Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 95 Kembalinya Melody


__ADS_3

Kekaisaran BlueMoon Aula Pertemuan.


Malam itu adalah malam yang amat tenang dimana semua orang sudah terlelap di dalam tidurnya.


Kini pola sihir yang di buat oleh para Penyihir kini bersinar, awalnya hanya sedikit sinar namun makin lama makin besar sinarnya.


Penyihir pemula yang di tugaskan berjaga pada malam itu kini tersentak dan langsung membuka matanya lantaran dirinya terganggu dengan cahaya yang bersinar terang.


Dirinya yang kaget langsung saja membunyikan lonceng di dalam aula, setelah membunyikan lonceng dirinya langsung saja mengalirkan sihirnya ke dalam pola sihir itu.


Dalam sekejap kini suara langkah kaki yang tergesa-gera kini terdengar.


Pintu aula di buka memperlihatkan para Panyihir senior yang ngos-ngosa dengan keadaan yang amat lusuh jelas sekali kalau mereka baru saja bangun tidur dan tak memiliki waktu untuk bersiap-siap saat lonceng berbunyi.


"Semuanya ayo bangun formasi, bantu Yang Mulia untuk membuka gerbang!"ucap seorang Penyihir yang sepertinya seorang Penyihir Agung.


Semua Penyihir segera saja membentuk formasi namun belum sempat mereka membantu membuka gerbang kini pola sihir itu bersinar makin terang bahkan sampai membuat semua Penyihir menutup mata mereka alih-alih mengalirkan energi sihir mereka.


Bom!!


Ledakan besar kini terjadi dari arah pola sihir membuat para Penyihir yang mengelilingi pola sihir tersebit terpental cukup jauh.


"Arghhhh!!"


"Arghhh!"


"Ugh!"


Brak!


Bruk!


Gedubrak!


Mereka yang terpental bahkan ada yang terbanding ke lantai dan tiang penyangga di dalam aula dengan cukup keras hingga membuat bunyi yang keras.


Bebarapa dari mereka bahkan pingsan dan ada yang mutah darah.


Cahaya tersebut kini menghilang secara perlahan memperlihatkan Melody yang kini sedang berdiri di tengah-tengah pola sihir dengan wajah murung.


Melody yang baru saja kembali kini lumayan murung pasalnya dia ingin kembali ke dunia nya yang dulu, dia kangen dengan teman-teman onlinenya.

__ADS_1


[Melody, kenapa kamu mengatakannya?] Sebuah suara kini membuatnya kaget.


"Perpustakaan?" Ucap Melody kaget pasalnya saat ini dia sudah ada di luar Perpustakaan lalu bagaimana bisa dia masih dapat berkomunikasi dengan Perpustakaan?.


[Jangan kaget semua dunia tercatat di Perpustakaan dan menjadi tugasku untuk mencatat semuanya yang berarti aku harus menontonnya bukan?, untuk mencatat dengan sempurna?] Ucap Perpustakaan.


Mendengar itu kini Melody baru saja sadar bahwa hal biasa jika Perpustakaan bisa berkomunikasi dengan nya di sini, bahkan tak akan heran jika sesudah ini dia bisa berbicara dengan Perpustakaan lagi.


"Apa yang membuatmu penasaran?"tanya Melody


[Dirimu di sana, kenapa kamu mengatakan hal seperti itu?]ujar Perpustakaan dia terlihat lumayan bingung.


"Apa lagi tentu saja karena aku ingin yang terbaik untuk diriku sendiri"ujar Melody.


[Dengan cara mengatakan 'aku mendukungmu karena aku dirimu' begitu?]ucap Perpustakaan.


"Iya, memang dengan begitu bisa membuatnya bingung tapi aku yakin dia akan paham hanya dengan kalimat itu karena kita berdua sama"ucap Melody.


[Aku tak mengerti apa maksudnya]ucap Perpustakaan.


Tertawa pelan Melody kemudian mengadahkan pandangannya menatap langit-langit aula.


"Kamu akan segera tau"ucap Melody.


Jawaban itu ternyata cukup membuat Perpustakaan bingung, namun Perpustakaan sama sekali tak berbicara lagi dan diam.


Melody yang selesai berbicara dengan Perpustakaan kini menatap kearah dimana para Penyihir kini pingsan walaupun tak pingsan mereka sama sekali tak berdaya dan terkapar di lantai.


Melody menghela nafas sebelum berjalan ke luar aula dan memanggil seorang Penjaga yang berjaga di sana dengan diam serta wajah datar.


Penjaga itu tentu saja segera berlari kearah Melody.


"Panggil dokter, kamu urus saja mereka, aku pulang"ucap Melody sebelum menepuk pundak Penjaga tersebut dan ngacir pergi dengan buru-buru.


Sang Penjaga tentu saja membungkuk namun dirinya belum sempat memberi salam sudah di tinggal, jadi dirinya hanya bisa melakukan apa yang di printahkan oleh Melody.


Melody sendiri langsung pergi ke kandang kuda, dia sama sekali tak ada niat meninggalkan kuda kesayangannya.


Menaiki kuda kini Melody berkendara di malam hari, namun anehnya kuda tersebut seperti melakukan teleportasi secara terus menerus yang membuat kuda tersebut langsung sampai di perbatasan di mana penghalang rusak.


Membuka buku sihir kuno yang dia simpan di gelang selama ini.

__ADS_1


Membuka halaman demi halaman buku kini Melody mulai meramalkan bebarapa kata mantra.


"$#%$^!$^$^$%£¥₩€¥%¥¥€!$"


"£¥%#~{[!#^£₩~_____"


Buku sihir itu kini bersinar dengan warna emas, tiba-tiba pola sihir yang amat lebar terbentuk di bawah kaki Melody dan menjadikan Melody sebagai porosnya.


Kini bukan hanya buku sihir tapi juga pola sihir yang kini bersinar, bahkan kini rambut emas Melody bebetapa helai kini ada yang berubah menjadi warna perak dan bercahaya di tengah malam.


Cahaya di sana sangat besar bahkan mampu membuat siapa saja menutup matanya dan akan buta jika tetap memaksakan membuka mata.


Sihir penghalang yang rusak kini bersinar emas memperlihatkan banyaknya cela pada sihir penghalang tersebut namun kini sedikit demi sedikit mulai kembali tertutup bahkan ukurannya makin menebal berkali-kali lipat.


Melihat penghalang yang sudah di perbaiki dengan benar Melody menutup buku tersebut, dalam sekejap buku tersebut hilang di ikuti oleh pola sihir yang juga menghilang entah kemana.


"Melelahkan, kini sudah selesai"ujar Melody sebelum dirinya kembali menaiki kuda, dia berniat untuk pergu ke medan perang di mana kinia Delice dan yang lainnya sedang berjuang.


Dia tak sabar bertemu mereka.


Namun saat sampai sana betapa terkejutnya Melody melihat tempat yang begitu tak karuan di mana banyak mayat pasukannya yang tewas.


Turun dari kuda Melody segera berlari ke sebuah mayat yang sepertinya dia kenal siapa itu.


"Teman paman Turbo!"teriaknya terkejut.


"Apa yang terjadi bukankah mereka berkata mereka sanggup menghadapinya?"ucap Melody frustasi.


Namun kini dia sadar karena dengan polosnya mempercayakan semua itu begitu saja.


"Si4l!, bagaimana aku tak bisa memikirkannya sampai sana mereka mungkin mampu menghadapi bebarapa gelombang tapi gelombang terakhir sama saja mengirim mereka ke dalam kematian!"kesalnya dan segara saja berlari dengan sekuat tenaga meninggakan kuda nya dia hanya berharap bahwa dia sama sekali belum terlambat.


Di medan perang kini paman Turbo masih berusaha menangkis gelombang monster yang datang kepadanya dengan sangat brutal, tak jauh darinya 4 teman-teman nya yang lainnya juga melakukan hal yang sama.


Mereka marah, kecewa serta sedih akibat kematian sahabat mereka.


Mereka marah dan kecewa terhadap diri mereka sendiri karena tak sanggup melindungi sahabat mereka padahal mereka pernah berjanji akan pulang dari tempat ini bersama-sama dan akan minum di bar untuk merayakan kemenangan.


"Arghhh!!, mati kau!, mati!"teriak sesorang dari mereka sambil menusuk-nusuk monster yang baru saja di bunuhnya dengan brutal.


Namun yang lainnya hanya menatapnya mereka tau apa yang di rasakan olehnya.

__ADS_1


"Mati!, hiks, si4l!,"orang tersebut kini menangis dengan tangan yang masih saja menusuk-nusuk jasad tersebut.


Bahkan paman Turbo dan yang lainnya juga meneteskan air mata mereka sambil terus membunuh monster yang datang kepada mereka sekaligus saling membantu satu sama lain.


__ADS_2