
Dara pulang kerumah dengan perasaan yg sangat senang.. karna dia telah mendapatkan pekerjaan.
Bahkan senyuman masih terus mengembang di sudut bibir nya.
“Asalamualaikum.” ucap Dara di depan pintu.
“Waalaikum sallam.” sahut Ibu mertua nya dari dalam sambil menghampiri Dara ke depan pintu.
Dara langsung menyambut tangan ibu mertua nya.
Setelah itu mereka berdua masuk.. dan duduk di ruang tamu.
“Gimana Ra.. apa kah semua nya berjalan lancar?.” Tanya Ibu nya.
“Iya Bu Alhamdulillah.” sahut Dara dengan wajah berseri seri bahagia.
“Syukurlah.” sahut sang Ibu.
“Iya Bu.. Mulai besok aku masuk kerja.”
“Oh iya.. kamu kerja di RS mana nak?.” tanya sang ibu tak kalah senang nya.
“RSI Yatofa Bu.” jawab Dara terus terang.
“Owah.. RSI Yatofa itu lumayan besar loh ya.. Ibu senang kamu di terima kerja disana.”
“Eem benar banget Bu.. RSI Yatofa itu bukan cuma besar Bu.. tapi juga sesuai dengan harapan ku.. dimana RS itu tak hanya mencari keuntungan sendiri.. tapi masih ada dasar kemanusiaan nya.. itulah yg membuat ku tertarik masuk kesana.”
“Iya betul sekali.” sahut Ibu nya lagi.
“Dan Ibu tau.. Dokter yg memimpin disana adalah Dokter terbaik di Indonesia Bu.. yaitu Dokter Angga Alfarezi.”
“Iya setau Ibu memang RS itu milik Dokter Angga... Tapi orang mana Dokter Angga Ibu tak tahu.” jelas Ibu nya.
“Dokter Angga itu asli Jakarta Bu.. RS yg ada disini hanya lah salah satu cabang dari RS nya yg ada di ibukota.”
“Tapi kok kamu tau semua tentang Dokter Angga Ra.” tanya Ibu nya bingung.
__ADS_1
“Aku mengenal nya saat mengikuti acara seminar para Dokter hampir 7 bulan yg lalu.. yg diadakan di Jakarta.. Saat acara itulah Dr.Angga mendapat predikat Dokter no 1 terbaik di Indonesia.” jelas Dara apa ada nya.
“Ow luar biasa prestasi nya.”
“Tak heran sich Bu.. dia itu lulusan LN.”
“Pantes.” sahut sang Ibu.
“Iya tapi dia itu tidak sombong Bu.. dia sangat rendah hati jujur aku kagum sama sikap serta sifat nya.. sungguh beda jauh dengan Dr.Ridho.”
“Siapa lagi Ra.. Dr.Ridho itu?.” tanya Ibu nya penasaran.
“Dr.Ridho itu... Dokter yg mendapat gelar Dokter ketiga terbaik di Indonesia.” jawab Dara apa ada nya lagi.
“Jadi saat seminar yg kamu ikuti itu.. disana di pilih tiga Dokter terbaik di Indonesia ya Ra.”
“Iya Bu betul banget.”
“Lalu siapa yg kedua nya?.”
“Sayang kamu udah pulang?.” tanya Dara.. Faozan tersenyum dan duduk bersama mereka.
“Mau makan atau mandi dulu?.” tanya Dara.
“Ntar ah aku mau duduk dulu.” sahut Faozan tersenyum.
“Tadi Ibu bertanya kan siapa yg mendapat predikat No 2 Dokter terbaik di Indonesia.” tutur Faozan melanjutkan pembahasan mereka tadi.
“Iya dan Dara belum jawab itu.” sahut Ibu nya.
“Jawaban nya ada di depan mata Ibu sendiri.” sahut Faozan apa ada nya.
“Jadi maksud nya...”
“Tepat sekali.. Dara lah orang nya.” Faozan merebut pembicaraan gesit.
“Asataga.. kenapa Ibu begitu bodoh.. harus nya Ibu menyadari itu.. pantesan saja Dara begitu paham mengenai kesehatan.. bahkan begitu mengenal para Dokter itu.” jawab Ibu nya.. sambil merutuki kebodohan nya.. yg tak tau apapun mengenai menantu nya itu.
__ADS_1
“Udahlah Bu.. siapapun aku.. aku tetap keluarga kalian kan.” jawab Dara kemudian.
“Iya.. tapi Ibu kalo kamu sama sekali tak pantas bersama Faozan.. liat siapa kamu dan siapa Faozan.”
“Ibu bicara apa sich.” kecam Dara.
“Bu saat kenal atau pun menikah dengan Faozan aku bukan lah siapa siapa.. jadi kenapa ibu berfikir demikian.. justru aku bisa sampai seperti sekarang ini berkat dukungan dari nya.” lanjut Dara lagi.
“Apa Ibu tau.. dulu aku hanya seorang gadis yg bahkan tak bisa berbuat apapun tanpa bantuan orang lain.” tutur Dara lagi.
“Maksud nya.” tanya sang Ibu tak mengerti.
“Aku rasa sudah saat nya Ibu tau seperti apa masa lalu ku.” Dara mulai bicara dengan nada yg sedih.
“Bu.. hidup ku ini dulu nya begitu sulit.. bahkan saat itu aku hampir saja putus asa dengan hidup ini.. bagaimana tidak.. disaat aku & Faozan telah merencanakan begitu banyak hal tentang masa depan kami.. justru Tuhan merenggut semua nya dari ku.. Tuhan memberiku penyakit yg sangat parah...”
“Sakit apa?.”
“Kanker Otak Bu.” Faozan yg menanggapi.
“Apa?.” tanya Ibu nya kaget
“Benar Bu.. saat itu aku & Faozan memang belum bertemu.. tapi aku yakin saat dia tau tentang penyakit ku maka dia akan sangat sedih.. itulah mengapa sempat aku berbohong pada nya.” Dara mulai membuka lembaran pahit bagi nya & Juga Faozan.
“ Dia bilang kalo dia akan menikah dengan orang lain.. kebayangkan Bu.. bagaimana sakit nya perasaan ku saat itu.. hingga suatu hari aku tau kebenaran nya.. aku ingin marah karna dia telah berbohong pada ku.. tapi aku tak bisa lakukan itu karna dalam hati ku sungguh lega karna dia tak akan menikah dengan orang lain.” sambung Faozan.
“Jika orang lain yg jadi diri nya maka aku yakin tanpa fikir panjang mereka pasti akan menjauhi seorang gadis yg tak punya masa depan.. bahkan hidup nya sudah di ujung tanduk.. tapi tidak dengan Faozan Bu.. justru dialah yg tetap memberiku semangat untuk sembuh.. dialah yg selalu membuat ku tersenyum saat aku begitu hancur dan putus asa.. lalu dengan semua itu kenapa aku harus meninggalkan nya hanya karna saat ini aku telah jadi seorang Dokter.”
Ibu nya Faozan tak bisa berkata apapun lagi.. hanya air mata yg mewakili perasaan nya..
Kemudian dia memeluk kedua anak nya itu.
Ternyata selama ini kehidupan anak nya begitu pahit.. namun sedikit pun dia tak tau apapun mengenai anak nya itu.
Dalam hati nya juga merasa bangga karna ternyata putra adalah anak yg sangat baik.
Selama ini dia hanya sibuk dengan kehidupan nya sendiri.. tapi kali ini dia akan memperbaiki semua nya.. saat ini dia hanya akan hidup untuk anak anak nya.
__ADS_1