
Semantara ini dua Pangawal di belakangnya diam-diam mengelus dada mereka lega
_________________
Mereka tak menyangka bahwa di sepanjang hidup mereka, mereka bisa melihat senyum Putri Melody, Putri dengan gelar paling cantik di Kekaisaran itu, dan lebih gilanya lagi senyum itu jelas-jelas di berikan untuk mereka!, mereka yakin bahwa keberuntungan 2 kehidupan mereka sudah terpakai untuk hari ini.
Berlebihan memang tapi itu yang mereka rasakan, walupun di katakan bahwa Putri Isabella adalah yang tercantik nyata nya mereka orang luar tak pernah melihat wajah Putri Melody begitu pun tadi karena wajah Putri Melody bahkan tadi masih tertutup penutup kepala khas pengantin dan itu seperti nya terlihat samar dari bawah kerudung tersebut di tambah kecepatan Yang Mulia Duchess Melody dalam berkuda mereka saja sampai kewalahan untuk mengejar kalau boleh jujur.
"Gelar kecantikan Yang Mulia Duchess emang tidak pernah bohong"ucap salah satu dari mereka yang di angguki oleh teman nya yang ada di sebelah nya.
Kini Delice, dan Devian sedang berbincang sambil menentukan rute apa yang akan mereka tuju, pasalnya setiap rute ke wilayan Utara begitu berbahaya dengan banyak nya moster di sepanjang jalan jadi saat ini mereka sedang mencari rute paling minim resiko.
"Bagaimana jila lewat sini saja, di sini kita bisa mengisi bahan makanan selain itu moster di sini relatif lemah, dan mudah untuk di tangani"ucap Devian.
"Rute ini memang rendah tingkat bahaya nya tapi itu memutar, akan memakan waktu 1 bulan agar sampai di sana, rute ini tidak terlalu efektif, apa lagi jika di lihat dari persedian makanan yang bisa kita tampung selama perjalan, aku takutnya kita tak memiliki makanan yang cukup saat melewati hutan Manila"ucap Delice jika dia dalam hal serius seperti ini dia akan berbicara panjang kali lebar hingga menjadi cerewet.
"Ah!, kamu benar lalu kita tak punya pilihan lain selain melewati rute ini, ini memang cukup jauh namun bisa di tempuh dalam waktu 8 hari, selain itu moster di sini memang cukup berbahaya tapi dengan aku dan anda Sir Delice itu bisa di atasi, selain itu ada tempat agar kita bisa menyimpan persedianan jadi ini rute terbaik?"ucap Devian, dia cukup terkejut saat dia melihat hutan Manila dia sama sekali tak mempertimbangkan hutan itu.
"Iya, kita akan lewat sana, selain itu juga hutan Manila kita hanya akan berada di pinggir"ucap Delice.
"Baiklah kalau begitu aku akan segera keluar untuk mencari persediaan kita bisa langsung melanjutkan perjalan nanti sore"ucap Devian dan segera pergi dari sana untuk membeli persedianan di ikuti oleh beberapa pengawal.
Sedangkan Delice dia masih memandang rute yang akan mereka lalu dengan cermat.
__ADS_1
'Apa tak apa lewat sini?'
Pasalnya jika tak salah daerah itu dekat dengan tanah Count Kristion dan sepengetahuan nya Count Kristion adalah salah satu bangasawan bawahan Janda Permaisuri ke-1.
"Apa tak apa"gumam Delice dia merasa bahwa rute itu aman dari moster tapi tak aman dari manusia, memikirkan itu dia merasa sangat miris, ternyata sesama manusia lebih berbahaya dari pada makhluk lain.
"Delice apa yang sedang kau lakukan?"tanya Melody, kini Melody berdiri di atas tangga sambil tersenyum cerah.
"Ah!, Yang Mulia Duchess"Delice yang kaget pun tersentak saat mendengar suara itu, sehingga dia segera berbalik dan memberi salam ke pada Melody yang ada di sana.
Berjalan mendekat Melody menatap ke arah di mana peta rute menuju utara terlentang di atas meja.
"Kau sedang mencari rute perjalanan?, di mana Devian?"tanya Melody sambil dengan cermat melihat peta itu, dia bisa melihat bahwa di sana ada coretan yang di buat tentang pemilihan rute, peta itu juga tak bersih lagi karena banyak coretan di sana.
"Devian dia sedang membeli perbekalan untuk penjalanan selanjutnya"ucap Delice.
"Itu_, Devian yang mencoret-coret nya dia berkata bahwa akan labih baik jika di cacatan di catat di peta nya langsung"ucap Delice memberi penjelasa.
"Oh, baik"ucap Melody
"Yang Mulia apa anda juga ingin menentukan rute anda sendiri?"tanya Delice dengan sopan.
Kalimat itu ternyata bisa membuat Melody berbinar bahagia, dan dengan kecepatan penuh tangannya merebut peta yang ada di depan meja dan membaca nya dengan mata penuh akan semangat api yang berkobar, Delice yang melihat itu hanya tersenyum layaknya seorang kakak.
__ADS_1
Umur Delice itu 28 tahun namun wajahnya masih seperti murid SMA itu semua karena keturunan genetik, jadi bukan karena dia penyihir, Delice juga adalah salah satu seseorang yang melindungi Melody dari kecil kalau tak salah saat umur nya 10 tahun dia sudah di angkat sebagai pelindung Garis keturunan Kekaisaran dan kebetulan dia melindung Melody yang masih bayi.
Sehingga sampai detik ini Delice menganggap Melody sebagai adik nya, sekaligus anak nya, walaupun rada absurd tapi itu kenyataan, dia juga sudah punya istri dan istri nya itu Diana pelayan setia dari Melody.
Yap!, mereka berdua bisa di katakan sudah merawat Melody dari kecil.
"Hey!~, aku kembali"sebuah suara riang kini terdengar dari arah pintu, di sana Devian berlari ke arah mereka dengan senyum lebar tak lupa kedua tangan yang di rentangkan seperti hendak memluk orang lain, dia sangat seperti anak kecil.
"Hehehe~~~"benar saja Devian langsung memeluk Delice dengan erat.
Delice yang di peluk hanya memiliki wajah datar dan dengan enteng nya dia mengangkat Devian seperti seorang kucing dan menyingkirkan nya.
"Jangan janggu aku!"ucap Delice.
"Dasar Delice, sangat menyebalkan!, oh!, aku lupa semua persiapan sudah selesai kita bisa pergi sekarang juga~"ucap Devian dengan riang.
"Jam berapa sekarang?"tanya Melody dengan serius sambil menurunkan peta rute dan menatap ke atah Delice serta Devian.
"Ini jam 1 siang"ucap Devian.
"Kalau begitu ayo cepat kita pergi"ucap Melody dan segera bangun dari duduk nya serta berjalan ke luar sendiri.
Namun sebelum itu dia mengambil pedang Devian yang tergeletak di atas meja.
__ADS_1
Devian yang melihat itu hendak mengambil pedangnya namun dia ternyata kalah cepat dengan Melody yang sudah berada jauh dari jangkauan nya, sehingga tangannya hanya menggantung di udara tanpa ada hal yang menyambut, diri nya pun kini hanya membeku tak percaya, pasalnya dia yakin kalau Duchess Utara itu baru saja mengambil pedang tapi dia sudah sejauh itu.
"Apa yang kau lakukan, ayo cepat"ucap Delice yang melihat Davian masih saja membeku di tempat.