Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Ibu.


__ADS_3

Malam hari.. Semua teman teman Dara sudah kembali ke penginapan.. begitu juga Alfian dia telah pulang setelah pertengkaran nya dengan Faozan.


Selesai shalat magrib Dara mengajak kakek.. Randy.. & juga Ella makan malam.


Dara sama sekali tak ingin bicara dengan Faozan.. hingga untuk makan pun ia menyuruh Ella yg memanggil nya.


Saat makan tak ada perbincangan sama sekali diantara mereka.. yg ada hanya suara sendok yg sesekali berdentingan dengan piring.


Usai makan malam Randy adek Faozan langsung keluar bersama teman teman nya.


Sementara Ella & Kakek nya memilih untuk istirahat di kamar.


Sedangkan Faozan menyusul Dara di kamar nya.. sebenar nya ia ingin bicara pada Dara.. karna saat ini fikiran nya sudah mulai tenang.


Namun begitu Faozan masuk.. Dara langsung bangkit dari duduk nya dan keluar rumah.


Dara masih tak ingin bicara pada Faozan.. jujur saja dia masih marah atas sikap Faozan tadi siang.


Dara memang orang yg nggak mudah marah.. tapi juga susah untuk tenang.. berbeda dengan Faozan yg mudah marah namun cepat tenang.


Faozan menghela nafas panjang.. saat melihat tingkah istri nya itu.


Ia paham betul bagaimana sifat Dara.. jika dia sudah marah akan susah untuk membuat nya tenang.


Bahkan meski dia sudah memaafkan.. tetapi perkataan Faozan yg menyakiti nya itu bisa dia ingat dan akan diungkit kembali.. khusus nya selama itu masih berjarak seminggu dan Dara belum melupakan nya.


Dara lebih memilih duduk menyendiri di teras depan rumah.


Ada titik titik bening yg mengalir di mata nya.. saat itu perasaan nya benar benar sakit.


Ada rasa rindu nya terhadap keluarga.


Dara mengingat masa masa nya bersama sang Ibu.. Seorang ibu yg sangat menyayangi nya... walau kadang sering marah marah... Ayah nya yg selalu membela nya bahkan saat dia salah sekali pun.. Kenangan akan kakak nya juga terlintas dalam fikiran nya.. betapa keras sikap kakak nya terhadap nya.. namun di balik sikap nya yg keras Dara merasakan sungguh betapa peduli nya kakak nya itu terhadap nya... Adik nya juga tak ia lupa kan.. Adik yg selalu bertengkar mulut dengan nya.. bahkan pernah Dara memukul adik nya lantaran bandel.. setelah itu ia sendiri yg meminta maaf.


Ada senyum dan air mata di wajah nya.. tatkala Dara mengingat momen momen nya bersama keluarga tercinta.


" Ayah.. Ibu.. Kak Daniel.. Defano.. aku kangen kalian." Gumam nya dalam hati.


Sambil terus menatap lekat bulan yg saat itu menampakan sinar nya yg terang.


Dara tak tahu berapa lama dia berdiri disana sambil menatap rembulan tersebut.


Yg ia tahu.. ia dikagetkan oleh dering ponsel nya.


Maka saat ia menyadari ponsel nya berdering.. Tanpa menunggu lama Dara langsung menjawab nya.

__ADS_1


Apa lagi saat Dara melihat nama yg tertera di layar hp nya itu.


Yaitu Ibu.


" Hallo Asalamualaikum Bu." sahut Dara lembut.. sambil dengan pelan ia menepis air mata nya yg menetes di pipi.


Perasaan nya benar benar senang karna bisa berbicara dengan sang Bunda.


" Waalaikum sallam." sahut Ibu nya disebrang sana suara nya terdengar renyah.


" Ra.. kamu baik baik saja kan disana?." Ibu nya langsung bertanya.


" Tentu Bu.. aku sangat baik." jawab nya.


" Tapi kenapa kok Ibu nanya gitu.. nggak biasa nya Ibu bertanya demikian?." Tanya Dara.


" Tidak apa apa Ra.. hanya saja Ibu merasa gelisah.. sejak tadi sore Ibu kefikiran kamu terus.. Ibu cuma takut kalo kamu lagi dalam masalah Nak." Sahut Sang Bunda.. Insting seorang Ibu tak pernah salah.


" Oh.. itu mungkin karna Ibu terlalu merindukan ku barangkali.. bukti nya aku baik baik saja kok.. nggak ada masalah apapun." Dara berkata dengan nada setengah bercanda dan mencoba untuk tertawa.


Biar bagaimana pun Dara tak ingin menceritakan apa yg terjadi tadi.. sebab jika dia bicara maka keluarga nya pasti sangat cemas.


Hal itulah yg tak diinginkan Dara.. itu adalah masalah nya dengan Faozan.. biarkan dia & Faozan saja yg menyelesaikan nya.


" Mungkin saja." sahut Ibu nya.. mencoba untuk mempercayai putri nya itu.


Namun di lubuk hati nya.. Ia juga merasa senang.. sebab dengan tidak melibat kan orang tua nya Dara mengambil langkah yg tepat.


" Iya Bu.. Nasehat Ibu pasti Ara ingat kok.. lagi pula saat ini Ara juga nggak ada masalah.. jadi Ibu tenang saja ya." sahut Dara meyakin kan


" Oh iya Bu.. Ayah.. Fano.. kak Daniel apa kabar nya?." Dara mulai bertanya lagi.


Begitu serius nya pembicaraan Dara lewat telpon dengan keluarga nya.. sampai Dara tak menyadari kalo Faozan sudah berdiri diambang pintu sejak tadi.


Faozan keluar begitu mendengar suara Dara yg tengah bicara lewat telpon.


Saat itu sempat terlintas dalam fikiran nya.. apakah Dara bicara dengan Alfian atau justru cowok lain.


Sebab bukan sekali dua kali Faozan mendapati saat Dara sedang marah pada nya.. Dara lebih memilih untuk bicara pada lelaki lain dari pada dengan nya.


Bahkan Faozan masih ingat betul.. Dara menerima Cinta Andrian saat hubungan mereka sedang tidak baik juga.


Tapi berbeda sekarang dengan dulu.. dulu Dara melakukan itu karna ia sadar bukan lah suatu kesalahan kalo dia ingin menjalin hubungan dengan lelaki lain.. selama lelaki itu belum beristri.. tetapi sekarang.. merupakan sebuah dosa jika dia punya niat untuk menjalin hubungan dengan pria lain.. sebab status nya kini bukan lagi seorang gadis yg masih bebas.. melain kan seorang istri.


Namun Faozan merasa lega saat ia tahu jika Dara hanya bicara pada Ibu nya.. Hingga dia memilih diam untuk mendengarkan pembicaraan sang istri dengan Ibu nya.

__ADS_1


" Ayah.. Fano.. & Kak Daniel baik kok Ra.. hanya saja mereka semua kesepian karna nggak ada yg ngomelin." Ibu nya menjawab dengan bercanda.


" Ahahaha." Dara langsung tertawa.


" Oh iya Ra.. suami mu mana?." Tanya Ibu nya.. mulai menyelidik karna tak biasa nya saat telponan dengan sang Ibu Faozan tak ikut nimbrung.


" Eem.. Ozan udah tidur Bu... mungkin dai cape soal nya tadi siang beres beres rumah buat acara syukuran nanti.. apa mau aku bangunin?." Dara sengaja bilang begitu agar ibu nya tak curiga.


" Eh jangan.. udah biarkan saja dia istirahat.. kamu juga tidurlah.. ini udah malam." pesan sang Ibu.


" Iya Bu.. juga ya jangan terlalu banyak fikiran ya.. sampein juga salam Ara buat Ayah.. Kak Daniel dan juga si bandel Fano."


" Iya.. iya.. ya udah Ibu tutup dulu ya telpon nya... Asalamualaikum."


" Waalaikum sallam Bu.. Emmmuaach.. Ara sayang Ibu." Sahut nya manja.


" Ibu juga sayang kamu.. Dadah Ara." balas sang Bunda.


" Dadah Bu.. selamat malam." tutur Dara lagi.


" Oh iya bu.. kapan kalian mau kesini?." Dara mulai bertanya.. seolah enggan untuk menyudahi pembicaraan.


" Insya Allah 2 hari lagi.". jawab sang Bunda.


" Oke... Ara tunggu ya Bu."


" Iya iya.. Ya udah tidur sana."


" Iya Bu."


" Asalamualaikum."


" Waalaikum salam."


Panggilan pun langsung di akhiri oleh Ibu nya Dara.


Dara menghela nafas panjang.. mencerna nasehat Ibu nya tadi.


Sementara Faozan masih setia bersender di pintu memperhatikan Dara.


Sambil terus berfikir Dara membalas chatt dari teman teman nya.. yg saat ini berada di penginapan.


Benar kata Ibu nya.. masalah tak akan selesai jika dia terus menghindar.. maka dari itu Dara pun berniat masuk ke rumah untuk berbicara pada Faozan.


Tapi karna terus menatap layar ponsel nya begitu diambang pintu tak sengaja Dara malah menubruk seseorang.

__ADS_1


Dara langsung melihat siapa yg tak sengaja dia tubruk itu.. yg pasti nya orang rumah..


__ADS_2