
Gundukan warna putih yang dingin kini terlihat dari kejauhan.
Suhu di sekitar kini mendingin yang membuat awak kapal, Kapten, serta paman Wage langsung saja membungjus diri mereka dengan sarung yang entah berapa jumlahnya.
Melody sendiri baju merah sebagai lambang Kaisar semenataranya secara ajaib kini berubah menjadi baju musim dingin.
"Akhirnya aku sampai di kutub utara"gumam Melody melihat jauh ke sana di mana dia bisa melihat hamparan salju dengan gunung yang tinggi-tinggi.
Semakin mereka berlayar semakin mereka sulit bergerak hingga akhirnya bagian kapal kini berhenti tepat di depan lautan yang membeku.
Tak!.
Goncangan kini terjadi membuat Melody lumayan goyah.
Tentu saja gocangan hebat itu membuat Melody melebatkan matanya, apa lagi saat dirinya langsung di sambut dengan umpatan keras Kapten yang kini sudah mau menjadi Kapten untuk kapal itu lagi.
"Si4l!!, bagiamana aku bisa maju kalau es ada di mana-mana!!!!?"umpatnya kesal sambil mencak-mencak ala khas nya.
Pamam Wage sendiri hanya bisa memasang wajah datar di sama sekali tak terganggu dengan umpatab Kapten dia kini malah sibuk mencari sarung tambahan untuk dirinya sambil menggerutu dalam hati.
Bahwa dia seharusnya membawa baju yang tebal!.
Menghela nafas Melody akhirnya mendekati Kapten.
"Kapten sudah jangan di paks dari sini biar aku sendiri saja, aku akan baik-baik saja kalian pulang lah dulu"ujar Melody.
"Benarkah_?"ucap Kapten melihat ke arah Melody.
Melody yang mendapat pandangan itu hanya mengangguk saja.
Sedangkan paman Wage yang mendengar itu langsung tersentak dan lati terbirit-birit kearah Melody.
"Apa!!!, kamu mau pergi sendirian dan kamu menyuruh kami juga pergi!!!, lalu bagaimana dengan janjimu yang mengatakan akan menemui teman ku itu hah!"teriak paman Wage yang kini mengguncang tubuh Melody.
Melody hanya berekspresi datar dia lupa akan hal itu namun entah kenapa firasatnya kali ini mengatakan kalau dirinya mungkin tak memiliki kesempatan untuk bertemu teman paman Wage dia bahkan tak yakin bisa bertemu paman Wage lagi.
__ADS_1
"Maaf paman, tapi aku janji saat aku sudah selesai di sini aku akan mencari paman"ujar Melody sambil memberikan sesuatu gelang berbentuk sayap ke paman Wage dan memakaikan nya.
"Hey, apa gunanya ini kau kira aku wanita harus pakai gelang!"kesal paman Wage.
Melody hanya bisa diam menerima semburan dari paman Wage.
"Bukan, itu gelang janji, artinya jika aku tak menepati janjiku maka aku akan tersambar petir sebanyak 1000 kali"ujar Melody sambil menujukan gelang yang sama yang kini juga di pakainya.
"Gelang janji?, ki rasa itu cukup hebat, yah baiklah terserah kau saja tapi ingin janjimu kalau tak mau tersambar petir"ujar paman Wage menyeringai sambil menujukan gelangnya.
Melody hanya tersenyum dan mengangguk.
Kini kapal Kapten sudah berbalik arah dan tinggal Melody seorang yang ada di sini.
Dalam sekejap mata kini sosoknya menggilang dan muncul di tengah-tengah kutub utara.
"Aku yakin itu ada di sini"ujar nya sambil melihat ke kiri dan kanan berharap bisa menemukan pintu atau sekedar petunjuk.
Secara tiba-tiba tubuhnya kini bercahaya.
Dalam sekejap mata pandangan nya berubah yang tadinya hamparan salju kini sudah berganti dengan pemandangan buku, atau lebih tepatnya perpustakaan dengan banyaknya buku yang bahkan tak mampu Melody hitung.
"Di_, dimana ini?"tanya nya bingung sebelum sebuah suara terdengar.
[Selamat datang di 'Perpustakaan Antar Dimensi' kami harap anda menikmatinya]
Sebuah suara yang jernih kini terdengar membuat Melody mencari-cati mana sumber suaranya.
[Jangan mancariku karena aku ada di depan mu]
Ucap suara itu tanpa tau wujudnya pun Melody tau bahwa sosok tersebut kini tersenyum.
Tentu saja mendengar suara tersebut Melody juga menatap depan nya dengan tatapan bingung pasalnya di depannya sama sekali tak ada apa pun.
[Aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi itu percuma jika kamu mencari sosok di depan mu karena aku adalah perpustakaan di mana saat ini kamu berada]
__ADS_1
Ujar suara yang jernih itu terdengar lagi, kalimat itu membuat Melody tersentak kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.
[Jangan kaget bukankah hal yang selama ini kamu lalui yang harusnya membuatmu terkejut?]tanya siara tersebut.
Melody yang mendengar hal itu segera saja menjadi sangat waspada.
"Siapa kamu!"tanya nya sambil melihat sekliling jika suara itu adalah perpustakaan maka dia saat ini ada di perut musuh bukan?.
[Tak usah kaget seperti apa yang aku bilang ini adalah 'Perpustakaan Antar Dimensi' semua hal di semua Dimensi yang ada tercatat di sini bahkan jika itu kehidupan paling tidak berguna dan tersingkat yang pernah ada] ujar suara tersebut membuat Melody lega.
"Jadi apa kah di sini aku bisa menemukan buku sihir itu?"tanya Melody.
[Buku kono itu ya?, kamu hanya perlu lurus, aku tak perlu memberikan cobaan terhadapmu karena bagaimana pun pula tubuhmu berdarah BlueMoon] ucap suara itu lagi tau bahwa dia bukan jiwa yang asli.
Namun Melody hanya diam saja dan berjalan mengambil apa yang seharusnya dia ambil, untuk masalah identitasnya dia tak usah tanya atau kaget dia bilang bahwa semua kehidupan di Dimensi yang ada tercatat di sini jadi tak menutup kemungkin bahwa mungkin saja cerita hidupnya juga ada di dalam sini.
Tiba-tiba saja sebuah pemikiran melintas di pikiran nya.
"Hey, Perpustakaan kamu bilang semua yang ada di seluruh Dimensi ada di sini bukan?"tanya Melody
[Iya tentu saja] ucap suara itu lagi tenang.
"Apa itu juga termasuk pengetahuan?"tanya Melody dengan senyum licik nya.
[Itu tentu saja, bahkan waktu di sini dan dimensimu cukup berjarak jauh satu hari di sana sama saja dengan 1 miliar tahun di sini] ucap suara tersebut cerah.
Melody yakin bahwa suara itu sangat senang.
"Benarkah?, kalau begitu apa kah aku bisa membaca apa pun yang ada di dalam sini?"tanya Melody lagi senyum liciknya kini makin lebar.
[Tentu saja boleh, tapi mungkin kamu tak bisa menepati janjimu, maka dari itu kamu harus bersiap di sambar petir] ucap suara tersebut.
"Tak apa asalkan aku bisa membawa banyak pengetahuan dari sini 1000 sambaran petir bisa ku tanggung, lagi pula jika tak bisa bertemu paman Wage setidaknya mungkin saja aku akan bertemu keturunannya"ujar Melody dengan senyum dan mulai mendekat ke sebuah rak buku dan membaca hal-hal di dalam nya.
Namun tentu saja dirinya tak bermaksud untuk menbaca semua yang ada di sini jika dia melakukan nya itu sama saja dengan menyuruhnya untuk tak kembali pasalnya ruangan ini tak ada habisnya Melody bahkan tak tau berapa banyak waktu yang di butuhkan untuk membaca banyak buku tersebut hingga selesai semuanya.
__ADS_1