Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 151


__ADS_3

"Apa maksudmu?"tanya Melody.


"Itu saya hampir memasuki usia dewasa dan sudah saat nya untuk menentukan pertunangan saya"jelas Devian kepada Melody.


"Oh apa itu berarti bahwa kamu akan bertunangan, wah kalau begitu selamat Devian"ujar Melody dengan senyum gembira nya.


Devian hanya tersenyum palsu itu sepertinya sangat di paksakan, namun mau bagaimana lagi pertunangan nya dan pernikahan nya hanyalah sebuah politik.


"Terima kasih Duchess"ujar Devian tersenyum.


Tapi sepertinya Melody sama sekali tak menyadari senyum Devian yang merasa sangat tak senang.


Dalam hati ingin sekali Devian memikiki sifat pemberontak seperti Melody, pasalnya jika saja dia memiliki sifat seperti itu walaupun sedikit saja dia pasti bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.


"Yang Mulia jadi bangsawan itu tak menyenangkan, karena kita harus bisa melihat situasi berdasarkan politik yang ada"ujar Devian dengan nada lelahnya bahkan kini kepalanya sudah di senderkan di bahu Melody.


Melody mendengar hal tersebut juga tau akan hal tersebut, dia tak bisa membantu apa-apa dan hanya bisa menenangkan Devian dengan mengusap kepalanya yang kini bersandar di bahunya.


"Yang Mulia"panggil Devian menatap kewajah Melody dengan posisi yang masih sama yaitu kepala yang masih ada di bahu Devian.


Melody yang masih mengelus kepala Devian terkejut dengan gerak yang tiba-tiba itu hingga tangannya menjadi kaku di udara untuk sementara waktu sebelum turun dan menatap kembali ke depan.


"Apa?"sahut Melody.


"Apa saya masih Kesatria Duchy Salvier bahkan apa bila saya sudah jadi Duke?"tanya Devian serius.


Kalau boleh jujur sebenarnya posisi Devian itu membuat wajahnya sangat imut apa lagi dirinya yang sedang cemberut sambil mendongak menatap Melody penuh harap.


"Tentu saja kamu masih Kesatria Salvier asal kamu tidak mengundurkan diri, kami di sini masih akan membuka gerbang untuk mu"ujar Melody tulus ya kali ini dia berbicara yang sebenarnya.


"Benarkah?"tanya Devian dengan mata berbinar.


"Ya tentu"jawab Melody tegas.


"Yang Mulia bukan kah saya masih kecil?"tanya Devian lagi.


"Karena kamu belum debut di pergaulan kelas atas serta kamu belum melakukan pesta kedewasaan maka kamu masih di bawa umur menurut hukum kekaisaran"jawab Melody lagi.

__ADS_1


"Lalu kenapa ayah malah menyuruhku cepat-cepat bertunangan dan menjadi Duke menggantikan nya?"tanya Devian lagi.


Jelas sekali kalau ada nada sedih di setiap ucapan nya.


"....."


Melody hanya diam dia sama sekali tak tau kalau ada hal seperti itu, dan sepertinya hal tersebut juga bukan hal yang seharusnya dia ikut campur.


"Kenapa anda tak menjawabnya?"tanya Devian lagi dengan wajah sedih.


"Mungkin ayah mu ingin kamu cepat dewasa, aku yakin beliau takut akan ada hal buruk yang menimpanya"jelas Melody.


Setaunya para bangsawan selalu mendapatkan ancaman pembunuhan apa lagi jika itu adalah bangsawan dengan pangkat tinggi seperti Duke Milian.


Yah jabatan tinggi memang bagus, tapi semakin tinggi jabatan seseorang maka semakin bahaya juga hidup orang tersebut, kalau di ingat dia sama sekali belum pernah menerika ancaman pembunuhan seperti itu dari bangsawan lain kecuali Janda Permaisuri 1 yang kini masih saja mendekam di penjara.


"Tapi aku lelah sama sekali belum siap"ujar Devian, Melody bisa menebak kalau misalnya anak muda itu kini meneteskan air matanya masalnya pundaknya kini jadi basah.


Tapi tetap saja ekspresi wajah Melody tak berubah dia tetap saja memiliki wajah datar.


Kini Devian benar-benar mengubur wajahnya di pundak Melody, Melody kini bisa mendengar isakan tangis dari bocah di belakangnya itu.


"Yang Mulia saya benar-benar tak mau bertunangan apa lagi calon nya Lady Cecilia"seru Devian dengan tubuh gemetar hebat.


Melody sama sekali tak tau apa yang harus dia lakukan, dia tak tau caranya membuat seseorang berhenti menangais, dia juga tak tau alasan kenapa tubuh Devian bergetar hebat itu seperti seakan-akan dia memiliki trauma yang cukup besar.


Bahkan kini Devian sudah memeluk Melody dari belakang.


Sedangkan wajah Melody kini makin datar saja.


Jujur saja rasanya canggung dan memalukan satu kuda dengan seorang pria yang menangis dengan posisi ambigu apa lagi hal tersebut di lihat oleh banyak orang di Duchy Salvier.


Kuda terus berjalan hingga sampai di Mension Duchess.


"Sir kita sudah sampai ayo turun"ucap Melody.


Namun sama sekali tak ada jawaban hanya ada kesunyian di sana, bahkan Devian sama sekali tak bergerak.

__ADS_1


"Sir"panggil Melody lagi berusaha melirik ke Devian betapa terkejutnya dia saat melihat Devian sudah tertidur dengan nafas yang beraturan menerpa lehernya itu.


Huftt~


Menghela nafas rasanya Melody lelah.


Hingga dia kejauhan dia bisa melihat Sir Vio yang sepertinya akan pergi ke asramanya.


Dengan cepat saja Melody berteriak memanggil dirinya.


"Sir Vio!, kemarin cepar!, bantu aku!"ujar Melody.


Sir Vio yang merasa di panggil kini menoleh dan bisa melihat bahwa Duchess nya kini melambaikan tangan kearahnya dengan senyuk bahagia.


Dengan cepat saja Sir Vio menghampiri Duchessnya nya.


"Salam Duchess Salvier semoga anda selalu bahagia"sambil sedikit membungkukkan kepala dengan salah satu tangan di dadanya.


"Syukurlah kamu datang bisa tolong bawa Devian ke asrama nya  dia tertidur di jalan, sedangkan aku tak mungkin membawa tubuh tiangnya ini dengan punggung kecil dan rapuh ku ini"ujar Melody dengan sok lemah.


Sir Vio yang mendengar nada bicara Duchesa yang seakan-akan mengatakan kalau dia orang paling lemah di dunia ini hanya bisa tersenyum kaku walaupun dalam hati dia ingin membantah itu semua.


'Yang Mulia jika anda lemah lalu saya itu apa?'


Pasalnya dia tau kalau Duchess ini bahkan bisa membasmi monster sendirian namun dirinya mengatakan bahwa dirinya lemah sangat tak bisa di percaya!.


Itu adalah omong kosong terlucu yang pernah dia dengar, dia tau kalau Duchess hanya berniat merendah tapi tolong jangan merendah untuk meninggi (merendah untuk pamer)


Hati kecil imut hello kity nya sangat sakit bung!


"Apa yang kamu lakukan cepat bawa bocah ini kembali ke kamarnya"ujar Melody lagi.


Sir Vio yang mendengar hal tersebut kini tersentak bisa-bisanya dia malah memikirkan hal lain.


Dengan cepat dan cekatan Sir Vio memindahkan tubuh Devian ke punggungnya dan mulai berjalan ke asrama para Kesatria di ikuti oleh Melody di belakangnya.


Kalau kalian bertanya di mana kuda Devian, Melody hanya meninggalkan nya saja lagi pula dia yakin kalau kuda iti bisa kembali sendiri ke kandangnya.

__ADS_1


Pasalnya dia juga sering melihat kuda Devian berkeliaran di sekitar Mension bahkan kuda tersebut bisa kembali sendiri.


__ADS_2