
Melihat Melody yang sudah tertidur Devian hanya menatapnya sebantar sebelum menurunkan kembali pandangan nya dan berkata.
"Baik Yang Mulia"
Kereta kini membelah kembali ibu kota Duchy Utara yang sama sekali belum memiliki perbaikan, itu semua karena percuma saja semua sumber pangan dan bantuan yang di berikan akan habis di tengah jalan di lahap oleh para pemimpin yang serakah, maka dari itu Melody berencana untuk segera menyelesaikan masalah korupsi dengan cepat alih-alih memberi bantuan ke pada rakyat.
Tapi walaupun begitu tentu saja masih ada bantuan yang di kirim secara diam-diam oleh para Kesatria Mension Duchess tapi itu tidak banyak.
Namun siapa sangka bahwa ternyata ada organisasi lain yang memberi bantuan ke pada masyarakat namun organisasi itu kini dalam masalah, mereka tidak lagi di percaya rakyat hanya karena cuci otak yang di lakukan oleh para pejabat korup.
Memikirkan hal itu membuat Melody bingung hingga setalah turun dari kereta dia langsung pergi ke ruang kerja nya dan menerima semua laporan dari Devian dia sama sekali tak menyangka bahwa penggelapan uang serta hal-hal itu sungguh di luar ekspektasinya.
Namun setelah di pikir lagi itu seperti hal normal jika berada di zaman seperti ini.
Penggekapan.
Pemerkosaan.
Pencurian.
Perbudaan.
Pergengan.
Pemalakan.
Penindasan.
Dll.
Ini membuatnya sangat pusing, bagaimana mungkin satu wilayah memiliki masalah yang begitu lengkap, di tambah banyak penjahat yang belum tertangkap, dengan kata lain masih berkeliaran.
Nara pidana belum di sidang, masalah ini bahkan sampai masalah pertambangan yang penghasilannya tak sesuai dengan catatan kas, hal itu sungguh menyebalkan, untung saja orang-orang yang di kirim oleh Duke Carvalo cukup membantu mereka langsung pergi mengurus penghasilan Duchy tanpa di suruh, mengurus pemerintah, dan mengurus pengadilan, dengan otoritas atas seijin nya, ya, walaupun dia belum memberi ijin resmi tapi Diana yang sementara mengurus rumah selama Melody pergi memberi ijin.
Apa lagi dalang dari balik semua ini yang sama sekali tak parnah terfikirkan oleh nya sungguh menyusahkan.
"Ayo potong kepalanya"ucap Melody serius.
__ADS_1
Bangun dari duduknya, Melody keluar dari ruang kerjanya, di luar Devian yang berjaga di depan segera mengikuti Melody yang pergi keluar Mension.
"Siapkan kuda pergi ke rumah pejabat kota Miranda Jonvel, bawa semua pasukan, hari ini jika aku tak membereskan mereka semua aku bukan seorang pemimpin!"ucap Melody serius, dan berapi-api.
"Baik Yang Mulia"ucap Devian dan segera undur diri untuk menyiapkan permintaan Melody, dia sadar saat ini kesabaran Melody sudah sampai batasnya, yang berarti tamat sudah riwayat mereka semua.
Yah, jika dia jadi Melody pun dia pasti akan marah besar.
Derap langkah ribuan kuda kini terdengat di deluruh penjuru kota menarik minat semua warga.
Bendera perak, dengan pola Melody kini berkibat dengan indahnya, itu adalah bendera Penguasa Duchy Utara.
"Itu bendera Penguasa!!!"
"Penguasa datang!!"
"Itu_,Duchess Salvier!!"
Sorakan warga kini terdengar bahkan sampai berdesakan hanya demi melihat sosok penguasa baru mereka.
Kecantikan sang Duchess membuat banyak rakyat terpukau, bahkan hingga berbulan-bulan hal ini masih menjadi perbincangan banyak sekali rakyat, yang bahkan sampai tersebar ke wilayah lain.
Ribuan kuda masih saja bergerak ke depan menuju kediaman Miranda, Miranda yang mendengar kabar bahwa Duchess Salvier akan datang kini menyemburkan teh yang di minumnya.
Hal ini sama sekali tak terduga.
"Duchess ke mari?!!, cepat sambut Yang Mulia!"ucap Miranda yang juga buru-buru keluar dari kediaman nya untuk menyambut Melody yang ternyata sudah ada di depan kediaman nya.
Melihat hal itu Miranda segera berlari, dia bisa melihat bahwa semua pelayan nya kini sudah berjajar dengan rapi untuk menyambut kedatangan Duchess Salvier.
Kini dari depan pintu kediaman Miranda bisa melihat bahwa kuda yang di tumpangi oleh Melody sudah berhenti, dan Melody hendak turun dari kudanya.
Melihat adegan itu dia semakin cepat dalam berlari, dia bahkan kini sudah tidak lagi perduli dengan martabat bangsawan nya dia langsung saja mengangkat rok nya tinggi-tinggi dan berlari ke arah Melody.
Melody yang baru saja sampai hanya di sambut oleh para Pelayan dan Kepala Rumah Tangga, hanya acuh saja, namun sebuah adegan tak biasa dari kejauhan membuatnya mengangkat satu alisnya.
'Sangat ceroboh'
__ADS_1
Kalimat itu lah yang di pikirkan oleh Melody, pasalnya saat ini Miranda berkari tanpa etika sama sekali, padahal akan lebih baik jika dia tetap berjalan dengan etika walaupun terlambat namun dia malah memilih mempermalukan diri nya sendiri di depan publik, demi diri nya.
Sungguh penjilat yang handal, dia kira dia akan terharu?.
Melihat sikap Miranda entah kenapa Melody menjadi ragu bahwa dia adalah dalang nya sikap nya sama sekali tak mendominasi.
"Selamat datang Yang Mulia Duchess Salvier"ucap Miranda yang sudah tiba dengan suara yang ngos-ngosan akibat berlari.
"Hm ya, tapi sepertinya etika di Utara sangat tidak di junjung tinggi ya"ucap Melody yang jelas merasa risih akan penampilan berantakan yang di perlihatkan oleh Miranda.
Miranda yang mendengar itu mengepalkan tangannya dia sangat kesal, namun mau bagaimana pun dia bukan orang bodoh yang akan memaki seorang Duchess di wilayahnya sendiri.
"Maafkan saya Yang Mulia, saya terburu-buru berlari ke sini sehingga, saya tak sempat untuk merapikan penampilan saya"ucap Miranda dengan nada sesopan mungkin.
"Hmm"
Walaupun Melody mengisyaratkan bahwa itu baik-baik saja, namun Melody bisa tau bahwa Miranda ini sudah sangat kesal ke pada nya, yah sesempurna apa pun dia menyembunyikan nya Melody jelas bisa melihat tangannya yang mengepal secara erat.
"Yang Mulia mari saya antar masuk ke dalam"ucap Miranda sambil mempersilakan Melody jalan terlebih dahulu.
Melody juga tak sungkan dia langsung saja berjalan di depan mendahului Miranda dan yang lain nya.
Kemudian di belakang Melody, Miranda kini terlihat mengikuti, sedangkan Devian, dan Delice mereka berjalan dengan sedikit jarak dari Miranda.
"Yang Mulia silakan duduk"ucap Miranda dengan nada senang.
Tanpa sungkan atau canggung Melody segera duduk di sofa sambil menyilangkan kaki nya dengan angkuh.
"Pelayan cepat sajikan teh dan camilan nya"ucap Miranda menyuruh pelayan untuk menyajikan teh dan hidangan.
Tak lama teh dan hidangan sudah di siapkan.
Sebelum memulai topik, terlebih dahulu Melody meminum teh nya, dan memandang Miranda yang tampak gugup di depan nya.
"Tak ku sangka rumah seorang pejabat sepertimu sangat mewah"ucap Melody.
Dia sangat kesal saat melihat rumah Miranda yang begitu bagus padahal jelas sekali dia tidak memiliki pekerjaan sampingan dan gaji sebagai seorang pejabat tak mungkin bisa membeli barang-barang mewah yang ada di rumah nya.
__ADS_1