Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 104 Mulai (3) Delice kembali membuka mata


__ADS_3

Melody yang sudah terlebih dahulu sampai di tempat latihannya, kini duduk di lantai sambil menggambar hal-hal aneh di lantai dengan debu yang entah sajak kapan bisa ada di sana.


Padahal jelas sekali ruangan tersebut selalu di bersihkan walaupun Melody sendiri jarang menggunakannya, para Pelayan selalu membersihkannya atas printah Diana karena Diana takut jika Melody yang tiba-tiba ingin berlatih harus tertunda waktunya akibat harus membersihkan terlebih dahulu ruangannya.


Jadi bisa di pastikan bahwa ruangan itu bebas dari debu dan jika kalian bertanya-tanya dari mana debu-debu itu berasal jawabannya cukup mudah.


Itu semuanya karena Melody yang dalam perjalanan ke tempat latihannya tiba-tiba melihat sebuah temoat di Mension nya yang sepertinya tak terurus dan memiliki banyak debu.


Melody yang melamun tiba-tiba mendapatkan ide untuk mencuri debu di sana dan mengangkutnya dengan tangan dan seperti ini lah yang terjadi.


Tak lama pintu ruangan latihan terbuka memperlihatkan Diana serta yang lainnya di depan pintu.


Mereka sama sekali belum masuk dan masih menunggu agar Melody mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam.


Namun Melody yang tak menyadari kedatangan mereka masih saja fokus kearah gambar-gambar di atas debu.


Sudah beberapa menit mereka menunggu tapi masih saja belum ada tanda-tanda Melody akan sadar.


Hingga Sir Gio yang merupakan pemarah kini nampak kesal dengan perempatan di keningnya dia sama sekalu sudah tak sabar, seandainya saja di sampingnya tak ada Pangeran ke 2 Rexid maka sudah di pastikan Sir Gio sudah mengumpat dengan keras.


Rexid dan yang lainnya yang melihat bahwa Sir Gio sudah tak tahan dan bisa di pastikan kapan saja dia akan meledak kini memutuskan untuk menyadarkan Melody akan kehadiran mereka.


"Ehem!, ehem!"


Suara tersebut membuat Melody tersentak dan segara saja melihat kebelakang betapa terkejutnya dia saat melihat bahwa semuanya sudah ada di sana


"Ah, maafkan aku, aku terlalu fokus akan sesuatu sehingga sama sekali tak melihat kalian"ujar Melody sambil berdiri secara tergesa-gesa bahkan kini kakinya juga dia gunakan untuk menghapus gambar yang dia biat di atas lantai.


Sir Galib yang tanpa sengaja melihat gambar yang di gambar oleh Melody kini mengerutkan keningnnya dalam hati dia berkata 'yang dia lihat barusan apakah sungguhan?!'.


"Tidak apa Yang Mulia, kami belum lama sampai di sini"bohong Diana sambil tersenyum


Sir Gio yang tau bahwa Diana berbohong kini cukup kesal dirinya bahkan kini mulai merajuk dan mengumpat dengan lirih.

__ADS_1


Dari reaksi Sir Gio Melody bisa langsung tau kalau misalnya Diana berbohong kepadanya, namun Melody hanya tersenyum pura-pura tak menyadari hal tersebut.


"Baiklah ayo masuk, kita mulai saja sekarang"ujar Melody sambil berjalan ke tengah ruangan itu.


"Sekarang baringkan Delice di tengah-tengah ruangan, dan kalian mundurlah"perintah Melody.


Sir Galon dan Sir Galib lah yang bertugas membaringkan Delice, sedangkan yang lainnya sudah menuju tepi ruangan tersebut memperhatikan Melody dari kejauhan.


Setalah selesai Sir Galib, dan Sir Galon pun segera minggir.


Setalah semuanya minghir secara tiba-tiba saja dan dengan beraninya Melody memotong tangannya, darah segara saja menetes dari tangannya tersebut.


Tentu saja hal tersebut membuat semua orang yang Da di sana sangat terkejut bahkan Rexid dan Diana berteriak dan secara feflek ingin berlari kearah Melody


"Melody!!"teriak sang kakak khawatir


"Yang Mulia!"teriak Diana bersamaan dengan Rexid.


"Tenanglah Nona"ujar Sir Galon


"Tenanglah Yang Mulia Duchess pasti baik-baik saja"Ucap Sir Galib sambil menahan tangan Rexid dengan sekiat tenaga tentu saja Rexid bukan hal yang bisa dengan mudah dia hentikan, sehingga Sir Gio terpasa harus membantunya menahan segara kekuatan abromal dari Pangeran Kekaisaran Ke-2 itu.


Kemudian Melofy menggambar sebuah pola sihir menggunakan darahnya setelah membentuk pola sihir.


Melody segera saja menyuntikan mananya kedalam pola tersebut dengan jumlah yang lumayan besar bagi banyak orang namun tidak bagi Melody.


Tak lama pola sihir tersebut menyela sebelum akhirnya kembali redup setelah itu tak ada hal istimewa sama sekali.


Sebelum Melody berjongkok di samping Delice yang masih saja menutup matanya sambil menahan kepalanya dengan kedua tangannya.


Hufttt~


Tiupan pelan dari bibir Melody kini menyapa mata Delice tapi jelas sekali itu bukan tiupan sembarangan karena dari tiupan itu terasa dengan jelas bahwa kekuatan magis yang terkandung di dalam nya sama sekali tak main-main.

__ADS_1


Setelah melakukan itu Melody tersenyum.


Berbarengan dengan senyumnya pola sihir tersebit menghilang, bahkan luka di tangan Melody juga sirna entah kemana.


"Diana, semuanya ayo kesini Delice sebentar lagi akan membuka matanya!"teriak Melody dengan senyum sambil berusaha memanggil mereka dengan melambaikan tangannya dia terlihat sangat ceria.


Semuanya yang mendengar hal tersebut segera saja berlari dan juga mulai mengerubuni Delice.


Benar saja tak lama mata Delice bergetar dan secara perlahan mata itu terbuka.


"Ugh!"


"Di mana ini?"hal pertama yang di tanyakan Delice adalah tempat di mana dia berada karena dia sejujurnya lumayan asing dengan rungan tersebut.


Padahal dia jelas sangat ingat dirinay saat itu baru saja berdiskusi dengan Pangeran Rexid dan yang lainnya tentang langkah selanjutnya kemudian dia kembali ke kamar namun dia juga ingat sebelum dia masuk ada seorang Pelayan yang memberikan minuman kepadanya dengan dalih bahwa Diana istrinya lah yang meminta Palayan itu memberikan dia minuman.


Tanpa curiga sedikitpun Delice kemudian meminum nya dan siapa sangka bahwa setelah itu dia merasakan kepalanya berdenyut sakit, dan semakin sakit saja perdetiknya hingga akhirnya dia jatuh pingsan di tempat.


"Ah!, bagaimana dengan perangnya"ujar Delice tiba-tiba dengan panik.


Sir Gio yang jengah kini menoyor kepala Delice dengan keras membuat Delice kini menatap sekeliling dengan seksama baru dia sadari bahwa di sana semua orang yang dia kenal tengah mengerubunginya.


"Perang apaan?!, perangnya sudah selesai kemarin!, semuanya selamat walaupun banyak yang mati"ujar Sir Gio.


"Diana?, Yang Mulia Duchess"kalimat itu lah yang di keluarkan oleh Delice dia bahkan tak memperdulikan kalimat Sir Gio sama sekali.


Segera saja Delice memeluk Diana dan mencium puncak kepalanya sebelum dirinya memeluk Melody dengan erat, kini mereka bertiga saling berpelukan layaknya sebuah keluarga cemara.


"Yang Mulia!"air mata sama sekali tak bisa dia tahan dan kimi tumpah.


Sir Gio yang di abaikan kini kesal dan mencak-mencak dirinya bahkan siap untuk memukul Sir Delice jika saja dirinya sama sekali tak di tahan oleh Sir Galon.


"Si4lan!, beraninya kamu mengabaikan ku?!, br3ngsek!"teriak nya namun sama sekali tak di perdulikan.

__ADS_1


__ADS_2