Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 85 Kapten yang marah itu merepotkan!~


__ADS_3

"Hufttt~~"menghela nafas Melody sangat lega bahwa semua hal kini sudah berakhir dia bisa kembali berlayar.


Dengan cepat Melody melesat berlari ke arah kota sampai di kota Melody segera saja di hampiri oleh banyak warga terutama Niang Niang yang nampak sangat khawatir.


"Jie Jie kamu baik-baik saja apa ada yang terluka?"tanya Niang Niang memandang Melodt dengan mata penuh akan kekhawatiran.


Melody tersenyum menanggapi Niang Niang rasanya dia seperti memiliki adik yang mengkhawatirkan nya tak seperti adiknya yang dulu yang hanya akan menyudutkannya.


"Tenanglah Niang'er Jie Jie baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir"ujar Melodt memegang tangan Niang Niang.


"Syukurlah"jawab Niang Niang dengan mata berkaca-kaca menatap Melody dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Melody.


"Jie Jie kamu membuatku sangat khawatir, aku takut ada hal buruj yang terjadi kepadamu, hiks!"ucap Nuang Nuang dengan air mata yang mengakur dari pelupuk matanya.


Melihat itu Melody tertegun sebentar baru pertama kalinya dia melihat orang yang khawatir seperti ini hingga menangis seperti Niang Niang.


Tanpa sadar tangan Melody terangkat dan menghapus air mata Niang Niang dengan tangannya.


"Jangan menangis aku tak suka air mata"ujar Melody tiba-tiba sambil menarik tangannya.


Pipinya memerah dia sangat malu akan hal yang dia lakukan tadi (menghapus air mata Niang Niang).


Niang Niang yang mendengar itu segera menghapus air matanya, dia sama sekali tak mau mambuat pehlawannya marah.


"Baik Jie Jie Niang Niang tak akan menangis lagi"ujar Niang Niang berusaha berhenti menangis.


Sikapnya itu malah membuat Melody merasa bersalah.


"Bukan!, bukan seperti itu!, aku tak bermaksud seperti itu"ucap Melody.


Ucapan Melody itu membuat Niang Niang menatap Melldy bingung dia sama sekali tak tau harus berbuat apa, siapa sangka bahwa hal itu malah terlihat imut!.


"Ugh!, kurasa punya satu adik tak masalah"gumam Melody sambil memegangi dadanya.


Rupanya gumaman itu di dengar oleh Niang Niang hingga membuat pipi Niang Niang memerah hingga ke telinga.


"Yah pokoknya aku sudah selesai di sini jadi selamat tinggal"ujar Melody pergi sambil melambaikan tangan.


Warga yang melihat kepergian Melody segera berkumpul mengantar kepergiannya.

__ADS_1


Tiba-tiba dari arah belakang seorang 3 bocah kecil berumur 4 tahun berlari kearah Melody dengan sekeranjang buah di tangan mereka.


"Jie Jie!"


"Jie Jie!"


"Jie Jie!"


Panggil mereka ber-3 membuat Melody menoleh, Melody terkejut saat melihat 3 orang anak itu apa lagi saat dirinya melihat salah satu dari mereka tersandung dan hendak jatuh.


Dengan sigap Melody segera menangkap anak tersebut.


"Kamu baik-baik saja dik?"tanya Melody kepada seorang anak laki-laki yang dia tangkap.


"Umm~, aku baik-baik saja Jie Jie"ujar anak tersebut.


"Ada apa?"tanya Melody lagi.


"Jie Jie ini"ujar mereka ber-3 malu-malu sambil memberika keranjang yang mereka bawa.


Melody pun menerimanya dengan senyum.


"Kalau bagitu Jie jie pergi dulu ya"ujar Melody lagi sambil berjalan pergu tak mula melambaikan tangannya kearah mereka bertiga.


Para anak-anak itu kini memiliki pipi yang memerah mereka malu sekaligus sangat terpesona akan pesona Melody yang sangat luar biasa.


Sesudah jauh dari kota tersebut segera saja Melody memasang wajah datar apa lagi saat sebuah suara membuanya sangat muak.


"Sudah datang huh!?"


"Ya"jawab Melody apa adanya sebelum melewati orabg tersebut dan naik ke atas kapal.


"Hey bocah!, kau ini seharusnya yang marah itu aku!"teriak orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah sang Kapten.


Melody sama sekali tak memperdulikan nya terserah si Kapten mau bagaimana dia sama sekali tak ingin perduli dengan orang itu!.


Jadi Melody hanya berada di posisi nya dan mulai meramalkan sihir angin, namun tetap saja walaupun itu sudah 10 menit sang Kapten masih saja ada di bawah dengan wajah yang tak bersahabat tanpa ada niat untuk masuk ke atas kapal.


Melody yang melihat itu tentu saja sangat jengkel sehingga dia berterika.

__ADS_1


"Apa kau akan tetap di sana?!, kamu tak mau naik kapal?!, baikalah jika itu mau mu aku akan berlayar tanpa mu!"teriak Melody yang sudah muak.


Namun tetap saja sang Kapten tak bergerak dan malah memalingkan wajahnya ke arah lain, karena geram Melody juga tak mau ambik pusing dan segara menuju arah setir kapal.


"Semuanya ayo cepat bergerak!, angkat jangkarnya!, dan turunkan layar nya!"teriak Melody namun tetap saja semua awak kapal hanya diam tak mendengarkan apa kata Melody.


Walaupun mereka menghormati Melody tapi tetap saja Kapten mereka adalah seseorang yang ada di bawah sana jadi tak mungkin bagi mereka untuk mengkhianati nya.


"Ada apa dengan kalian?, kalian tak ingin mengikuti apa perkataan ku?!"tanya Melody galak semuanya kini hanya menudukkan kepala mereka diam.


Paman Wage yang melihat kondisi yang tak kondusif segera berterik kepada sang Kapten.


"Hey!, sudah marahnya ayo cepat naik ke atas kapal!, apa kau mau di tinggal!, bukan kah kamu yang paling semangat pada awalnya untuk melakukan penjelajahan ini?!"teriak paman Wage namun tetap saja sang Kapten tak merespin apa yang di katakan oleh nya.


"Sudahlah paman bahakan jika itu tanpa seorang Kapten atau tanpa awak kapal, kapal ini masih bisa bergerak"ujar Melody dan benar saja dalam satu kali  jentikan jari.


Jangkar kini terlah terangkat bahkan layar-layar kapal telah di turunkan dan sebuab peta yang lebih akut daj jelas dari pada milik kapten kini muncui di depan Melody.


Angin kini mulai berhembus sedikit demi sedikit, dan kapal mulai bergerak.


Namun sang Kapten masih saja setia berdiri di sana, sedangkan para awak kapal kini dalan delema harus ikut siapa apa sang Kapten yang telah lama bersama mereka atau Melody yang mereka hormati baru-baru ini.


Melody yang sadar bahwa semua orang sangat gelisah kini membuka suaranya.


"Aku tak perduli kalian mau ikut siapa, jika kalian ikut dengan ku tetap lah di atas kapal tapu jika tidak aku mempersilakan kalian turun  di sini"ucapnya tenang seketika seluruh lautan membeku membuat kapal itu sama sekali tak bergerak.


"Jadi pilihlah, kalau sampai 20 menit kalian tak memilih juga maka aku anggap kalian akan ikut dengan ku ke Utara"ujar Melody sebelum duduk di sebuah kuris di sana meninggalkan para awak kapal yang kebingungan.


Bebarapa awak kapal telah memutuskan dan turun dari kapal tersebut, Melody hanya melihat hal itu dengan wajah datar lagi pula dia tak butuh hal itu lagi.


"Kenapa!?, kenapa kamu tadi membantu mereka hah!?"teriak sang Kapten dari bawah sana.


Melody tak menatap kearah nya dan hanya menjawab.


"Karena itu tanggyng jawab ku"ujar Melody.


"Kalian tau para bandit yang aku bunuh di atas lautan itu ternyata mereka bukan bandit tapi para Pendekar yang sedang berjaga"ujar Melody sedikit melirik ke arah Kapten.


"Apa?!"kaget Kapten tak tau harus apa dia sama sekali tak mengira seperti itu jawaban dari Melody.

__ADS_1


__ADS_2