
Tiba di rumah Dara langsung di serbu oleh berbagai pertanyaan dari Faozan.
" Kok lama banget sich?.. kalian belanja apa saja?.. apa kalian nyasar?.. atau belanjaan nya ada yg kurang?." Tanya Faozan.
" Ella kamu masuklah." Titah Dara.
Ella pun masuk kedalam rumah.
" Kamu itu kalo nanya satu satu.. biar aku nggak bingung jawab nya." Dara mulai berkata pada Faozan.
" Kenapa kamu belanja nya lama banget sich?." Tanya Faozan.
" Padahal warung nya deket." lanjut Faozan lagi.
" Bagi kamu yg udah hafal tempat ini ya itu deket.. tapi bagi aku yg baru disini tentu nya terasa jauh.. lagian ya tadi pas kami sampai warung yg punya warung itu nggak ada.. jadi mau di panggil dulu.. terus milih semua belanjaan itu nggak mudah loh.. aku juga harus ingat ingat lagi.. apa saja yg nggak ada di dapur." Jelas Dara.
" Oh.. kirain kalian main dulu." kata Faozan nyengir.
" Main kemana??.. tetangga belum ada yg kenal aku." sahut Dara tegas.
" Iya iya.. udah lupain.. maaf tadi aku banyak tanya.. aku cuma merasa khawatir aja karna kalian lama baru kembali." kata Faozan seada nya.
" Ngomong ngomong kamu beli apa saja?." Tanya Faozan.
" Banyak.. sampai aku di kira orang kaya ama pemilik warung." sambil berkata Dara masuk ke dalam rumah dan menuju dapur.
Faozan mengikuti dari belakang.
Tiba di dapur Dara langsung mengeluarkan semua belanjaan nya.
Faozan mengambil nafas dalam melihat nya.
" Kamu beli bahan bahan sebanyak ini buat apa?." tanya Faozan.
" Ini nggak banyak.. baru seperempat dari yg biasa Ibu beli di pasar." jawab Dara.
" Oke oke.. berapa total semua nya tadi.. cukup nggak uang yg aku kasih tadi." tanya Faozan.
" Cukup kok.. Malahan nggak berkurang sama sekali." sahut Dara.
Faozan mengernyitkan dahi nya.
" Kenapa kamu belanja pakai uang kamu tah?." Tanya Faozan.
" Nggak juga."
" Lalu kok bisa uang nya nggak berkurang??." Faozan bertanya bingung.
" Oh aku tahu.. kamu pasti mau ngerjain aku saja bilang uang nya masih utuh." Lanjut Faozan dengan tertawa pelan.
" Iiih nggak percaya banget sih." sambil berkata Dara merogoh saku celana nya dan mengambil uang.
" Nih liat... masih utuh kan uang nya." Lanjut Dara sambil memperlihatkan uang nya.
" Lalu semua ini dari mana?." Tanya Faozan makin penasaran.
" Tadi tuh di warung ada seorang cowok.. saat aku mau bayar belanjaan eh dia bilang biar dia saja yg bayar..."
" Kenapa kamu mau sich." Faozan menyela dengan nada yg agak kesal.
" Awal nya aku juga udah menolak.. tapi dia maksa.. dan kata pemilik warung itu nggak boleh menolak rezeky... jadi ya udah dech aku terima aja." jelas Dara lagi.
Faozan hanya diam.. sebagai seorang pria ia mengerti nggak mungkin seorang lelaki mau membayar belanjaan orang lain tanpa ada maksud tertentu.
" Ya udah aku mau masak dulu.. kamu kalo mau makanan tuh aku udah beli tadi wafer dan juga roti." Tutur Dara lagi.
" Iya." Faozan menjawab singkat.
Dara pun mulai memasak untuk mereka sarapan.
Selesai memasak Dara memanggil semua orang untuk sarapan.
Mereka pun mulai sarapan.. karna memang semua orang masih di rumah semua.
Usai sarapan.. Dara mengajak Ella mandi.. karna Ella juga harus sekolah.
Sementara Faozan hanya duduk sambil menyulut rokok di teras depan rumah nya.
Belum juga habis sebatang rokok.. sebuah motor berhenti tepat di depan rumah nya.
Faozan kenal siapa yg datang itu.
" Zan." panggil lelaki yg turun dari motor itu dan menghampiri Faozan.
" Ramdan.. apa kabar kamu?." sapa Faozan ramah.
Iya yg datang itu adalah Ramdan.. lelaki yg tadi bertemu Dara di warung.
__ADS_1
Rumah Ramdan memang tak jauh dari rumah Faozan.. kira kira berjarak 100 meteran saja.
" Alhamdulillah aku sehat.. kamu sendiri bagaimana?." Sahut Ramdan.
" Aku juga baik kok.. Oh iya tumben kamu kemari ada apa?." tanya Faozan.
" Ahaha." Ramdan tertawa.
" Kamu ya punya sepupu cantik gitu kok nggak bilang bilang sich.. nggak kasihan apa sama teman yg udah lama jomlo seperti ku ini." kata Ramdan.
Yg membuat Faozan sangat bingung... sepupu?.. sepupu mana yg dimaksud Ramdan.
" Sepupu ku yg mana?." Faozan bertanya dengan dahi berkerut bingung.
" Yg tadi bel..." Ramdan tak sempat menyelesaikan kata kata nya.
Karna ia melihat Dara berjalan menuju teras rumah bersama Ella yg sudah memakai seragam sekolah.
Dara juga hanya memakai pakaian santai.. dengan celana pendek selutut.. kaos oblong yg pas di badan nya.. tidak terlalu ketat namun juga tidak longgar... Rambut yg tergerai panjang.. dengan sedikit riasan di wajah nya.. tampak alami namun cukup untuk menambah pesona nya.
Ramdan yg melihat itu hanya terpaku menatap Dara.
" Pakaian biasa saja dia terlihat cantik apa lagi kalo berdandan." Gumam Ramdan dalam hati.
Faozan heran melihat Ramdan yg tiba tiba hanya diam sambil terus menatap ke arah dalam rumah nya.
Hingga Faozan juga menoleh dan melihat kedalam rumah.
Melihat Dara & Ella disana.. Faozan mengerti pasti yg di maksud Ramdan adalah Dara.
Dara & Ella sudah ada di ambang pintu.
" Kak Dara.. aku sekolah dulu ya." pamit Ella sambil mencium punggung tangan Dara.
Kemudian dia beralih pada Faozan.. sama seperti pada Dara dia pamit sambil mencium punggung tangan Faozan.
" Ella sudah punya uang jajan belum?." tanya Dara.
" Oh iya aku lupa.. belum kak." jawab Ella tertawa.
" Ya udah minta ama kak Ozan sana." sahut Dara tersenyum.
" Nih buat Ella." Ramdan angkat bicara sambil memberikan uang sepuluh ribu pada Ella.
" Nggak usah.. aku masih bisa kok ngasih uang jajan buat Ella." tegas Faozan.. sambil menepis keras tangan Ramdan.
Ella pun mengambil uang pemberian Faozan.
Setelah itu ia berangkat sekolah.
Faozan kenal betul siapa Ramdan.. biasa nya dia selalu pelit mengeluarkan uang.
Dia yakin jika Ramdan berbuat demikian pastilah ada maksud tertentu.. dan itu sudah pasti untuk mencari perhatian Dara.
" Hy." Ramdan menyapa Dara yg kini masih terpaku menatap langkah Ella yg kian menjauh.
" Masih ingat aku." Lanjut Ramdan.
Dara menatap nya sekilas.
" Tentu.. kamu yg tadi bersikeras mau bayar belanjaan aku sama Ella kan." sahut Dara seada nya.
Ramdan tersenyum.
" Jadi dia yg bayar belanjaan kamu tadi?." Faozan bertanya pada Dara.
" Eem." Dara hanya bergumam.
" Oh iya apa kalian mau aku bikinin kopi.. biar kalian ngobrol nya makin asyik." Dara bertanya pada Faozan.
" Boleh." sahut Ramdan.
Dara pun bergerak untuk masuk kedalam rumah untuk membuat kopi.
" Sayang bikin untuk Ramdan saja.. aku masih kenyang." sambil berkata Faozan sengaja meraih tangan Dara.. hingga langkah Dara pun terhenti.
Dara berbalik dan tersenyum menatap Faozan.
" Yakin kamu nggak mau kopi?." Tanya Dara.
" Iya sayang." jawab Faozan lagi.
" Tumben nih suami ku menolak saat di tawarin kopi.. kenapa hayoo?." Dara berkata sambil menginjit nginjit alis nya.
" Lagi nggak mau aja.. aku nggak mau terlalu sering minum yg manis manis.. sebab kamu udah sangat manis.. aku takut diabetes." jawab Faozan tersenyum.
" Dasar lebayy. " Dara tertawa pelan.. sambil mencubit pelan pipi Faozan.
__ADS_1
" Siapa yg lebayy sich.. orang aku hanya bicara fakta." sahut Faozan sambil menatap lekat Dara.
Mereka sama sama tersenyum.. tak peduli ada orang yg terluka menyaksikan kedekatan mereka.
" Ya udah aku bikin kopi dulu.. ayo lepasin tangan ku." tutur Dara kemudian.
Faozan pun hanya menuruti permintaan Dara.
Dara masuk ke dalam untuk membuat kopi.
Faozan masih tersenyum sendiri sambil terus menatap Dara yg mulai masuk ke rumah.
" Dia istri mu?." Tanya Ramdan.
" Dia bukan cuma istri ku.. tapi hidupku." sahut Faozan.
" Oh selamat ya kalo gitu.. tapi kapan kalian menikah?." tanya Ramdan.
" Udah hampir satu bulan.. kami menikah di tempat nya.. nih fhoto fhoto pernikahan kami."
Faozan memperlihatkan fhoto fhoto pernikahan nya.. agar Ramdan yakin kalo Dara adalah istri nya.
Bahkan ada juga Video saat ijab kabul.
Ramdan terdiam dengan perasaan kecewa.. harapan nya pupus sebelum berkembang.
" Oh iya Ram.. apakah Dara orang yg kamu maksud dengan mengatakan tentang sepupu ku." Tanya Faozan kemudian.
Ramdan hanya mengangguk.
Saat itu Dara datang kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Ramdan tamu dari suami nya itu.
" Nih silahkan di minum." tutur Dara sambil meletak kan segelas kopi di meja kayu yg ada disana.
Awal nya Dara ingin kembali masuk ke rumah setelah menyuguhkan kopi.. namun saat dia baru saja mau melangkah masuk ponsel Faozan berdering.
" Sayang.. nih ada telpon dari Ibu." Faozan berkata setelah melihat siapa yg menelpon nya.
" Oh Astaga.. pantes telpon ke ponsel mu.. hp aku belum aku cas." Dara bergumam.. sambil merima panggilan telpon di ponsel suami nya itu.
Kemudian Dara memilih duduk di kursi yg ada di sebelah Faozan untuk berbicara lewat telpon dengan sang bunda.
Cukup panjang pembicaraan mereka..
Ramdan pun sekarang sudah pulang setelah mengobrol dan menghabiskan kopi nya.
Sampai Faozan pun ikut nimbrung untuk bicara dengan Ibu mertua nya itu.
Setelah merasa cukup Dara menyudahi pembicaraan.
" Sayang." panggil Faozan.. saat itu Dara baru saja menutup telpon nya.
" Iya." sahut Dara sambil menoleh menatap Faozan.
" Kamu tahu kenapa tadi Ramdan kemari?."
Dara mengernyitkan dahi nya mendengar pertanyaan Faozan.
" Pasti mau bertemu kamu lah.. kan udah lama juga kalian nggak ketemu.". sahut Dara datar.
" Ehehe... kamu salah."
" Terus." tanya Dara.
" Dia datang kemari buat kamu."
" Apaan sich ngacok tau nggak." ketus Dara.
" Aku nggak ngacok sayang.. emang itu kebenaran nya..fikir nya kamu itu saudara jauh kami.. maka nya dia langsung kemari saat dia tahu kalo kamu tinggal disini." jelas Faozan.
" Oh begitu.. tapi dugaan nya salah.. sekarang aku ngerti kenapa tadi dia bersikeras mau membayar belanjaan ku.. bahkan mau memberikan uang jajan buat Ella." Dara mulai memahami maksud Ramdan.
" Iya betul banget." sambil berkata Faozan menangkup pipi Dara dengan tersenyum menatap nya.
" Sayang nya dia salah besar.. maka nya dia terlihat begitu kecewa tadi pas aku bilang kamu itu bukan cuma istri ku.. akan tetapi hidupku."
Dara mengambil nafas dalam.
" Kasihan juga.. tapi salah dia sendiri kenapa nggak nanya dulu." sahut Dara seada nya.
" Dia nggak salah kok.. tapi kamulah yg salah." Tutur Faozan
" Kok aku sich." kata Dara kaget.
" Ya habis nya kamu terlalu cantik sich."
" Astaga.. kamu tuh ya.. gombal aja kerjaan nya."
__ADS_1
Faozan tertawa mendengar nya.