
Setelah tiba dirumah Dara langsung mandi.. sementara Faozan setia menunggu nya di kamar.. sambil duduk di sofa yg ada disana dan bermain ponsel.
15 menit kemudian Dara pun selesai mandi.
Dara langsung berganti pakaian dan memoles wajah nya dengan bedak tipis.
Lalu dia pun menyusul duduk di sisi sang suami.
Melihat Dara telah selesai mandi.. Faozan pun menghentikan aktifitas nya.
“Kamu mau bicara apa?.” tanya Faozan to the point.
“Gini Sayang.. tadi Dr.Farez nawarin aku buat buka klinik di daerah sini...” tutur Dara
“Aku rasa itu ide yg sangat bagus.” sahut Faozan langsung menyela.
“Tapi uang nya dari mana?.” lanjut Faozan diakhiri dengan pertanyaan.
“Dr.Farez yg menawarkan pinjaman.. nanti kalo kita punya uang bisa kita kembalikan.. itupun jika klinik nya maju.. namun jika gagal Dr.Farez ikhlas kata nya.. dan kita nggak perlu ngembaliin uang nya.. Gimana menurut kamu?.” Dara meminta pendapat sang suami.
“Nggak ada salah nya sich Sayang kalo kamu mau mencoba.. lagi pula aku yakin.. kamu pasti bisa mengembalikan uang nya Dr.Farez.” rupa nya Faozan mempunyai keyakinan yg sama dengan Dr.Farez tentang kemampuan Dara.
“Itu artinya kamu setuju aku terima bantuan Dr.Farez?.” tanya Dara sekali lagi.
“Iya Sayang.. toh kamu juga pinjam bukan minta cuma cuma.” sahut Faozan lembut.. bahkan dengan tersenyum dan menatap wajah sang istri.
“Makasih ya atas dukungan mu dan kepercayaan mu.” sahut Dara sambil meraih telapak tangan Faozan dan meremas nya lembut.
“Iya Sayang.. selama ini adalah hal yg positif aku akan selalu dukung kamu.” jawab Faozan sambil mengelus lembut pipi sang istri.
Dara tersenyum manis.
“Tapi jika klinik itu di buka nanti maka RS itu siapa yg akan mengurus nya?.” tanya Faozan kemudian.
“Dr.Farez tetap memintaku yg bertanggung jawab atas RS itu...”
“Lalu klinik itu.” Faozan merebut pembicaraan gesit.
“Aku di suruh mencari orang lain saja yg mengurus nya nanti.. orang yg menurut ku pantas untuk itu.” jelas Dara.
“Pinter juga tuh Dokter.” sahut Faozan yg mengakui betapa brilian nya pemikiran Dr.Farez itu.. dengan begitu karir Dara nggak akan terpengaruh nanti nya.
Misal nya saja klinik itu gagal.. maka Dara tetap punya penghasilan dari RS.. namun jika klinik itu maju.. penghasilan Dara akan makin bertambah.
“Iyalah Sayang.. Dr.Farez kan lulusan Luar Negeri nggak mungkin dia itu bodoh.. toh RS nya yg di jakarta juga ada beberapa.” Dara menceritakan apa yg dia ketahui tentang Dr.Farez.
“Ow.. pantes.” sahut Faozan singkat.
Dara hanya mengangguk.
“Lalu apakah Dr.Farez itu sudah menikah?.” entah mengapa terbesit pertanyaan itu di benak Faozan.
Dara menatap tajam Faozan.. mendengar pertanyaan nya kali itu.
Dara heran mengapa tiba tiba Faozan bertanya demikian.. padahal selama ini Dara sudah sering bercerita tentang Dr.Farez.. namun tak pernah Faozan bertanya hal hal pribadi mengenai Dr.Farez itu.. Lalu kenapa sekarang Faozan bertanya demikian?.
Itulah yg ada dalam fikiran Dara.
Saat itu Dara baru saja ingin membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Suami nya tadi.
__ADS_1
Namun terhenti lantaran dering telpon di ponsel Dara.
Dara pun bergegas melihat siapa yg menelpon.
Ternyata nomor yg tak terdafatar..
Dara menatap layar ponsel nya yg terus saja berdering itu dengan dahi berkerut.
Namun meskipun nomor itu sama sekali tak terdaftar di kontak nya.. Dara tetap menjawab panggilan nya.. barang kali saja salah satu pasien nya.
“Hallo Asalamualaikum.” Dara langsung berkata dengan mengucap salam.
“Waalaikum sallam.. Selamat siang.” jawab suara seorang pria di seberang sana.
“Iya siang.” sahut Dara seada nya.
“Apa benar ini dengan Ibu Dara?.” tanya lelaki yg menelpon itu.
“Iya dengan saya sendiri ada apa ya Pak?.” Dara balik bertanya.
Sedangkan Faozan hanya mendengarkan percakapan sang istri.
“Begini Bu.. Saya dari showroom mobil yg tadi Ibu datangi.. saat ini saya sudah berada di depan sebuah toko manisan di pinggir jalan untuk mengantar mobil anda.. bisakah Anda kemari supaya kami tahu dimana tepat nya rumah Anda.” jelas orang itu.. yg ternyata salah satu pegawai showroom.
“Baiklah saya segera kesana.” Usai berkata demikian Dara langsung menutup ponsel nya.
“Siapa?.” tanya Faozan saat Dara telah menyudahi percakapan.
“Ini orang dari showroom mobil.. kata nya dia sudah berada di depan toko milik Ibu.. untuk mengantar kan mobil nya kerumah.” sahut Dara apa ada nya.
“Ayo kita lihat.” Dara mengajak Faozan.
“Kamu beli mobil?.” tanya Faozan saat mereka berjalan untuk menghampiri orang yg mengantar mobil itu.
“Bukan aku tapi Dr.Farez.” jawab Dara apa ada nya.
“Tapi mengapa mobil nya diantar kemari?.” tanya Faozan lagi.
“Ntar aku jelasin Sayang.” sahut Dara..
Karna mereka telah sampai tepat di depan sebuah mobil yg tak lain dari mobil yg tadi di beli oleh Dr.Farez.
Ada dua orang disana.. Satu orang yg mengendarai mobil pilihan Dara.. Dan satu orang lagi membawa mobil lain.
“Apakah Anda Ibu Dara?.” tanya seorang lelaki muda yg baru turun dari mobil pilihan Dara itu.. yakni sebuah Lamborghini warna merah.
“Iya saya sendiri.” sahut Dara.
“Kemana saya harus mengantarkan mobil ini?.” tanya lelaki itu lagi.
Dara pun menunjuk jalan kerumah nya.
Dengan segera lelaki itu membawa mobil tersebut dan memarkirkan nya tepat di depan rumah Dara & Faozan.
“Ini surat tanda terima.. mohon di tanda tangani.” tutur lelaki itu lagi.. seraya menyerah kan selembar kertas tanda terima.
Dara pun mengambil nya dan menanda tangani nya.
“Baiklah.. ini kunci mobil nya.” lelaki itu pun menyerah kan kunci mobil nya.
__ADS_1
“Kunci serap nya sudah pada Anda kan?.” lelaki itu mulai bertanya.
Dara mengangguk sambil menerima kunci mobil yg di berikan oleh pegawai showroom itu.
Setelah itu pegawai showroom tersebut pamit pulang tentu saja dengan teman nya yg tadi membawa mobil lain.
Hanya tersisa Dara & Faozan saja.
Tak lama setelah itu Ibu nya Faozan menghampiri mereka.
“Kalian yg membeli mobil ini?.” tanya Ibu nya Faozan kepada Dara & Faozan.
“Bukan Bu.. ini mobil milik Dr.Farez.” sahut Dara.
“Lalu kenapa disini?.” sama seperti pertanyaan yg di lontarkan Faozan tadi.
Saat itu Dara baru saja ingin menjawab nya.. namun terhenti lantaran beberapa tetangga hadir disana untuk melihat mobil tersebut.
“Waah hebat ya.. Setelah membangun rumah bagus.. membuka usaha dan sekarang membeli mobil.. Salut sama kalian.” seru tetangga seraya melihat mobil tersebut dengan teliti.
“Iya.. ini pasti sangat mahal.” sambung yg lain.
“Dikampung ini belum ada loh yg punya mobil semewah ini.” lanjut yg lain lagi.
“Nggak Ibu ibu.. ini bukan mobil ku.. tapi milik Dr.Farez.” Jawab Dara seada nya.
“Ow.. lalu mengapa mobil nya ada disini?.” lagi lagi pertanyaan yg sama.
“Dr.Farez memberikan mobil ini sebagai fasilitas dari pihak RS.. karna aku bekerja disana maka nya Dr.Farez memberikan mobil ini.” jelas Dara.
Semua orang hanya mengangguk nganggukan kepala nya.
“Nanti kalo aku sudah tak bekerja dengan nya lagi.. aku akan kembalikan mobil ini pada nya.” lanjut Dara.
“Tapi bukan kah biasa nya jika mobil ini adalah mobil fasilitas kantor bukan kah flat nya berawarna merah dan biasa nya juga mobil nya selalu warna putih itupun mobil biasa tidak semewah ini.” Celetuk seorang Ibu Ibu yg baru datang.
Yg membuat semua orang langsung terdiam termasuk Dara.. sebab itulah kebenaran nya.
“Apa kalian mau ngobrol ngobrol didalam?.” Dara mulai mengalihkan topik pembicaraan.
Akhir nya karna Dara menawari mereka buat masuk kedalam rumah.. mereka pun mengobrol didalam.
Dara pun mengirim sebuah pesan chatt pada Dr.Farez.. yg mengatakan kalo mobil nya telah diantar.
Dara juga mengatakan hal yg sama dengan apa yg di katakan Ibu Maryam tadi.. tentang mobil dinas dari rumah sakit.
Lalu kenapa mobil nya beda.. dengan mudah Dr. Farez menjawab nya.
Bahwa itu memang bukan lah sekedar fasilitas dari pihak RS.. akan tetapi hadiah dari nya untuk Dara.
Tapi jika dia mengatakan bahwa itu adalah hadiah untuk nya.. maka Dr.Farez yakin sekali kalo Dara akan menolak keras.
Hingga terpaksa dia berbohong sedikit.. bahkan di penjelasan Dr.Farez.. dia sangat memohon agar Dara menerima nya.
Anggap saja sebagai rasa terimakasih nya untuk Dara karna telah mengurus RS nya dengan baik.
Dara tak punya pilihan selain mengiyakan saja.
Dia tau betul jika dia mengembalikan mobil itu.. maka Dr.Farez pasti akan sangat tersinggung.
__ADS_1
Itulah mengapa akhir nya dia menerima mobil pemberian Dr.Farez itu.