Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 99 Gerakan Pertama


__ADS_3

Kelima monster itu kini hanya bisa pasrah dan menutup mata mereka semua, namun dalam bebarapa waktu kemudian mereka sama sekali tak merasakan apa-apa jangan kan rasa sakit bahkan rasa sentuhan atau pun rasa angin dari pedang tak kunjung mereka rasakan.


Dengan memberanikan diri kini mereka membuka mata mereka sedikit di sana mereka bisa melihat Melody tersenyum mengerikan dengan pedang yang masih saja menggantung di udara mereka berfikir.


Apa yang sebenarnya sedang di lakukan oleh manusia itu?, kenapa dia sama sekali tak menebas mereka?, bahkan ada yang berfikir kalau Melody berubah pikiran mengampuni mereka dan menjadikan mereka bawahan?.


"Kenapa kalian tutup mata?, kan jadi tidak asik"ucap Melody dengan wajah yang mengerikan.


Pada saat itu mata kelimanya kini melebar dengan sangat besar kini mereka tau bahwa pikiran mereka salah nyatanya seseorang yang mereka ganggu adalah psikopat gila.


Namun terlambat bagi mereka untuk menyadari itu kini mata mereka tak bisa lagi terpejam lantaran Melody sudah mengaktifkan sihir nya.


Kini mereka bisa dengan jelas bisa mwlihat pedang terayun kearah mereka seakan-akan dunia menjadi


Melambat, detik per detik mereka bisa merakan waktu seakan berhitung di mata serta telinga mereka.


Detak jantung kini seperti berdetak seakan-akan ingin mendoprak dada mereka.


Class


Salah satu dari mereka kini kepalanya melepas dan darah darinya kini menciprat kemana-mana bahkan mengotori mereka yang masih hidup.


Clas


Splass


Class


Splas


Orang terakhir kini sudah pasrah dan bisa dengan jelas melihat kepalanya di penggal, sesudah di penggal kepalanya melayang namun matanya masih bisa melihat serta otaknya masih bisa memproses gambar dari sini dia benar-benar bisa melihat Melody yang tersenyum puas dengan indah tapi menurutnya senyum itu seperti senyum malaikat kematian.


Kini semuanya sudah tak berdaya Melody yang berdiri di depan mereka kini melihat pedangnnya yang berlumur darah bahkan tetesa darah mengalir dari pedangnya.


Melody mengerutkan Keningnya merasa terganggu akan hal itu sebelum mengelurkan sapu tangan dari saku nya dan mulai membersikan pedangnya dengan sapu tangan.


"Aku tau akan seperti ini"ucapnya dengan wajah datar pasalnya sapu tangannya tak mampu lagi untuk membersihkan jejak darah yang ada, sedangkan pedangnya sama sekali belum bersih Sepenuhnya.

__ADS_1


Membuang sapu tangannya Melody hanya menghela nafas saja.


"Huftt~, aku harus pulang ke rumah"ujarnya dan segara berbalik.


Namun dari arah belakang tiba-tiba ada seseorang yang memeluk dan mengangkatnya tentu saja Melody amat kaget akan hal itu.


Grep!.


Eh_?


"Sia_pa?"gumam nya terkejut namun tak lama dia juga membalas pelukan itu dia kenal dengan rambut emas itu dan pedangnya siapa lagi kalau bukan Rexid Van BlueMoon kakaknya yang super bocil itu.


Hanya dia yang akan membawa pedang dan rambut emas jelas sekali identitas sebagai anggota keluarga Kekaisaran seperti dirinya.


"Kamu lama sekali"eluh Rexid sambil memeluk erat Melody.


"Ugh!, maafkan aku kak, maaf aku lama di san banyak hal yang terjadi"ujar Melody merasa terbebani dengan pelukan Rexid yang lakik!.


"Huh!, menyebalkan kamu bahkan tak memberi tahu kakak saat akan pergi, kamu jahat sekali, hiks!"ucap Rexid tanpa melihat pun Melody tau kalau Rexid saat ini sedang cemberut.


Melody juga tau bahwa mungkin saja dia sedang menangis itu semua karena bajunya yang basah dari tadi di tambah suara tangisan yang keluar secara tak sengaja barusan.


"Siapa yang menangis!!!"bantah Rexid dengan keras sebelum mengertakan pelukannya dan mengubur wajahnya di leher Melody dengan semburan merah malu di wajahnya.


Melody hanya tersenyum tipis dia berfikir kalau kakaknya amat imut sekali.


"Baiklah kakak tak menangis hanya meneteskan air mata"ujar Melody dengan entengnya dia sama sekali tak menyerah meledek Rexid dengan keras.


"Itu sama saja dengan kamu mengatakan aku menangis!, aku sudah bilang aku tak menangia!, ya tidak!"bantah Rexid lebih keras lagi.


Hal tersebut mengundang tawa dari Melody bahkan kini tubuhnya gemetar menahan tawa yang akan keluar darinya.


"Pftttttttttt...."


"Jangan tertawa!"ujar Rexid melepas pelukannya dan menatap Melody yang menahan tawa dengan tak percaya.


"Baiklah, ugh! Aku tak tertawa pft_"ucap Melody namun jelas sekali dirinya masih berusaha untuk menahan senyum tersebut.

__ADS_1


Rexid yang melihat itu tak sanggup menahan kepalanya yang akan meledak akibat malu dan berbalik meninggalkan Melody dengan kesal, Melody yang melihat itu mau tak mau mengejarnya sambil berkata maaf di sepanjang jalan hingga akhirny mereka sampai di daerah aman.


"Kakak maafkan aku, lihat aku sudah tak tertawa lagi bukan?"ujar Melody.


Namun tetap saja Rexid tak berniat menatap kearah Melody dan hanya masuk ke dalam Mension Duchess tanpa menghiraukan semua orang.


Sir Gio, Sir Galib, serta Sir Galon hanya bisa menghela nafas padahal mereka ingat sekali kalau Pangeran Rexid lah yang paling bersemangat bertemu dengan Duchesa tapi sekarang malah dia yang ngambek.


Melody melihat kakaknya masuk ke dalam dengan dongol tentu saja tak mengejar dan malah masuk ke dalam ruang kerjanya meninggalkan kudanya kepada Sir Galib yang ada di sampingnya.


Sampai ruang kerja betapa terkejutnya dia melihat begitu banyak hal yang harus di kerjakan dan dengan sangat lesu dirinya berjalan ke kursi.


"Kenapa banyak sekali"


"Aku lelah"


"Bisa kan aku pensiun?"


Gerutunya sembari duduk di kuris dan mulai membaca dokumen paling dekat dengan nya itu semua berisi tentang dokumen perkiraan kerusakan yang terjadi Melody hanya langsung membalikannya dan membaca bab terakhir di mana di sana tercantum angka kerugian yang di dapat.


Dan mata Melody segara melebar saat dirinya melihat angka yang tidak wajah.


"Apa-apaan angka ini!!!, apa mereka ingin membunuhku!!!?"teriak frustasi yang mengguncang Mension kini terdengar.


Semua orang yang mendengar itu hanya bisa menutup teling mereka namun mereka semua hanya bisa tersenyum maklum untuk hal itu sudah biasa bagi merek untuk mendengar teriakan frustasi dari ruangan Duchess, dan mereka tau bahwa hari-hari mereka selanjutnya akan di isi oleh teriakan serta tangisan Duchess yang mengerjakan dokumen.


Namun tetap saja dengan tangisan yang mengalir Melody tetap mengerjakan tugasnya hal pertama yang dia lakukan adalah mengirim surat kepada Sir Galon untuk memeriksa bangunan yang ada melihat seberapa parah keruskannya serta melaporkan kepadanya.


Sir Galon yang mendapat surat dari merpati tau bahwa itu printah Duchess langsung membawa pasukan dan pergi ke luar daerah aman.


Tugas mereka adalah melihat kondisi, situasi, serta melakukan pembersihan jika masih ad monster yang tinggal di kota.


Pasukan kini bergerak keluar dan Melody bisa menyaksikan dari atas.


"Kita tinggalkan dulu hal yang ada di sini (dokumen), dan pergi untuk menyembuhkan Delice itu adalah misi pertama"ujarnya dan segara keluar dari runganya dengan cara mendoprak pintu dengan kasar.


Brakkk!

__ADS_1


Hal tersebut tentu saja membuat para pekerja yang ada terkejut dengan apa yang terjadi namun Melody sama sekali tak menghiraukan mereka dan berjalan ke kamar Delice dengan wajah yang sangat serius dan bersemangat.


__ADS_2