Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 122


__ADS_3

"Argh!!, si4l!, kenapa jadi serba salah seperti ini sih?!"maki Arsen yang juga merasa bingung.


Hufttt~~~


Helaan nafas terdengar dari keduanya mereka saat ini sama-sama frustasi dengan keadaan.


"Ya sudah kak seperti ini saja, kita serahkan semua hukuman untuk ibu kepada Melody adik bungsu kita dan bagaimana pun hasilnya kita hanya bisa menerimanya saja, lagi pula di sini yang sangat di rugi kan adalah Melody adik kita itu, jadi ku rasa keputusan yang tepat adalah membiarkan Melody melakukan nya"saran Arsen.


"Tapi bagimana jika Melody menjatuhkan hukuman mati kepada ibu?"tanya Kaisar jelas sekali dirinya sangat sedih.


"Huftt~, yah mau gimana lagi, ibu memang pantas mendapatkan nya"ujar Arsen walaupun terkesan masa bod0h tapi dirinya juga khawatir tentang hal itu.


Melirik kakaknya sebantar Arsen kini memiliki pertanyaan di kepalanya.


"Lalu_?, kapan kamu akan membongkar semua kejahatan ini?"tanya Arsen.


Mendengar apa yang di tanyaakan oleh Arsen Kaisar tersentak dan mengeratkan pegangannya kepada cangkir teh nya, rupanya respon itu terlihat oleh mata Arsen yang tanpa sengaja melirik ke arah kakaknya itu.


Arsen hanya bisa menghela nafas bagaimana pun juga dia tau bahwa hal ini sangat sulit bagi kakaknya di sisi lain dia adalah seorang Kaisar yang harus adik, juga seorang kakak yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap adiknya tapi dia juga seorang anak jujur saja Arsen mulai prihatin terhadap nasib kakaknya itu.


"Rencananya akan di adakan satu minggu lagi tepatnya di pesta yang akan di selenggarakan pada saat itu"jawab Kaisar Damian.


"Oh_!, berarti kamu akan mengundang Melody juga?"tanya Arsen.


"Iya"jawab Damian.


"Apa kakak kira dia akan datang kepesta itu?, ku dengar keadaan Duchy Salvier lumayan mengkhawatirkan jadi ku rasa dia tak akan pergi kepesta?"ujar Arsen.


Dia cukup mengenal sikap adiknya itu apa lagi di tambah dengan beberapa informasi yang di terima dari mata-mata yang sengaja dia pasang di samping adiknya itu.


Adiknya itu kini sudah jadi seorang penguasa yang sangat bertanggung jawab hingga tak pernah bisa memperhatikan kesehatan dirinya sendiri, jadi dia bahkan tak yakin jika Melody akan datang.


"Dia akan datang karena acara ini untuknya"ujar Damian tersenyum penuh akal.


"Maksud kakak?"tanya Arsen yang sama sekali tak bisa mengerti apa maksud dari kakaknya yang aneh ini.

__ADS_1


"Tentu saja, karena pesta ini akan di buat dengan dalib kepulangannya dari 'Dunia Rahasia'"senyum Damian kini berubah menjadi senyum yang amat licik.


Arsen yang mendengar itu tak menyangka bahwa kakaknya ini ternyata memiliki beberapa kemajuan pada dirinya sendiri.


"Si4l!, bahkan jika aku pun tak bisa menolak nya"ujar Arsen mengumpat bisa-bisanya kakaknya itu berfikir hingga sejauh ini.


"Tentu saja kamu tau kan aku yang sebenarnya seperti apa?"tanya Damian penuh percaya diri menatap Arsen.


Tersenyum miring Arsen tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, tentu saja dia tau apa maksud kakak nya itu, dia juga tau bukan mungkin semua saudara yang lain nya juga tau kalau kakaknya itu lebih mengerikan dari pada mereka semua, hanya saja sifat mengerikan kakaknya itu selalu saja tertutup dengan sikap pemalasnya serta sikap yang selalu ingin hidup tenang dan jangan lupa juga dengan cita-cita nya yang ingin jadi petani itu!.


Yah walaupun sekarang kakaknya itu tak akan bisa meraih cita-cita untuk menjadi seorang petani yang hidup tenang dan menikmati masa tua di tempat yang sederhana namun hangat seperti yang dia inginkan itu.


"Terserah kamu saja lah"ujar Arsen pasrah sambil berdiri.


Rupanya tindakan nya itu membuat Damian memiliki pertanyaan.


"Mau kemana?"tanya Damian.


"Pergi menemui ibu, kita sudah terlalu lama berbicara aku yakin ibu saat ini sudah menunggu ku untuk datang"ujat Arsen dan segera pergi dari sana meninggalkan Damian sendirian meminum teh nya.


Mengambil nafas dan buang dia melakukan hal tersebut berkali-kali memantapkan hatinya.


Setelah mantap akhirnya dia mulai mengetuk pintu tersebut.


Tok


Tok


Tok


Tak ada jawaban tapi dia yakin jika kalau ibunya sudah menunggu nya di balik pintu besar itu.


Membuka pintu dia langsung di sungguhan dengan pemandangan di mana ibunya saat ini sedang duduk di sofa memandang kearah pintu kamar dengan senyum tulus di wajahnya.


Arsen kini bisa melihat dengan jelas wajah ibunya itu, jujur saja hatinya lumayan sakit saat melihat sosok itu yang kini jauh lebih kurus dan juga sangat pucat walaupun mungkin saja ibunya itu sudah berusaha berdandan.

__ADS_1


"Kamu sudah datang nak~, ayo duduk di samping ibu~"ujar Janda Permaisuri 1 lembut dengan senyum di wajahnya.


Arsen tersenyum sebelum dengan ringan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Salam kepada Janda Permaisuri 1 Kekaisaran BlueMoon"hormat Arsen dengan tata karma yang sempurna.


"Hohoho!, anak ku kenapa kami begitu sopan ayo duduk saja di samping ibu"ujar Janda Permaisuri 1.


Arsen tersenyum sebelum menjawab.


"Baiklah"


Dirinya kini duduk di samping ibunya, Janda Permaisuri kini melirik kearah Sir Alex memberi isyarat untuknya keluar dari ruangan itu.


Sir Alex yang paham menuduk hormat sebelum keluar dari sana tak lupa dirinya juga menutup pintu meninggaklan ibu dan anak itu berbincang.


Tatapan Sir Alex yang baru saja keluar kini berubah dari datar menjadi sangat tajam.


Dirinya kemudian mengelurkan sebuah surat dan pergi kerah seorang Pelayan di sana.


Berpura-pura meminta segelas air kepada Palayan tersebut, tanpa di sadari siapa pun kini kertas tersebut sudah berpindah tangan.


Sir Alex dan Pelayan itu saling pandang sebelum akhirnya sang Pelayan menundukan kepalanya dan segera pamit dari sana yang hanya di balas anggukan oleh Sir Alex.


"Ini semakin menarik bukan Yang Mulia Janda Permaisuri 1?"ujarnya setelah meminum air tersebut hingga habis.


Tak


Meletakan gelas air itu di sembarang tempat Sir Alex kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan senyum misteriusnya.


Sedangkan di sisi lain Devian yang amat sibuk karena perilaku ayahnya dan Kaisar kini benar-benar dalam keadaan buruk kedua kantong matanya kini hitam layaknya panda.


Dia sungguh tak habis pikir bagimana mereka berdua memberikan tugas seperti ini kepadanya, jika begini caranya ini sama sekali tak ada bedanya dengan di Duchy Salvier.


"Huft~, ini melelahkan"ujarnya sambil melepas kaca mata yang di gunakan dan mulai memijat pangkal hidungnya yang lumayan pusing.

__ADS_1


Hingga sebuah ketukan di pintu kamar nya membuatnya tersadar.


__ADS_2