maka semua nya selesai." jawab nya jengkel
Dara.
" Kalau kamu nggak mau bicara kenapa telpon." Dara juga menjawab dengan sama jengkel nya.
Faozan.
" Jadi maksud kamu.. aku ganggu karna aku telpon kamu." bicara nya mulai nyolot.
Dara.
" Bukan gitu.. tapi kamu yg nggak niat bicara.. emang nya ada apa sich?.. nggak biasa nya kamu kayak gini?."
Faozan.
" Makanya kalau punya otak tuh di pakai buat mikir.." ketus nya.
Dara.
" Astaga kok gitu amat sich jawab nya."
Faozan.
" Kamu fikir aja sendiri.. dan iya tuh aku udah sms in no teman aku yg tadi bicara asyik sama kamu... aku nggak mau mengganggu kalian... jadi kamu bisa telpon dia langsung tanpa melalui hp ku."
Dan benar saja sms dari Faozan sudah masuk di ponsel nya.. dan itu benar² no ponsel seseorang yg Faozan kirim.
Dara.
" Kamu fikir aku nggak bisa cari pacar lain sendiri.. sampe kamu nyuruh aku nelpon teman kamu itu.. aku nggak butuh no itu.. dan iya kalau kamu memang udah bosan harus nya bicara aja terus terang nggak gini cara nya.. kamu fikir aku ini apa?.. bola kah yg bisa kamu lempar kemanapun kamu mau."
Faozan.
" Dari tadi aku udah ngasih tau kamu.. nggak usah caper.. tapi nyatanya apa.. belum juga lima menit aku pergi kamu udah asyik² ngobrol sama teman aku.. Dasarrr...."
Dara.
" Dasaarrr apa???.... dengar dia itu teman mu yg artinya teman ku juga.. jadi menurutku nggak ada salah nya bicara sama mereka.."
Faozan.
" Tapi mereka nggak akan berfikir seperti mu... kamu juga nggak tau seperti apa mereka."
Dara.
" Emang mereka kenapa?." Dara menyela tak sabar.
Faozan.
" Kayak nya kamu peduli banget sama itu orang.. ya udah kamu telpon aja dia.. nggak usah pedulikan aku lagi.." malah seperti jawab nya.
Dara.
" Kamu kenapa sich jadi bicara nggak jelas gini."
Faozan.
" Iya aku nggak jelas jadi ya udah kamu telponan aja sama orang yg lebih baik dari aku.. aku mah apa atuh.. aku hanya orang miskin yg nggak bisa ngasih apa² ke kamu.. aku juga nggak pernah membuat kamu bahagia."
Dara.
" Jadi mau kamu apa?..." bentak nya..
Faozan.
" PUTUS.. itukan yg selalu kamu inginkan."
Dara.
" Oke.." jawab nya simple..
Faozan.
" Iya semoga kamu bahagia.. dan ingat lah satu hal aku akan selalu sayang sama kamu."
Dara tak merespon itu.. dia meletakan ponsel nya dan tidur.. meski ia sedikit kecewa... tapi apalah daya.. nggak mungkin ia memohon untuk tidak putus... sebagai cewek ia harus punya harga diri.
__ADS_1