
Melihat Dimaz dan Faozan yg terlihat begitu sedih.. ia pun akhir nya merasa tak tega juga.. tapi mau bagaimana lagi.. mereka memang salah dan pantas dia marahin.
" Maaf kalau kata² ku tadi menyakiti kalian." Dara mulai berkata lembut.. dan ia menatap kedua pria itu dengan bergantian.
" Memang kami yg salah." jawab Faozan.. ia mendekati Dara dan duduk di sisi kanan Dara.
" Maafkan aku." kata Faozan lagi.. sambil meraih wajah Dara dan mendekatkan ke wajah nya untuk kemudian Faozan mengecup kening Dara.. ia tak peduli meski ada Dimaz disana.
" Nggak apa² asal jangan diulangin.". Dara menanggapi dengan tersenyum.
" Iya aku janji nggak akan kayak gitu lagi." sambil berkata ia mengangkat dua jari nya membentuk huruf V.
Dara hanya menanggapi dengan tersenyum lagi.
" Maaf kan aku juga Ra." Dimaz berkata sambil mendekati Dara dia berdiri di samping kiri tempat Dara duduk.
" Iya aku maaf in kamu kok Dim.. tapi ingat lain kali kalo bicara itu fikir² dulu.. jangan sampai menyinggung perasaan orang lain." tutur Dara seada nya.
" Iya Cantik aku janji aku nggak akan asal bicara lagi." Dimaz pun duduk di dekat Dara dan menatap lekat Dara.. Dara sudah biasa dengan tatapan Dimaz yg seperti itu.. jadi ia tak heran lagi.
Tapi Faozan yg merasa tak suka dengan tatapan Dimaz itu... yg menurut nya tatapan itu bukan tatapan sebagai teman.. melainkan sebagai seseorang yg mencintai orang yg di tatap nya.
Dara menyadari ketidak sukaan Faozan pada cara Dimaz memandang nya.. hingga ia mencari cara untuk menghilangkan ketegangan itu.
" Gedok aku haus bisa kamu ambil kan aku minum." pinta nya lembut.. pada Faozan.
Faozan tak mungkin menolak.. ia mulai bangkit dan ingin mengambil minum untuk Dara.. Namun baru saja Faozan mau berdiri Dimaz mulai bicara.
" Nggak usah biar aku saja." entah kenapa Dimaz berkata demikian.
Dengan perkataan Dimaz yg begitu tentu saja Faozan akan kesal.
" Perasaan tadi Dara nyuruh aku dech bukan kamu." jawab nya sinis.
" Tapi..." belum sempat Dimaz menyelesaikan kalimat nya Dara sudah menyela.
" Kalian benar² nggak bisa damai ya.. belum juga 5 menit aku marahin kalian eh udah mau mulai lagi." Dara mengambil nafas dalam dan melirik Faozan dan Dimaz bergantian.
Kedua orang itu hanya mengambil nafas dalam.
Dengan wajah yg sama² sinis.
Untung saat itu Dessy datang dan memecah suasana tegang itu.
" Ra." panggil Dessy begitu masuk ruangan dan melihat Dara sudah duduk.
" Dess.". panggil Dara.
Faozan menoleh.. namun tidak dengan Dimaz.
Dessy berjalan untuk mendekati Dara.. Mata nya menatap Faozan.. ia tau itu pacar Dara karna ia pernah melihat Faozan melalui panggilan Video saat ia membahas tentang rencana liburan mereka dulu.
__ADS_1
" Kapan kamu kemari?.". sapa Dessy pada Faozan.
" Kemaren." sahut Faozan.
" Dessy.". Dessy mengulurkan tangan pada Faozan.. Faozan menyambut uluran tangan nya.. dan juga menyebut nama nya.
" Pantas saja kamu begitu cepat baikan ada obat yg paling manjur.". Dessy menggoda Dara.
" Apaan sich Dess.". sahut Dara setengah tertawa.
" Dim kamu kapan kemari?.". tanya Dessy.. ia memberikan buah untuk Dara.. Dara pun mengambil nya.
" Belum lama kok.". jawab Dimaz.
" Thanks ya Dess.. aku jadi pengen sakit terus nih biar dapat banyak buah dan perhatian dari kalian."
Pleeetttakkk.
Jidat Dara di jitak oleh Faozan.. pelan tapi..
" Kalo bicara tuh jangan asal.. emang nya kamu mau aku mati karna mikirin kamu aja."
Dara melotot pada Faozan karna dia dijitak begitu saja.. tapi ia sadar kalo dia memang sudah asal bicara.. jadi dia tak marah dan malah tersenyum.
" Ciyyee.. Ciyyee.. yg lagi kasmaran.. nggak nyadar ada para jomlo disini.. jangan bikin kami baper." Goda Dessy.
" Maka nya jangan negjom mulu." tutur Dara.
" Kalo mau teman² ku banyak yg masih jomlo." Faozan ikut bicara.
" Dim." panggil Dara.
" Iya." seraya menoleh kearah Dara.
" Kamu lagi sariawan tah?." Goda Dara.
" Iya nih dari tadi Dimaz nggak semangat banget." keluh Dessy.
" Lagi patah hati." Celetuk Faozan.
" Gedok." Dara menatap tajam Faozan dan menekan nada bicara nya.. mengisyaratkan bahwa ia ingin Faozan tak perlu bicara begitu.
" Udah nggak apa² dia benar." malah begitu jawab Dimaz.
Dessy melirik Faozan dan Dimaz secara bergantian dan seksama.
" Kenapa kalian berdua setiap kali saling melihat kayak mau saling membunuh saja." Dessy malah menambah garam diatas luka.
" Dess." Dara bicara sambil menatap tajam Dessy.. Dessy mengerti arti tatapan Dara yg tak ingin ia mengatakan hal yg aneh.
" Upz.. maaf." kata Dessy.
__ADS_1
Dara benar² jengah dengan keadaan itu namun ia sudah tak bisa berbuat apapun lagi untuk mengatasi keadaan itu.
Untunglah kedua orang tua nya segera datang dan itu mengubah suasana.
" Akhir nya putri Ayah bisa tersenyum lagi." kata sang ayah sambil memeluk putri tercinta nya.
"Maaf Dara ya Ayah.. Dara selalu membuat Ayah dan Ibu khawatir." kata Dara kemudian.
" Yg penting kamu sehat sayang.. tak masalah.. sudah tugas ortu untuk mengkhwatirkan anak nya." sahut sang ibu.. sambil memeluk dan mencium putri nya.
" Kak Daniel mana Bu?." Dara mencari² sosok kakak nya yg belum terlihat.
" Kakak disini bawell." Daniel bicara diambang pintu.. dia datang bersama istri nya.
" Aku kangen kakak." kata Dara manja.. saat itu Daniel juga sedang memeluk nya.
" Kakak juga kangen baweel nya kamu ini loh."
Dara tersenyum.. pandangan Daniel beralih ke Faozan yg berdiri didekat Ayah nya.
" Thanks ya.. kamu udah jaga Dara dengan sangat baik.. aku dapat melihat Dara begitu bahagia.
" Iya kak.. sama sama." sahut Faozan seadanya.
" Dan iya.. Nih Ibu sudah bawa pakaian ganti buat kamu.. maaf ya Ibu lancang buka koper kamu." Ibu nya Dara bicara pada Faozan dan memberikan sesetel baju yg memang milik Faozan.
" Makasih Bu." sahut Faozan mengambil pakaian itu.
" Ayah juga mau berterima kasih pada mu karna kamu sudah bersedia menjaga Dara bahkan kamu mengesampingkan dirimu sendiri." Ayah nya Dara juga mulai bicara pada Faozan.
" Ini belum apa² Ayah.. dibanding kasih sayang kalian semua kepada ku.. harus nya aku yg berterima kasih.. untuk kasih sayang dan perhatian kalian.. khusus nya.... " Dara langsung menyela bicara Faozan karna ia tahu khusus nya itu pasti tak lain diri nya sendiri.
" Syukurlah kalo kamu sadar." kata nya dengan nada bercanda.
Faozan hanya tersenyum.
" Oh iya tadi apa aku nggak salah denger.. kamu manggil Ayah dan Ibu ku.. Ayah dan Ibu juga." Dara mulai bicara lagi.
" Iya Ayah yg nyuruh." Ayah nya Dara yg menjawab.
" Jadi sekarang anak nya Ayah nambah satu lagi ya." Goda Dara.
" Iya lah.. apapun yg bisa membuat putri kami bahagia.. maka kami akan melakukan nya." giliran ibu nya yg bicara.
" Makasih Ayah.. Ibu.. Dara sayang kalian." sahut nya tersenyum.
" Apa Ibu dan Ayah tak berterima kasih pada kami." Dessy yg tadi diam mulai membuka suara.
" Oh.. Iya iya.. untuk kalian juga kok.. kalian adalah sahabat² nya Dara juga sudah seperti anak² Ayah dan Ibu juga." Jawab Ayah nya Dara.
Mereka semua tertawa ria.. termasuk Dimaz ikut suasana hangat itu.
__ADS_1
Hari itu juga Dara mengutarakan niat nya untuk keluar dari Rumah Sakit hari itu.
Awal nya semua orang menolak tegas.. tapi bukan Dara nama nya kalo nggak keras kepala.. hingga Ayah nya terpaksa bicara dengan Dokter Alex.. untuk meminta izin keluar dari Rumah Sakit.. untunglah setelah sedikit memaksa akhir nya Dokter Alex mengizinkan.