Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Bersama Dr.Farez


__ADS_3

Keesokan hari nya.


Sekitar jam 11 waktu setempat Dara tengah siap siap untuk pergi bersama Dr.Farez.


Selama hampir 30 menit lama nya barulah Dara selesai dengan segala persiapan.


Sekarang dia hanya perlu mengambil tas kemudian berangkat kesebuah restorant dimana Dr.Farez mengajak nya bertemu.


Dengan perlahan Dara mulai melangkah untuk keluar dari kamar & pergi.


Saat itu Faozan sudah berada di Barbershop nya.


Namun belum lagi kaki Dara mencapai ambang pintu.. suara ponsel di atas nakas itu membuat Dara menghentikan langkah nya.


Dara berbalik & mengambil ponsel itu.. Ponsel tersebut adalah milik Faozan.


Dara membuka kunci tombol ponsel nya.. Dan terlihat dari notif nya kalo sebuah chatt dari Tiana masuk di ponsel Faozan.


“Tiana?.” gumam Dara.


“Diakan mantan pacar nya Ozan.” lanjut Dara lagi.. yg masih ingat jelas tentang siapa Tiana.


“Selamat siang Ozan.” itulah isi chatt Tiana.. yg terbaca oleh Dara dari notif nya saja sebab Dara tak ingin membuka nya.


Dara membawa ponsel tersebut.. dia akan memberikan pada Faozan.. sebelum dia pergi.


“Sayang nih ponsel mu ketinggalan di rumah.” ucap Dara sambil memberikan ponsel tersebut pada Faozan.


Faozan pun mengambil nya.


“Makasih Sayang.” sahut Faozan.


“Oh iya kamu mau berangkat sekarang?.” lanjut Faozan lagi.


“Iya.” jawab Dara singkat.


“Oh iya tadi seperti nya ada chatt masuk tuh di hp kamu.” kata Dara datar.


“Oh iya dari siapa?.” Faozan bertanya penasaran.


Namun ada kekhawatiran juga dalam hati nya.. bagaimana jika Tiana yg chatt dan Dara telah membuka pesan nya.


“Aku nggak tau.. soal nya aku nggak buka tuh pesan.” jawab Dara menutupi nya.


Faozan merasa lega mendengar nya.


“Ya udah aku pergi ya.. Asalamualaikum.” pamit Dara sambil mencium punggung tangan suami nya.


Faozan membalas dengan mencium kening sang istri bahkan mencium bibir nya sekilas.


“Iya hati hati.. Waalaikum sallam.” sahut Faozan.


Kali itu Dara pergi dengan menggunakan taxi online.


Setelah Dara pergi barulah Faozan membuka chatt nya.


“Tiana lagi.” gumam nya setengah mengeluh.


Kemudian dia membalas pesan dari Tiana.

__ADS_1


“Ada apa Ti?.” itulah balasan Faozan.


Karna mendapat balasan dari Faozan.. Tiana pun kembali mengirim chatt.


Hingga akhir nya percakapan mereka lumayan panjang.. memang hanya percakapan biasa.


Tapi demi untuk tidak membuat Dara salah paham.. Faozan menghapus semua percakapan nya dengan Tiana tadi.


Sementara di sebuah restoran mewah.. Seorang Dokter tengah duduk sendiri sambil terus menatap kearah jalan menunggu seseorang yg kata nya sedang dalam perjalanan.


Dia adalah Dr.Farez.. yg sedang menunggu Dara.


Tak lama setelah itu Dara pun datang.. Dan langsung menghampiri Dr.Farez.


“Maaf Dr.. apakah Anda sudah lama menunggu?.” tutur Dara merasa tak enak hati.


“Tidak apa apa kok Ra.. lagian aku juga belum lama sampe.” sahut Dr.Farez.


“Ayo silahkan duduk.” Dr.Farez berkata sambil mempersilahkan Dara duduk.


Dara pun tersenyum dan duduk.


“Terimakasih Dr.” sahut Dara... Tapi saat itu dia telah duduk.


“Ra udah berapa kali sich aku bilang.. nggak usah panggil Dokter.. apalagi ini bukan di RS.” tegas Dr.Farez.


“Ehehe.. Maaf Dok.” sahut Dara tertawa pelan.. tanpa sadar embel embel Dokter itu masih saja disebut nya.


“Tuh kan lagi lagi.” keluh Farez.


“Habis nya aku bingung mau panggil apa.” tutur Dara kemudian.


Kemudian Farez juga langsung memanggil seorang Waiter dan memesan makanan.


“Oke.. sembari menunggu pesanan bagaimana jika kita melanjutkan pembahasan tentang panggilan tadi.” Dr.Farez mulai bicara lagi.


“Baiklah.” sahut Dara tersenyum.


“Gini Ra.. kalo di RS yes oke aku nggak keberatan kamu memanggil ku dengan sebutan Dokter.. tapi ku harap kalo di luar jam kerja kamu panggil nama ku saja.” usul Dr.Farez.


“Tapi rasa nya kurang sopan saja.” bantah Dara.


“Lalu apa panggilan yg sopan menurut mu kecuali Dokter?.” tanya Dr.Farez.


“Kalo di luar RS aku panggil Dr.Farez.. Dengan sebutan Kak Farez saja ya.. nggak apa apa kan?.” tutur Dara lembut.


Dr.Farez langsung mengangguk.


Saat itu pesanan mereka pun datang.. dan mereka mulai fokus makan.. tak ada percakapan saat mereka makan.


Hanya keheningan yg ada di antara mereka.. kecuali suara sendok dan garpu yg acapakali berdenting dengan piring.


Setelah selesai melahap makanan barulah mereka kembali berbincang.


“Ra.. sebenar nya aku mengajak mu kemari untuk membahas satu hal dengan mu.” Farez mulai bicara serius.


"Apa itu kak?.” tanya Dara juga sama serius nya.


“Gini Ra.. apa kamu berniat untuk membuka sebuah klinik di perkampungan dekat rumah kamu?.” tanya Dr.Farez.

__ADS_1


" Eem tentu saja iya kak.. dan aku rasa kalo bangun klinik disana akan cukup membantu orang orang yg ada disekitar perkampungan itu.” sahut Dara terus terang.


“Tapi kenapa kak Farez nanya demikian? Apakah kak Farez ingin membuka klinik disana?.” tanya Dara lagi.


“Bukan aku Ra.. tapi kamu.” jelas Dr.Farez.


“Kok aku kak.. Aku mana punya uang buat buka klinik.. kalo aku punya uang udah dari dulu aku bangun.” sahut Dara apa ada nya.. memang Dara ingin membuka sebuah klinik sendiri tapi dia belum punya modal untuk itu.


"Kalo kamu mau aku bisa membantu mu.. Nanti uang modal nya bisa kamu kembalikan saat kamu sudah punya uang.” tawar Farez tulus.


Dia sangat percaya pada Dara.. jika Dara pasti bisa melakukan itu.. bahkan dia sangat yakin kalo Dara membuka sebuah klinik pasti akan maju dengan pesat.


Dara tak menanggapi nya dia berfikir keras.. haruskah dia menerima tawaran Dr.Farez.. atau malah menolak nya.


Jika dia terima apakah dia akan mampu mengembalikan uang nya nanti.. namun jika dia menolak itu juga tidak bagus.. bukan kah kesempatan tak datang dua kali.


Melihat Dara yg hanya sibuk dengan pemikiran nya sendiri.. Farez mulai berkata lagi.


“Jangan ragu Ra.. percaya lah kamu pasti bisa.. kamu harus berani untuk merintis semua nya dari awal.. sebab kamu punya kemampuan untuk itu.. dan aku sangat yakin kamu bakal sukses dengan hal ini.” Farez memberi motifasi yg sangat kuat.


“Tapi bagaimana jika aku gagal.. aku akan mengembalikan uang mu dari mana kak?.” tanya Dara ragu.


“Kamu nggak perlu khawatir soal itu Ra.. jika memang nanti nya kamu gagal aku akan ikhlasin uang itu.. tapi jika kamu berhasil aku lah orang yg paling senang.. dan kamu bisa mengembalikan uang ku.” usul Farez lagi.


Apa kakak yakin?.” tandas Dara.


“Sangat yakin Ra.. karna aku percaya akan kemampuan mu.” jelas Farez tegas.


Baiklah jika demikian aku terima tawaran kakak.” sahut Dara tersenyum senang.


“Nah gitu donk.. setau aku Dara tak pernah menyerah apa lagi sebelum berperang.” tutur Farez lagi.


Dara tertawa mendengar nya.


“Tapi dengan syarat Ra.” lanjut Farez lagi


“Maksud nya?.” tanya bertanya bingung.


“Kamu harus tetap bekerja di RSI Yatofa.. meskipun nanti klinik itu sudah di buka kamu serahkan saja pada orang yg kamu percaya.. intinya klinik itu milikmu tapi RSI Yatofa itu juga masih tanggung jawab mu...”


“Iya kak.. aku ngerti apa maksud kakak.” Dara menyela bicara Farez.


“Kakak ingin aku hanya mengawasi klinik itu sajakan.. seperti yg kakak lakukan pada ku saat ini.” sahut Dara.


“Inilah salah satu bukti dari kepintaran mu.” tutur Farez dengan tertawa pelan.


"Ini semua demi kabaikan kamu Ra.. Sehingga jika suatu saat kamu bisa membangun RS kamu sudah terbiasa.” lanjut Farez lagi.


“Iya kak.. aku paham kok.” sahut Dara yg menyadari kebenaran dari perkataan Farez.


Farez tersenyum lembut menatap Dara.


Rasa nya dia benar benar bahagia saat melihat senyuman yg terukir di wajah Dara.


Dan iya satu Ra.. setelah ini apa kamu bisa pergi kesuatu tempat dengan ku?.” tanya Farez lagi.


Dara menatap Farez dengan penuh pertanyaan.


Kemanakah Farez akan membawa Dara.. dan bersediakah Dara pergi dengan nya lagi??.

__ADS_1


__ADS_2