
Melody bahkan semua orang yang ada di sana sangat menyimak dengan seksama hal yang di katakan oleh Devian.
"Hmm yang kamu katakan masuk akal tapi apa ada bukti?"tanya Melody.
Devian yang mendengar hal kini tersenyum.
Rasanya dia ingin memuji Duchessnya yang sangat hebat tersebut, pasalnya dari tadi reaksi yang di tunjukan Duchess terlihat sangat natural sekali.
Dia bahkan sampai tak percaya kalau Duchess sudah membaca puluhan kali berkas-berkas yang ada dan bagaimana dia tau hal tersebut terjadi karena dirinya membantu Duchess mengerjakan dokumen yang ada jadi dia bisa mengetahui semua hal yang di lakukan oleh Duchess.
Bahkan kebiasaanya yang akan tertidur sambil duduk pun dia akan tau dengan sangat jelas.
Sedangkan Melody sendiri sebenarnya tak cukup tau hal-hal apa saja, dia memang membaca dokuken tapi dia hanya membaca hal yang di kira penting saja.
Yah walaupun hal tersebut sudah cukup baginya untuk mengambil kesimpulan yang cukup banyak, setidaknya kesimpulan itu cukup membuatnya dirinya memahami semua situasi yang ada jika dia memutar otaknya.
"Tentu saja Yang Mulia kita memiliki semua bukti tersebut"ujar Devian dan segera menyerahkan bukti-bukti yang ada kearah Melody.
Melody yang menerima itu tentu saja membaca dokumen yang ada dengan sennag hati tak rugi juga baginya.
"Seperti yang tercantum di bahwa pada saat pemberontakan terjadi Count saat itu jelas-jelas saja ada di Mension Duke membereskan beberapa dokumen yang ada beliau bahkan pada saat itu juga mengirim pasukan saat pemberontakan terjadi"
"Namun entah kenapa tak ada angin tak ada hujan Baron datang dan menuduhnya memberontak dengan beberapa bukti yang pada saat itu jelas sekali sangat tidak valid"jelas Devian.
Melody mendengar penjelasan tersebut mulai mengerutkan keningnya dan sedikit berfikir sambil memebaca kedua dokumen yang ada bukti yang dulu pernah di buat oleh Baron serta bukti yang di temukan oleh Kesatria nya.
Memang ada beberapa cela yang cukup jelas di antara dokumen Baron.
__ADS_1
"Baiklah hal ini bisa di putuskan dengan cepat jadi Count bisa kamu berkata dengan jujur, apa kamu melakukan pemberontakan?"tanya Melody to the poin.
"Tidak Yang Mulia"jawab Count dengan sungguh-sungguh.
Cahya emas kini bersinar emas berbada dengan yang biasanya yang mana akan bersinar biru.
Tentu saja perbedaan warna yang terjadi itu membuat semua orang yang ada di dalam sana menatao bingung akan cahaya tersebut pasalnya baru pertama kali ini mereka melihat warna yang seperti itu.
Berbeda dengan yang lainnya yang terlihat bingung Melody justru tersenyum lebar.
"Baiklah Count kamu sama sekali tidak bersalah, bebaskan Count dan persidangan di tutup"ujar Melody berdiri dari duduknya dan meninggalkan semua orang yang ada di sana.
Meninggalkan juga kebingungan di antara orang-orang yang hadir.
Sedangkan Melody kini berjalan santai untuk kembali sendirian, dia kini yakin kalau Count tidak bersalah mana yang bersinar emas itu miliknya itu adalah sihir kuno di mana bisa medeteksi kebohongan sekakigus jika kalau orang itu berbohong maka orang tersebut akan langsung tercabik-cabik.
Tapi dia cukup puas dengan hasil yang di dapatkan hari ini, walaupun semua orang percaya Count tidak bersalah tapi dia tak percaya begitu saja dia takut apa bila Count sama liciknya seperti Baron namun ternyata Count orang yang cukup bersih.
"Eh_?, dasar bajing4n tengik!"teriknya reflek.
"Duchess ucapan anda terlalu kasar"ujar sebuah suara dingin dan datar yang seperti Melody tau siapa itu.
Kini Melody di gending tepatnya di pundak pria tersebut tepatnya dia di gendong ala kantung berasm
"Eh?, Devian?, apa yang kamu lakukan sambil membawa ku dengan cara yang tak sopan seperti inj itu hmm?!"marah Melody.
"Diamlah masih untung aku mau bersikap baik kepadamu"ujar Devian.
__ADS_1
"Si4lan!, memangnya siapa juga yang kamu di beri sikap baik oleh mu heh!"bentak Melody tak terima bahkan dirinya kini memberontak.
Dia bahkan kini memukul punggung Devian dengan keras yang ternyata cukup membuat Devian meringis kesakitan tapi tetap saja dirinya masih saja kokoh berjalan tanpa hambatan yang berarti.
"Beraninya kamu memperlakukan ku seperti ini?, siapa yang menyuruhmu huh?!"tanya Melody yang tak terima.
"Kalau kau mau protes, proteslah kepada Sir Delice dan nona Diana mereka berdualah yang menyuruh saya untuk mengantar anda pulang mereka berkata bahwa mereka tak bisa pulang bersama anda karena ada hal yang ingin mereka lakukan sebantar saja"ujar nya.
"Jadi terpaksa deh aku harus melakukan nya"lanjutnya lagi dengan nada malas.
"Oh jadi kamu sama sekali tak suka mengantar ku pulang lalu kalau begitu turunkan aku!, aku bisa pulang sendiri"ujar Melody yang kesal saat mendengar kalimat dari Devian.
"Ck tenanglah Yang Mulia lagi pula ada hal yang ingin saya bicarakan dengan anda"ujar Devian kini dirinya mulai serius sambil mendudukan Melody di atas kudanya.
"Apa itu hal penting?"tanya Melody memutar bola matanya malas.
"Entahkah, mungkin antara iya dan tidak, itu tidak penting bagi anda tapi penting bagi kelangsungan hidip anda Yang Mulia"ujar Devian seadanya dan mulai menaiki kudanya tersebut.
"Apa maksdu_, ah!, kamu mau pergi?!, lalu bagaimana dengan dokumen serta berkas-berkas yang ada di kantor aku bisa mati kalau mengerjakan semua itu sendirian"protes Melody mencengkram tangan Devian cukup kencang.
"Heh!, tuh kan hal ini penting untuk kelangsungan hidup Yang Mulia, jadi ayah saya meminta saya untuk kembali ke Duchy dia berkata ada hal yang ingin beliau bicarakan dengan ku, maka dari itu Yang Mulia saya minta ijin cuti selama satu bulan"ujar Devian dengan nada serius.
Sedangkan Melody yang mendengar satu bulan dari mulut Devian hampir saja keselek lidahnya sendiri jika saja Devian tak segera menepuk punggungnya untuk meredakan batuknya.
"Uhuk!, uhuk!, apa satu bulan itu terlalu lama, aku yakin saat kamu kembali sudah akan ada bendera kuning yang di kibarkan serta akan ada karangan bunga bertuliskan Duchess Salvier tersebar di seluruh Duchy Salvier"ujar Melody memprotes hal tersebut.
"Yang Mulia saya hanya akan pergi untuk menemui ayah saya bukan untuk membunuh anda, lagi pula masalah pekerjaan anda bisa minta tolong dengan yang lain nya"ujar Devian dengan wajah datar.
__ADS_1
"Tapi tidak ada yang sebaik, dan secepat kamu dalam mengerjakan banyak sekali berkas"ujar Melody.
"Saya juga ingin di sini menemani anda tapi sepertinya kepulangan saya kali ini di wajibkan"ujar Devian dengan menyesal.