Cinta jarak jauh... ( LDR)

Cinta jarak jauh... ( LDR)
Memilih Setia.


__ADS_3

Setelah berfikir beberapa menit lama nya, Dara menatap Fahri dengan seulas senyum di wajah nya.. Fahri pun membalas dengan tersenyum manis.


Dara.


" Terimakasih untuk semua perasaan mu pada ku Kak, aku merasa sangat beruntung karna Kakak mempunyai niat untuk menjadikan aku istri Kakak, sungguh aku sangat tersanjung dan senag sekali mendengar nya.." Dara menoleh kearah Fahri sejenak, Fahri yg mendengar itu terlihat sangat bahagia... " Tapi maaf Kak, bukan maksud hati ku untuk membuat Kakak kecewa, tapi untuk saat ini aku belum bisa menjalin hubungan yg lebih dari teman, karna jujur saja aku masih sedikit trauma atas apa yg terjadi di masa laluku, untuk saat ini aku belum bisa membuka hati ku, aku ingin menyembuhkan sakit nya terlebih dahulu, jadi tolong maaf kan aku kak Fahri, aku tak bisa menerima mu, aku takut kalau aku menerima mu yg ada aku hanya akan menyakiti kakak lebih banyak lagi, sebab saat ini ada orang lain dalam hatiku, sekali lagi maaf kak."


Dengan seketika wajah Fahri berubah kecewa, tapi ia tetap mencoba tersenyum getir.


Fahri menghela nafas panjang untuk menenangkan perasaan nya yg benar² sakit, bahkan hancur, tapi itulah resiko dari memcintai, tentu ia harus siap menerima konsekuensi nya.


Fahri.


" Nggak apa² Ra, aku ngerti makasih sudah mengizin kan aku mencintai mu, walaupun aku tak bisa memiliki mu, tapi aku sudah cukup bahagia jika kau bahagia." kata nya tenang dan terkendali.


Dara.


" Iya kak sama², sekali lagi maaf kan aku ya kak.. dan iya jika memang suatu saat kita berjodoh aku yakin suatu saat nanti kita akan di pertemukan kembali dalam waktu dan perasaan yg tepat.. namun kalaupun kita tak berjodoh kita bisa tetap saling komunikasi, dan aku harap kamu akan menemukan seseorang yg bisa mendampingimu dalam suka maupun duka, dan aku akan berdo'a agar kamu selalu bahagia."


Fahri.


" Cara berfikir mu inilah Ra yg sangat aku suka darimu, sungguh sangat sulit mencari seorang gadis yg mempunyai pola fikir sepertimu,.."


Perkataan Fahri terpotong karna Dara menyela.


Dara.


" Oh iya, cara berfikir ku yg mana kak?."


Fahri.


" Yg mau mendampingimu dalam suka maupun duka, dari kata² mu itu aku yakin kau adalah seorang wanita yg mau diajak untuk berjuang, bukan yg hanya mau senang nya saja."


Dara tak memberi tanggapan apapun ia hanya tersenyum lembut..


Setelah itu ia pamit untuk kembali bersama teman² nya, karna mereka harus siap² untuk pulang besok pagi.


Setiba nya di rumah orang tua Mira, Dara langsung masuk ke kamar nya, ia duduk sendiri dengan perasaan bersalah, kalau ia ingat bagaimana kecewa nya Fahri saat tadi ia menolak, Dara benar² merasa sangat bersalah, meskipun sebetul nya itu bukanlah kesalahan nya.


Tapi saat itu ia hanya menuruti kata hati nya.


' Ya Tuhan... benarkah yg aku lakukan ini?.' ia bertanya dalam hati.


Dara mengambil nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Setelah sedikit tenang ia mengambil ponsel nya yg ada didalam tas nya... ia berniat untuk menghubungi Faozan, sebab sejak tadi pagi Faozan belum memberinya kabar.. mungkin karna mereka berdebat tadi.


Namun baru saja ia menemukan nama Faozan dan ingin memanggil nya, panggilan Faozan sudah masuk lebih dulu.


Dara.


" Hallo Asalamualaikum."


Faozan.


" Waalaikum sallam.. Lagi ngapain sayang maaf baru bisa menelpon sekarang karna tadi aku habis anter kakek ke Dokter."


Dara.


" Iya nggak apa² kok, ngomong² kakek kamu sakit apa?."

__ADS_1


Faozan.


" Batuk filek.. tapi udah di kasih obat kok."


Dara.


" Syukurlah kalau begitu."


Faozan.


" Iya, oh iya kamu lagi apa?."


Dara.


" Ini lagi berkemas, besok pagikan kami harus pulang."


Faozan.


" Oh iya iya, kan udah tiga hari ya."


Dara.


" Iya, oh iya maaf kan aku ya."


Faozan.


" Maaf untuk apa?." Faozan bertanya bingung.


Dara.


" Maaf karna aku sudah marah² padamu tadi pagi, maaf juga kalau selama ini aku sudah banyak menyakiti mu, maaf kalau aku pernah membuat mu kecewa." kata Dara lirih, tanpa terasa saat ia bicara begitu air mata menetea di pipi nya... ia merasa sangat bersalah karna ia marah² tanpa alasan bahkan ia hanya sibuk dengan pria lain tanpa memberi kabar.


Faozan.


Dara.


" Udahlah, bukan masalah lagian aku nggak ngerasa terganggu kok."


Faozan.


" Makasih kalau gitu, jujur ya kadang aku sendiri sering berfikir, kalau aku bersikap terlalu mengekang aku juga takut kamu akan meresa tak bebas dan itu membuat mu bosan pada ku, tapi kalau aku memberimu kebebasan aku takut kamu akan melupakan aku.. aku benar² bingung apa yg harus aku lakukan.."


Dara.


" Lakukan saja apa yg menurut mu benar dan ikuti saja kata hati mu, sebab hati tak pernah salah."


Faozan.


" Lalu apakah kamu nggak ngerasa keberatan karna aku terlalu sering melarang mu?."


Dara.


" Nggak kok, karna aku tau itulah cara mu mncintai ku." jawab nya tertawa pelan.


Faozan.


" Untung kamu jauh,.."


Dara.

__ADS_1


" Emang nya kalau aku dekat kenapa?." Dara menyela dengan pertanyaan itu.


Faozan.


" Aku cuma mau memeluk dan mencium mu."


Dara.


" Kenapa???." tanya nya kaget.


Faozan.


" Karna kamu sangat pengertian."


Dara.


" Oh begitu."


Faozan.


" Iya tapi sayang nya kamu jauh kalau dekat mah pasti udah habis kamu aku peluk.."


Dara.


" Hanya itu saja."


Faozan.


" Iya itu saja sebab kalau yg lebih nggak boleh dosa tau."


Dara.


" Lah kamu fikir meluk n cium seorang wanita yg bukan muhrim mu itu nggak dosa!!."


Faozan.


" Iya dosa juga sich, ya udah sekalian aja yg lebih dari itu kan dosa nya sama aja." Faozan menggoda Dara.


Dara.


" Kepala mu peang." kata nya jengkel


Faozan langsung tertawa riang mendengar nya.


Faozan.


" Bercanda sayang."


Dara.


" Iya aku tau kok.. ehehe."


Begitulah mereka.. benar kata status yg sempat di buat Faozan di wa nya..


Berantem tiap hari..


Akur nya semenit..


Rindu nya setengah mati..

__ADS_1


__ADS_2