Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 48


__ADS_3

Kini Melody berada di dalam tenda nya dengan sang kakak Rexid.


Kakak itu kini sedang mengomel dengan cerewet tentang hal-hal yang menurutnya tak penting, rasanya Melody muak sskali, Melody merasa dongkol saat ini, terkadang di juga meledek kakak nya itu dengan cara memberikan jari tengah atau mengumpat hal kasar saat kakak nya tak melihat kearah dirinya.


"Kau tau itu bahaya kan?, bagaimana mungkin kamu begitu ceroboh untuk melawan begitu banyak monster sendirian!, apa kamu tak tau yang namanya keselamatan, dan memberikan tugas mu kepada bawahan mu!, kamu kira apa guna mereka sebagai bawahan mu!"marah Rexid dengan tangan di depan dadanya memandang  Melody dengan datar.


Rasanya saat ini Melody ingin menyumpal mulut kakaknya itu agar diam tapi sayang dia tidak berani.


"Dan lihat apa yang ada di lehermu itu!"ujar Rexid sambil menunjuk leher Melody yang kini tersayat dan mengekurkan darah.


Secara tak sadar juga Melody mengulurkan tangan nya dan menyentuh luka itu, itu perih dia bahkan tak tau kapan ada luka di sana, itu juga berdarah.


Melihat bahwa Melody menyentuh lukanya sendiri dengan wajah datar dan wajahnya tetap datar seakan tak perduku dengan lukanya meski sudah melihat darah di tangannya membuat Rexid naik pitam.


"Akh!, apa yang kau lakukan!, anak nakal akan selalu menjadi anak nakal!, bagaimana mungkin kamu tak perduli dengan tubub mu sendiri, kamu itu perempuan!, dengan tidak!?"ucap Rexid marah sambil membuka laci di mana kotak P3K berada.


Melody yang mendengar itu hanya memutar bola matanya jengah, ayolah lagi pula luka ini kecil dan lagi dia bahkan pernah terluka lebih dari ini.


"Kemari biar aku obati luka mu"ucap Rexid membuka kotak P3K dan mulai mengeluarkan obat-obatan dan kapas.


Melody sendiri tak mencoba untuk menolak dan membiarkan kakak nya itu mengobatinya, Melody merasakan sapuan lembut di leher nya itu sangat lembut seakan-akan orang yang memberikan sapuan lembut itu takut dirinya merasakan sakit, tapi walaupun itu lembut tetap saja Melody merasa perih, hanya saja ekspresi wajahnya sama sekali tak berubah, Melody berfikir bahwa luka itu tak layak membuatnya kesakitan.


"Jika kau memiliki luka lagi aku benar-benar akan membuatmu menyesal!"teriak Rexid marah sambil membungkus leher adiknya dengan perban.


Yah Melody akui bahwa dia kakak nya baik tapi minus nya adalah dia sangat cerewet hingga membuat Melody muak, terkadang Melody berfikir kakak kerduanya ini memiliki sifat seperti apa, dia cukup penasaran.


Tanpa sadar kini dia menatap kakak nya dengan serius seakan-akan Melody melihat seluruh tubuh kakaknya itu, hal itu ternyata membuat kakak nya merasa risih dan melilitkan perban di mata Melody secara berlapis-lapis.

__ADS_1


Tapi hebatnya bukan nya berontak atau bagaimana Melody hanya diam membiarkan hal itu, menurutnya itu cukup menarik untuk berlatih kepekaan telingan dengan keadaan sekitar.


Setelah melilit mata adiknya itu Rexid terlihat puas dan menunggalkan tenda adik nya untuk keluar malihat markas.


Melody tau bahwa dia telah di tinggal, berbaring Melody berfikir akan baik baginya untuk mengumpul kan kembali tenangnya, sehingga dalam posisi berbating Melody mulai menyerap mana di sekitarnya dengan metode yang entah sejak kapan di ketahuinya itu, yah mungkin itu semakam ingatan Melody yang sebelumnya, dia bersyukur untuk hal itu karena dia tak perlu membaca dan belajar untuk mempelajari teknik penyerapan mana.


Matanya kini terpejam sepertinya dia terlancur tidur karena merasa lelah namun yang aneh entah kenapa tanpa ijin dari yang sekarang pemilik tubuh itu, kini terus saja menyerap mana hingga batas maksimum.


5 jam terbilang singkat untuk Melody merasa kembali merasa segar, dia bahkan bangun sambil menguap dan turun dari kasurnya sebelum keluar tenda tentu saja matanya masih tetap terlilit oleh perban hal itu tentu saja membuat para Prajurit merasa bingun akan hal itu terutama Delice yang baru saja akan ke tanda nya itu.


"Yang Mulia apa yang terjadi kepada anda?"tanya Delice dia khawatir akan suatu hal.


"Oh ada apa?, apa ada yang salah?"tanya Melody dengan polosnya.


"Mata anda apa terluka?"tanya Delice hati-hati.


"Lalu kenapa anda menutup mata anda dengan perban?"tanya kembali Delice.


"Oh ini kakak kedua yang melakukan nya"ucap Melody sekali lagi dengan jujur.


Rexid yang duduk sambil minum tak jauh dari sana tersedak saat mendengar adik bungsunya itu mengelurkan hal-hal tersebut.


"Pftt_, uhuk!_, uhuk!"


Dengan cepat kesatrianya pun menepuk-nepuk punggung tuan nya agar segera pulih, jika kalian bertanya kapan dia datang itu tak lama, dia kemarin bahkan marah-marah dan mengamuk di istana dan mengumpat kepada pangeran kedua karena telah menjnggalkan nya di istana Kekaisaran tanpa memberitahu atau mengajaknya pergi.


Dalam perjalanan dia sangat ingin untuk memukul tuan nya itu tapi saat sampai di sini ternyata dia langsung menjadi kesatria yang baik yang setia melayani tuan nya dengan cekatan.

__ADS_1


"Yang Mulia pangeran ke dua apa anda baik-baik saja?"tanya Kesatria itu bertanya dengan nada khawatir.


"Aku sudah tak apa"ucap Rexid yang kini sudah merasa lega.


"Tapi_"ucap Rexid yang kini berhenti dan segera di gantikan senyum iblis.


"Ya Yang Mulia?"tanya Kesatria nya bingung, namun itu sesaat saat dia melihat tuan nya tersenyum iblis sambil melihat Duchess Salvier dia merasakan firasat buruk, dia hanya berharap semoga Yang Mulia Duchess Salvier baik-baik saja.


Melody kini berjalan dengan kesusahan namun semakin lama dia memakai penutup mata semakin dia merasa bahwa indra pendengaran, indra perasa dan juga insting nya menajam dengan sangat dratis.


Kini dia bahkan susah tak perlu lagi berjalan sambil berpegangan pada tembok walaupun di masih kekusahan dan ragu-ragu dalam berjalan tapi ini cukup baik.


Kini adalah saat nya untuk merancang strategi lagi hanya saja kali ini dia tidak hanya berdua kini dia bersama dengan kakak keduanya, padahal dia tidak di ajak tapi dia menerobos masuk saja ke dalam tenda tanpa memberi salam dan segera duduk di salah satu kuris dengan kesatrianya di belakangnya, dia seperti seorang CEO yang sombong.


Untung saja saat ini Melody tak dapat melohat tingkah lakunya kalau saja Melody melihatnya mungkin saat ini dia sudah memasang muka julid nya.


"Jadi apa rencana kalian?"tanya Rexid memandang Delice dan Melody.


Menghela nafas Delice kemudian mulai menata bidak-bidak yang ada dia menggantikan Melody yang saat ini tak bisa melihat apa-apa karena perban di matanya.


Lagi-lagi bidak dengan simbol bunga menarik perhatian Rexid.


"Tunggu bidak apa itu?"tanya nya merasa tertarik.


"Ini bidak kesatria"jawab Delice.


"Kenapa bidak kesatria itu bunga?"tanya Rexid memgerutkan keningnya tak mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Saya juga tak tau Yang Mulia, hanya Duke sebelum nya yang tay makna juga"jawab Delice apa anda nya


__ADS_2