
Dia sadar bahwa hal ini terjadi karena ibunya, seandainya ibunya mau bersabar ayah mereka tak akan mati dan dia tak akan jadi seperti ini
________________
Namun apa daya hal yang sudah berlalu tak bisa di ulang kembali.
♤♤♤♤♤♤
Kini rombongan Melody sudah berjalan setidaknya sekitar seminggu dan berkat kerja keras serta kekerasan kepala mereka semua, bisa di pastikan bahwa hari ini adalah jadwal nya mereka sampai di wilayah Utara.
Yang yang di khawatirkan oleh Delice tak menjadi kenyataan Count Kriston tak mengganggu mereka sama sekali beliau justru mengirim Pengawal serta Kesatria untuk membantu mereka melewati tempat berbahaya di daerahnya.
"Yang Mulia Duchess, sepertinya hanya sampai sini kami dapat mengantar anda"ucap seorang Kesatria dari pihak Count sambil membungkuk ke arah Melody yang masih di atas kuda.
"Baiklah hati-hati di jalan"ucap Melody.
"Baik Yang Mulia, semoga Yang Mulia juga selamat sampai tujuan, tinggal melewati beberapa kota lagi Yang Mulia akan sampai di Utara, berhati-hatilah Yang Mulia"ucap Kesatria itu sebelum berbalik sesudah memberi hormat.
Kini Devian mendekat bersama dangan kudanya ke arah Melody.
"Yang Mulia, apa anda ingin beristirahat dulu?"tanya Devian sambil menatap Melody.
"Berapa lama lagi kita akan sampai di sana"tanya Melody, alih-alih menjawab.
"Ah!, itu akan sampai satu hari lagi jika kita beristirahat namun jika tidak mungkin kita bisa sampai saat pagi nanti"jawab Devian sambil berfikir memperkirakan waktu yang di perlukan untuk sampai di wilayah Utara.
"Kalau begitu lanjut saja, aku tak mau istirahat, semakin cepat sampai akan semakin baik"ucap Melody saat sudah mempertimbangkan nya.
"Baik Yang Mulia"ucap Devian yang membungkuk dan segera pergi untuk mengintruksi kan kepada para pangawal.
"Arghhh!!!!!"
__ADS_1
Sebuah teriakan nyaring dari dalam hutan yang membuat semua orang yang di sana terkejut, oleh teriakan tersebut, rupanya teriakan itu juga membuat burung-burung di dalam hutan berterbangan ke atas langit.
"Hiyaa!!"Melody yang mendengar terikan itu segera memancu kudanya menuju suara tersebut, terikan para Pengawal serta Kesatria yang mengikutinya sama sekali tak dia hiraukan.
"Yang Mulia!!!"
"Yang Mulia!!!"
Sedangkan Delice serta Devian segera memancu kuda mereka berdua menyusul ke arah di mana Melody bergerak.
Dari jauh mereka berdua bisa melihat kuda milik Melody yang sudah di ikat kepada pohon di sekitar sana, melihat itu mereka segera memancu kuda mereka lebih cepat, mereka takut bahwa hal buruk telah terjadi di sana.
Sampainya di sana mereka bisa melihat Melody yang sedang berjongkok di depan mayat seseorang, mereka juga melihat bahwa Melody menutup mata mayat tersebut yang melotot.
"Yang Mulia"panggil Delice.
"Kalian di sini"ucap Melody sambil berdiri dari sana, pedang yang tadinya sudah keluar dari sarungnya juga kini dia masuk kan kembali ke dalam sarung pedang.
Sosok nya yang cantik kini mempesona, angin meniup rambutnya yang panjang, kini menari dengan indah di bawah sinar matahari yang menyelinap dari sela-sela pohon, sekali lagi itu lukisan yang indah namun lagi-lagi mayat di depan nya membuat kedua orang yang memperhatikannya sambil terpesona kini tersadar.
"Apa yang terjadi Yang Mulia?"tanya Delice.
"Ada pembunuhan"jawab Melody enteng.
"Ah, biarkan saya yang memeriksanya Yang Mulia"ucap Devian yang langsung saja mendekat ke arah mayat tersebut dan berjongkok di sampingnnya.
Pria itu mati dengan cukup mengenaskan, banyak luka sayatan di tubuhnya, sepertinya itu adalah jenis penyiksaan, selain itu sekujur tubuh mayat itu juga di penuhi oleh luka tusukan, matanya tadi terbuka kalau begitu mungkin saja dia mati akibat penyiksaan?.
Selain itu bibirnya sudah membiru, di tambah kuku-kuku tangannya juga kini menjadi hitam, dan ada darah hitam yang keluar dari mulutnya yang berrbau tak sedap, apa ini seperti racun?.
"Ini sangat mengerikan"ucap Devian.
__ADS_1
"Delice pergi panggil penguasa setempat"ucap Melody.
"Baik Yang Mulia"ucap Delice sambil membungkuk dan segera pergi dari sana menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh.
Seperginya Delice kini Melody berjongkok di sambing Devian ikut mengamati mayat di depan nya, jujur saja dia akan mendapat pengalaman baru saat mendengarkan ocehan Devian tentang akibat kematinan orang di depan nya ini.
"Hemm, dia baru mati tiga menit yang lalu artinya itu bertepatan dengan kedatangan Yang Mulia ke sini, Yang Mulia apa anda melihat pembunuhnya?"tanya Devian sambil menatap ke arah Melody sesudah memeriksa waktu kematian mayat di depan nya itu.
Mendengar itu Melody tersendak karena dirinya sedang fokus untuk mencatat apa yang di katakan oleh Devian, ternyata Devian cukup berguna juga dia seperti ahli forensik.
"Ah!, aku tadi melihatnya dia memakai pakaian serba hitam dengan masker, dia sepertinya pembunuh karena dia sangat cepat, senjatanya adalah belati, sepertinya dia pembunuh bayaran"jawab Melody serius menjelaskan.
"Begitu ya, sepertinya dia memiliki banyak musuh"ucap Devian.
"Apa kamu menemukan petunjuk lain?"tanya Melody serius, sambil meletakan tangan nya di bahu Devian.
"Tidak, tapi mungkin jika kita melakukan investigasi lebih lanjut kita akan menemukan beberapa petunjuk lain, namun sayangnnya saat ini, kita harus segera pergi ke Utara"jawab Devian sambil menatap Melody yang kini berada di samping nya.
"Benar, jadi mari kita serahkan saja kasus ini ke pejabat setempat"ucap Melody.
Setelah mengatakan itu Melody segera pergi ke sebuah batu besar disana dan bersandar dengan santai sambil memperhatikan Devian yang mengelilingi daerah sekitar, mungkin mencari petunjuk.
Dia bisa melihat bahwa ada beberapa benda?, yang di yakini sebagai barang bukti yang kini di masukan ke dalam tempat khusus yang di buat dengan sihir oleh Devian.
"Jejak ini.... entah kenapa aku familiar dengan cara pembunuhan nya"gumam Devian pelan yang masih bisa di dengar oleh Melody.
Melody yang mendengar itu sedikit mengerutkan keningnya saat yang dia lihat hanyalah sebuah jejak kaki, dia sama sekali tak ada minat.
Berbagai asumsi serta analisis masuk ke dalam otak Devian, bukti-bukti yang dia temukan seperti potongan pazzel yang menyatu secara cepat.
"Jangan-jangan..."ucap Devian cepat, dia tersentak sebelum bisa mengucapkan kalimat selanjutnya yang mungkin saja saat ini Devian sudah tau siapa pembunuhnya.
__ADS_1
Rupanya kalimat yang terpotong itu jauh lebih bikin penasaran dari pada jejak kaki atau pun siapa pembunuh sebenarnya, lihat saja Melody sudah ada di samping Devian sambil menatap nya dangan tatapan penuh harap.