
Yah Melody tak heran jika kalau Marques berkata seperti itu pasalnya memang benar kok dia bahkan sempat berfikir untuk memajangnya saja dan tak memberikan kepada Marques.
Namun untungnya saja nafsunya kalah dengan hati nuraninya, jadi dia membungkus pedang itu dan memberikannya kepada Marques walaupun dia merasa sedikit sakit.
"Kalau begitu Marques hal apa yang membuatmua ingin bertemu dengan ku?, tak mungkin kan itu hanya hal sederhana seperti berterima kasih karena sebuah pedang?"tanya Melody.
Seorang Pelayan datang dan menyeduh teh untuk mereka berdua, serta menyangkan teh untuk mereka sebelum berjalan mundur dan pergi.
"Yang Mulia anda sangat peka"puji Marques sambil meminum tehnya pelan, setiap gerakannya begitu tegas dan menganggumkan.
"Apa ini tentang Count?"tanya Melody yang sepertinya tepat sasaran.
"Ternyata anda lebih peka dari apa yang saya duga Yang Mulia, tapi sebelum itu boleh saya meluruskan dan bertanya beberapa hal?"tanya Marques.
"Tentu, aku punya banyak waktu luang untukmu"jawab Melody.
"Boleh saya tau berapa umur anda Yang Mulia?"tanya Marques.
"18 tahun bebarapa bulan lagi akan 19"ujar Melody.
"Cukup muda untuk jadi seorang penguasa"ujar Marques.
Mendengar hal tersebut Melody tersenyum dan meminum tehnya.
"Marques umur bukan sebuah ukuran untuk jadi Penguasa"ucap Melody tiba-tiba.
Marques yang mendengar itu juga tersenyum.
"Tentu itu tidak, bahkan Kaisar yang sekarang memimpin di usia yang lebih muda dari anda"
Hening tak ada yang berniat mengelurkan kalimat percakapan sebelum Marques mulai melanjutkan ucapannya.
"Lalu Yang Mulia saya kesini memang karena Count tapi juga dengan tulus ingin berterima kasih"ujar Marques.
"Hmm yah, lalu apa yang ingin kamu katakan tentang Count?"tanya Melody.
"Yang Mulia saya dengar Count di penjara karena tuduhan berkhianat, saya yakin kalau kalau dia tak melakukannya Yang Mulia!"teriak Marques membela Count dengan berdiri dari duduknya bahkan sampai menggenbrak meja dengan keras.
Brak!
__ADS_1
Tidakan nya tersebut memhuat teko serta cangkir yang ada di atas meja bergetar bahkan teh milik Melody kini tumpah di atas meja
Melirik teh nya yang tumpah dengan wajah tenang Melody melambaikan tangannya kearah Pelayan menyuruh salah satu dari mereka membersihkan teh yang tumpah.
Seorang Pelayan kini berjalan kearah mereka dan mulai membersihkan meja dengan telaten serta hati-hati.
"Kamu sangat membelanya, aku yakin hubungan kalian sangat baik"ujar Melody.
Hal tersebut membuat Marques tersentak apa lagi saat dirinya menyadari bahwa dia berteriak sambil berdiri bahkan menggembrak meja dengan keras, dan juga dia bisa-bisanya menumpahkan teh?!
"Maaf atas kelancangan saya Yang Mulia"ujar Marques dan segera kembali duduk lagi.
"Hmm bukan hal yang perlu di maafkan"ujar Melody ringan.
Pelayan yang tadi membersihkan segera saja mundur setelah mendapat perintah lewat tangan dari Melody.
"Aku tau kamu khawatir dengan Count aku akan segera membebaskannya karena dia tak bersalah"ujar Melody.
Mendengar hal itu Marques tersentak dan terkejut.
"Kamu tau kan aku baru menjadi Duchess belum lama ini bahkan itu belum satu tahun sangat sulit mengelolah sebuah wilayah yang hancur menjadi makmur itu semua butuh proses yang panjang"
"Dan untuk masalah Count itu, persidangan akan di gelar 3 hari lagi di tempat pengadilan Agung, jadi jika kamu ingin melihatnya datanglah 3 hari lagi ke sana"ujar Melody panjang dan segera berdiri dari duduknya.
"Aku orang yang cukup sibuk banyak hal yang harus aku lakukan jadi aku pamit pergi dulu Marques, sampai jumpa 3 hari lagi"ujar Melody dan segera pergi dari sana di ikuti oleh Sir Delice, dan Sir Candra tanpa menoleh lagi kebelakang.
"Marques mari saya antar ke depan"tawar Sir Galon sedikit membungkuk ke arah Marques.
Marques yang mendengar itu bangun dari duduknya.
"Tak perlu aku bisa pulang sendiri, kamu pergi sana bekerja Sir, aku tau Duchy kini sangat sibuk untuk beberapa tahun ke depan"ujar Marques sebelum pergi dari sana.
Melody yang kini sudah sampai di ruang kerjanya kini kembali di hadapkan oleh banyak berkas di sana.
"Melelahkan, tapi untungnya saja Delice sudah mengerjakan beberapa hal kini tinggal membuat hal baru untuk di proses"
"Pengadilan Agung aku lupa jika aku belum membuatnya"ujar Melody yang kini menjadi lemas.
Dia bahkan belum membuat apa-apa soal itu tapi beraninya dia berkata dengan penuh keyakinan kalau 3 hari lagi di Pengadilan Agung Count akan di adili?, cukup membuat gila.
__ADS_1
"Bangunan bisa di urus dengan cepat tapi tenaga kerja itu terlalu sulit"gumam Melody.
Yah sebenarnya yang menghambat pembangunan Duchy bukan lah sebuah bangunan, infrastruktur atau yang lain nya tapi itu adalah tenaga kerja yang profesional dan berpendidikan tinggi!.
Lagi pula di mana dia bisa menemukan seseorang yang profesional dan berpendidikan tinggi di tempat seperti Duchy ini?!.
Tempat di mana bahkan penduduknya tak bisa membaca dan menulis satu huruf pun!.
Berfikir sejenak, Melody akhirnya mengelurkan kuas dan selembar kertas untuk menulis surat, menulis sesuatu di atasnya Melody tak lupa memberi stempel Duchessnya.
"Akan lebih baik jika bangunannya di buat dahulu saja"ujarnya.
"Delice bisa kamu masuk"panggil Melody.
Tak lama Delice masuk kedalam ruang kerjanya dan membungkuk sedikit.
"Yang Mulia hal apa yang bisa saya bantu?"tanya Delice.
"Kamu bilang Devian ada di mana?"tanya Melody.
"Devian mungkin sekarang dia sudah pergi menjadi pengawas"ujar Delice.
"Kalau begitu serahkan ini kepadanya dan katakan aku mau itu selesai dalam 2 hari"tegas Melody.
"Baik Yang Mulia"ujar Delice menerima surat tersebut dan segera keluar dari sana.
"Pengadilan itu mungkin sementara waktu aku bisa menjadikan diriku sebagai Hakim dan Delice serta yang lain nya sebagai sisanya"ujar Melody.
Tapi dia tau tak bisa dia selamanya hanya mengandalkan bebarapa tenaga kerja itu, karena bagimana pun mereka semua tak bisa menyentuh semua hal secara bersamaan.
Pikiran itu nanti lebih baik baca bebarapa laporan yang ada.
Beberapa hal dari mereka melaporkan kalau tenaga medis sudah di dapat dan mulai beroperasi dalam waktu singkat sudah memiliki beberapa pasien namun masih terbatas dalam hal obat-obatan.
Kalau begitu mari kirim kembali dana serta obat nya lagi.
Ada juga laporan bahwa sekolah sudah mulai berjalan namun beberapa orang tua tampaknya tak memperdolehkan anak-anak mereka bersekolah dan malah menyuruh anak-anak mereka bekerja entah di rumah atau pun mencari nafkah.
Hal seperti itu mari masukan ke dalam hal yang perlu di urus.
__ADS_1