Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 47


__ADS_3

Menerjang ke arah monster itu kini jarak keduanya semakin dekat satu sama lain.


Mengarahkan pedang nya ke arah leher sang monster Melody tau apa yang harus di lakukan untuk memotong lehernya sambil menghindar cakar nya yang hendak mencabik-cabik tubuhnya itu.


Sehingga saat ujung pedangnya menyentuh leher sang monster dia memberi kekuatan pada kaki dan pedangnya sehingga dia langsung bisa menggindar ke samping saat menebas leher monster tersebut.


Darah monster itu seperti bunga yang berhamburan saat darah tersebut memuncrat dari leher monster yang kini telah terbang di udara dan menggelinding di tanah, warna mata Melody secara tak sadar kini menyala lebih jelas namun seketika itu redup lagi saat Melody sudah mematikan pedangnnya.


Tampaknya darah monster barusan meninggalkan darah di pipi Melody sehingga dia kini mengelapnya, tanpa sadar dirinya kini memasang wajah jijik, mencium bau nya saja membuat Melody merasa jijik, dia baru sadar bahaa bau darah monster begitu menjijikan padahal kemarin dan tadi dia sama sekali tak merasa jijik.


Memikirkan hal itu dia baru sadar soal tubuhnya yabg kini penuh akan darah, rasanya setelah ini dia ingin mandi sana lagi pula sepertinya gelombang monster selanjutnya masih akan lama.


Berdasarkan hal yang telah di selidiki dan di laporkan oleh Delice ke pada nya dia tau bahwa burung-burung itu akan dataang setelah 2 jam gelombang monster tapi jika dalam 2 jam burung-burung itu tidak datang lagi maka itu artinya gelombang monster akan terjadi 3 atau 2 jam lebih cepat jadi kita harus bersantao dulu bukan.


"Hoam~"rasa kantuk kini menyerang Melody dia sadar bahwa dirinya belum tidur dari tadi rasanya tubuhnya sangat lelah sekarang, energi nya juga terkuras sepertinya mana di tubuhnya tinggal 10% pantas saja dia sangat lelah dan juga sangat lemah.


"Yang Mulia!"


Teriakan khawatir kini terdengar membuat Melody menoleh ke arah sumber suara itu berasal.


Di sana dia melihat bahwa semua pasukannya sedang berlari kearah dengan wajah khawatir dia merasa terharu hingga rasanya dia ingin menumpahkan air mata, namun saat melohat tubuh mereka yang penuh darah rasanya Melody ingin mual, si4l!, ini terjadi lagi, dia belum terbiasa rupanya dengan bau darah yang amat banyak.


Tapi kenapa rasa mual ini tidak selalu datang ada kala nya rasa mual akibat membunuh dan darah itu tidak membuatnya mual, sebenarnya ada apa dengan tubuhnya ini.


Saat jarak mereka semua hampir dekat dengan wajah penuh rasa jijik Melody berteriak dan berkari menghindari mereka.

__ADS_1


"Si4l!, jangan mendekat!!"teriknya dia sungguh tak ingin mereka mendekat darah dan bau yang menempel pada mereka sangat menganggu dan menjijikan.


Namun siapa sangka mereka semua masih saja mengejar Tuan mereka walaupun teriakan Tuan mereka kini bergema menyuruh mereka berhenti.


Melody yang di kejar oleh mereka semua merasa seperti di kejar orang satu kampung akibat nyolong ayam.


'Argh!!, kenapa jadi seperti ini!?, aku bukan pencuri ayam atau semacam nya kan?'teriak batin nya frustasi.


"Yang Mulia berhenti!"


"Yang Mulia itu berbahaya jadi ayo berhenti"


"Yang Mulia jangan berlari lagi"


Banyak teriakan dari mereka yang menyuruhnya berhenti tapi Melody sama sekali tak akan benhenti sebelum mereka semua berhenti mengejarnya.


"Eh_?"


Melody yang masih berkari terkejut dengan apa yang di lihatnya, dalam hati dia bertanya apa gelombang monster telah datang lagi?.


Karena penasaran akhurnya dia mencoba untuk melojat kedepan namun sebelum dia bisa benar melihat kini dia menabrak sesuatu benda keras di depan nya.


Brukk!.


"Ouck!"

__ADS_1


Karena benturan nya yang keras akhirnya dia terjatuh Melody cukup linglung akan hal itu namun secara reflek tetap saja kepalanya mengadah ke atas.


Betapa terkejutnya melihat wajah tampan seorang pria yang kini juga menatapnya pria itu sangat tampan dan juga aura sugar daddy ada pada nya, rasanya Melody kini terpesona akan dirinya, namun rambut emas nya yang bersinar membuat Melody sadar, dia ingat siapa itu itu adalah kakak keduanya atau bisa di sebuat pangeran kedua Rexid Van BlueMoon.


"Hormat kenapa cahaya Kekaisaran BlueMoon, kami menyambut Pangeran ke 2 Rexid Van BlueMoon!"teriak semua prajurit dan kesatria bersamaan sambil membungkuk memberi hormat.


"Betapa kotornya"ucap pria itu sangat frustasi melihat tubuh Melody yang sangat kotor, dia nampak seperti seorang ayah yang frustasi karena anaknya sangat nakal.


Melody yang mendengar kalimat itu keluar dari bibir kakak nya itu sangat kesal namun senyum tabah kini terukir di bibirnya tak baik menghajar orang yang lebih tua kan?, apa lagi dia kakak nya.


"Anak nakal"ucap Rexid lagi sambil mengangkat Melody dengan cara menentengnya seperti seekor kucing, untungnya baju yang di pakai Melody begitu kuat sehingga itu tak robek.


Tapi Melody yang di perlakukan seperti itu benar-benar marah, kini dia berfikir seperti nya tak akan terlambat baginya untuk memukul kakak nya itu, persetan dengan setatus lebih tua atau kakak nya itu, sepertinya dia akan lega kalau sudah setidaknya memukul belakang kepalanya dengan kekuatan penuh.


"Turunkan aku!"teriak Melody galak dia tak suka di tenteng seperti plastik keresek!, dia bahkan kini memberontak tapi anehnya kemana tenanga Melody yang bahkan bisa menghancurkan ribuan monster itu, yang bahkan bisa mengalahkan semua konster tersebut sendiri, itu seperti hilang secara tiba-tiba.


Rasanya Melody ingin marah sekarang kenapa itu muncul saat hal yang begitu memalulam terjadi!!, ok sekarang Melody sangat frustasi, namun dia semakin yakin bahwa ada yang salah dengan tubuhnya saat ini.


"Percuma jika kamu melawan dik, itu tak akan berhasil"ucap Rezid tenang.


"Huaa!, tidak mau ikut!"akhirnya dengan pasrah Melody Benar-benar memberontak dengan begitu keras seperti anak kecil itu sangat bar-bar.


"Selalu seperti ini kekanak-kanakan"ucap Rexid dengan wajah lurus yang seperti mengatakan 'aku tau ini yang akan terjadi', melihat ekpresinya itu membuat Melody yang kesal tambah kesal.


Melihat ke belakanh di mana semua kesatria dan prajurit masih membungkuk dia berharap bahwa mereka akan membantunya namun apa daya jangan kan membantu menegangkkan kepala saja mereka tak melakukan nya.

__ADS_1


Ok Melody tak masalah lagi pula apa yang bisa di harapkan dari setumpuk manusia itu, tapi setidaknya tolong lah, bahkan kini Melody melijat mereka semua dengan tajam, biar dia tandai siapa saja yang terlibat dan tak menolongnya hari ini lihatlah nanti dia balas dendam.


Sedangkan semua kesatria dan prajurit yang di pandang Melody memiliki punggung yang dingin seakan ancaman besar datang kepada mereka, selain itu mereka juga memiliki firasat buruk bahwa hal akan lebih sukit kedepan nya.


__ADS_2