
Setelah mengambil nafas dalam dan menghembuskan pelan Dara mulai bicara lagi
pada Irwan.
Dara.
" Sekarang kamu bangun kan dia perlahan.. kalau ia tak mau bangun kamu siram aja wajah nya dengan air."
Lagi² Irwan menuruti Dara.. ia mencoba mengoyangkan badan Faozan untuk membangunkan nya.. namun sayang ia tak mau bangun.. terpaksa ia pakai cara yg agak kelewatan..
Sesuai perintah Dara ia mengambil air dan menyiram kan di wajah Faozan..
Tak butuh waktu lama Faozan langsung membuka mata nya.. dan mulai marah pada Irwan.
Faozan.
" Kamu apa² an sich.." kata nya nyolot dan sangat marah.. tentu saja ia sangat marah karna ia masih ada di bawah pengaruh minuman.
Irwan mundur dan agak menjauh dari Faozan melihat reaksi nya yg begitu marah..
Dara pun melihat jelas bagaimana reaksi Faozan.. itulah sebab nya ia bicara pada Irwan.
Dara.
" Berikan ponsel nya pada Faozan."
Sama seperti tadi Irwan hanya menurut... pelan² ia kembali melangkah mendekati Faozan yg tengah terduduk sambi menunduk dan memijit kedua sisi kepala nya.
Irwan.
" Zan." panggil nya saat sudah berada di dekat Faozan.
Faozan.
" Apa lagi." bentak nya dengan mata yg memerah.
Kali itu belum sempat Irwan bicara Dara sudah bicara duluan.
Dara.
" Nggak usah nyolot... aku yg nyuruh." bentak nya..
Sontak saja mata Faozan langsung terbelalak menatap ponsel nya dan mlihat panggilan tersebut.. ia langsung tak enak ketika ia melihat Dara melihat nya dalam kondisi seperti itu.
Dara.
" Kenapa bengong.. kaget?.". Dara mulai bicara.
Faozan mengucek² mata nya.. dan lagi² hanya diam.
Dara.
" Berikan lagi ponsel mu pada Irwan." Dara berkata lagi pada Faozan.. Faozan juga hanya menurut..
__ADS_1
Setelah ponsel nya kembali di tangan Irwan.. Dara bicara lagi..
Dara.
" Bisa tolong berikan air lemon untuk teman kamu.. biar kondisi nya lebih stabil.. sebab jika seperti ini aku nggak mungkin bisa bicara pada nya.."
Irwan.
" Baiklah.. aku cari lemon nya dulu."
Dara.
" Oke.. matiin dulu ponsel nya.. ntar kalau Ozan udah lebih baik minta dia telpon aku."
Irwan.
" Iya."
Setelah mendengar jawaban Irwan Dara memutus panggilan nya..
15 menit kemudian datanglah panggilan dari Faozan.. Dara langsung menjawab nya.
Dara.
" Hallo.." Dara yg memulai pembicaraan tapi tidak seperti biasa nya kali ini ia tak mengucapkan sallam.
Faozan.
Dara.
" Nggak kok selow aja." jawab nya datar
Faozan.
" Makasih ya udah angkat telpon aku."
Dara.
" Iya santuyy.. oh iya gimana keadaan kamu apa udah lebih baik?." Sok perharian.. padahal hati nya sangat marah dan kesal.
Faozan.
" Udah enakan kok.. semua itu berkat kamu.. kalau kamu nggak nyuruh Irwan buat nyadarin aku.. entah kapan aku akan sadar."
Dara.
" Heeengggs... itu semua karna Irwan yg minta.. sebab ia nggak tega liat kamu kayak gitu.." kecam nya.
Faozan.
" Lalu apakah kamu nggak kasihan padaku." Faozan memotong pembicaraan.
Dara.
__ADS_1
" Kasihan pada mu buat apa?.. orang kamu sendiri yg bikin ulah.. lagian ini bukan pertama kali nya kamu mabuk.. toh selama ini kamu juga nggak pernah dengerin aku buat jauhin miras." Dara berkata dengan nada kecewa.
Faozan.
" Kamu salah paham.. selama ini aku sudah berusaha sebisa ku untuk menuruti kamu.. kamu boleh tanya sama teman² aku gimana sikap aku saat kita masih pacaran.."
Dara.
" Kalau kamu memang sudah berubah.. lalau kenapa hari ini kamu minum itupun sampe segitu banyak nya dan sampai kamu mabuk berat.. apakah itu yg nama nya berubah haaaah?." Dara merebut pembicaraan gesit.
Faozan.
" Maaf kan aku.." kata nya lirih.
Dara.
" Jangan minta maaf pada ku karna nggak akan ada gunanya.. tapi minta ampun lah sama Allah karna yg kau lakukan ini dosa bukan salah."
Faozan.
" Kamu benar.. tapi tolong maaf kan aku.. sungguh sikap mu yg mengabaikan aku membuat ku benar² sakit.. aku tau kita sudah putus.. dan mungkin saat ini kamu juga sudah punya pacar baru.. tapi aku minta tolong sama kamu.. kalau bisa saat aku telpon kamu angkat.. jangan acuhkan aku.." katanya dengan nada suara yg sedih.
Dara.
" Kenapa bukan kah PUTUS itu adalah keinginan kamu sendiri?."
Faozan.
" Aku tau aku yg mengatakan nya sendiri.. tapi saat itu aku sedang marah dan kesal padamu.. namun setelah aku berfikir dengan tenang sungguh aku menyesali nya.. aku nggak terbiasa tanpamu.. aku benar² nggak berguna tanpa mu.. dan aku selalu ingin mendengar suara mu.. bahkan aku sangat merindukan saat² dimana kita tertawa dan bercanda bersama..."
Dara.
" Itu sudah berlalu.. yg saat ini harus kamu fikirkan itu adalah masa depan kamu.. inget kamu masih muda.. bahkan masih remaja jadi masa depan kamu itu masih panjang.. belajar lah dari kesalahan.. dan aku sangat yakin di luar sana masih banyak yg lebih baik dari pada aku."
Lagi² Dara menjawab acuh.
Faozan.
" Yg lebih segala nya dari mu.. iya memang banyak.. bahkan sangat banyak.. tapi yg bisa menerima ku apa ada nya dan yg mau membimbingku ke jalan yg benar cuma kamu yg bisa ngelakuin itu.. bahkan di saat keluarga aku sendiri nggak peduli sama apa yg kulakukan tapi kamu membuat ku merasa berarti.. kamu membuat ku merasa di butuh kan dan berguna.. untuk pertama kali dalam hidup ku ada orang yg peduli dengan yg ku lakukan.. peduli pada hidup ku."
Dara.
" Siapa bilang keluarga mu nggak peduli.. keluarga mu peduli pada mu bahkan teman² kamu juga peduli pada mu.."
Faozan.
" Tapi aku juga butuh kamu.. Apakah kamu mau Balikan lagi sama aku.. aku janji aku nggak akan ngecewain kamu.. aku hanya akan ngelakuin apa yg kamu mau.." Faozan memotong perkataan Dara..
Dara.
" Lalu bagaimana mana dengan kepercayaan.. bukan kah selama ini kamu nggak pernah percaya sama aku.. dan aku rasa kamu juga tau bahwa hubungan kita ini jarak jauh.. lalu apa arti dari sebuah hubungan ini kalau nggak ada kepercayaan.. kepercayaan dalah dasar utama dari setiap hubungan."
Untuk beberapa saat tak terdengar sahutan dari Faozan.
__ADS_1