
Setelah merasa tenang barulah Dara mulai bicara kembali.
Dara.
" Boleh kok, nggak ada yg ngelarang, tapi kalau kamu diam terus aku bicara ama siapa?." Kali itj Dara bertanya dengan nada manja.
Faozan.
" Bicara aja ama tembok."
Lagi² Dara mengambil nafas dalam.
Dara.
" Oke, tembok kamu tau nggak kenapa sich ada yg ngambek, bantu aku donk tembok tolong bujuk dia ya, bilang pada nya kalau aku nggak akan nyakitin dia, jadi mana mungkin aku mau berpaling dari nya, dia nya aja yg terlalu posesif tadi panggilan nya terputus karna sinyal nya yg lagi jelek, bukan karna aku nggak mau bicara ama dia, mana mungkin aku nggak bicara pada nya dia itu penyemangat aku."
Dara mencoba bicara sendiri pura² bicara ama tembok, untuk mencoba menjelaskan pada Faozan kalau kemarahan nya itu tidak beralasan.
Mendengar Dara berkata demikian Faozan berusaha untuk menyembunyikan tawa nya, sebenar nya ia ingin tertawa tapi karna ia lagi marah nggak enak mau tertawa, ku akui ego nya benar² tinggi.
Faozan.
" Apa kamu udah gila sampe tembok aja di ajak bicara." Akhir nya ia mulai bicara dengan nada suara yg biasa saja.
Dara.
" Kan tadi kamu yg nyuruh."
Faozan.
" Tapi kalau kamu nggak gila harus nya kamu nggak lakuin."
Dara.
" Kan aku emang sudah gila karna mu."
Faozan.
" Lebay." jawab nya lembut.
Dara.
" Biarin lebay juga ama pacar aku, dan yg paling penting kamu udah nggak marah lagi."
Faozan.
" Kata siapa aku sudah nggak marah?."
Dara
__ADS_1
" Kata aku lah, masa iya kata bapak Tebe, oh iya kamu masih di luar?."
Faozan.
" Iya, dingin banget udara nya mana gelap banyak nyamuk lagi."
Dara.
" Ya udah kamu masuk ini juga udah malam, angin malam nggak baik untuk kesehatan."
Faozan.
" Tapi kalau aku masuk yg ada sinyal nya eror lagi."
Dara.
" Aku nggak mau dengar alasan apapun pokok nya masuk sekarang." Dara bicara tegas.
Faozan.
" Iya iya cerewet aku masuk, tapi kalau tiba² suara nya putus² jangan marah ya."
Dara.
" Iya, ya udah masuk sekarang."
Faozan.
Dara mencoba mendengar dengan seksama dan ternyata benar ia mulain berjalan masuk rumah.
Faozan.
" Nih aku udah di rumah."
Dara.
" Benar?." tanya nya.
Faozan.
" Iya kalau nggak percaya ayo vc."
Dara.
" Nggak perlu aku percaya kok."
Faozan.
" Makasih ya untuk perhatian nya, ternyata disaat aku lagi marah pun kamu tetap perhatian."
__ADS_1
Dara.
" Kan aku sayang ama kamu."
Faozan.
" Iya, makasih ya, dan apa kamu tau saat tadi kamu bicara sendiri, sungguh aku pengen ketawa tapi aku tahan karna aku lagi marah, bisa² kalau aku ketawa kamu malah ngelunjak saat aku marahin."
Dara.
" Aku udah yakin kalau kamu pasti akan tertawa, maka nya aku ngelakuin itu biar kamu sedikit tenang dan nggak kesal lagi."
Faozan.
" Eeem.. pinter nya kesayangan aku, dan satu yg selalu bikin aku kesal ama kamu, kamu setiap aku marah nggak pernah takut, bahkan kadang tertawa, jadi aku ngerasa gimana ya."
Dara
" Ehehehe... kamu tau kenapa aku nggak takut saat kamu marah."
Faozan.
" Kenapa?."
Dara.
" Karna kamu justru lucu kalau lagi marah." Jawab Dara dengan tertawa pelan.
Faozan.
" Iiih kamu ada² aja, tapi mungkin inilah yg membuat aku nggak mau kehilangan kamu, yaitu kamu itu menurut ku benar² tegar dan pengertian, kamu juga selalu memberikan nasehat yg baik buat aku."
Dara.
" Meski jelek ya... ehehehe."
Faozan.
" Kamu itu cantik dan yg terbaik buat aku."
Dara.
" Uhuukk uhhukk.." Dara pura batuk, mendengar nya.
Faozan.
" Dasar batuk lebay."
Begitulah akhir nya mereka ngobrol dan bercanda hingga masing² terasa ngantuk dan tertidur, bahkan sakin posesif nya Faozan, saat mereka mau tidur pun panggilan harus tetap berlangsung, kata nya supaya ia yakin kalau Dara emang nggak telpon cowok lain, aneh, benar² aneh ya guys..
__ADS_1