
Duke Milian segera menyambar jas nya yang dia sampirkan di kursi kerja nya dan memakainya sambil berjalan keluar ruangan.
Jim yang mendengar perintah itu segera saja pergi menyiapkan kereta kuda.
Di depan kereta kuda kini Jim sudah menunggu Duke Milian.
Dari sana dia bisa melihat bahwa Duke Milian baru saja kekuar dari Kediaman nya, membungkuk ke arah Duke, Jim membukakan pintu kereta kuda tersebut mempersilakan Duke untuk masuk ke dalam nya.
"Jim, aku akan pergi sendiri, kamu lebih baik lakukan apa yang ku suruh dan urus Kediaman saat aku tak ada"ucap Duke sambil masuk ke dalam kereta kuda.
"Baik Tuan Besar"ucap Jim yang langsung menutup pintu kereta kuda, dia terus berdiri di sana sampai kereta kuda tersebut berjalan sangat jauh atau sampai tak nampak lagi di matanya.
Seperginya Duke, Jim segera saja mengurus banyak hal yang sudah tertunda, dia harus bergerak cepat.
Tak lama kereta kuda Duke Milian kini sudah rerparkir di depan Istana Kekaisaran, keluar dari sana Duke Milian segera saja pergi ke arah ruang kerja Kaisar, namun nasib nya seperti begitu buruk hari ini bisa-bisa nya dia bertemu dengan Janda Permaisuri I di jalan.
Dengan terpaksa Duke Milian menyapa wanita tersebut.
"Salam Yang Mulia Janda Permaisuri I"ucap Duke Milian sambil menuduk hormat.
Janda Permaisuri I dia hanya menatap Duke dengan mata nya sambil menyembunyikan setengah wajah nya di balik kipas sebelum menutup dan membuka kipas tersebut dengan keras.
Tap!
Srakk!
"Huh?"
Setelah itu Janda Permaisuri I hanya pergi tanpa mengatakan apa-apa, di ikuti oleh para pawangnya begitu pun dengan Kesatria Alex yang jadi Penjaganya.
__ADS_1
Duke Milian hanya menatap kepergian nya dengan datar, dia sama sekali tak marah karena sudah di abaikan karena itu sudah biasa, yah, lebih baik dia lanjutkan saja untuk melapor.
Kaisar yang kini masih duduk di kuris nya sambil berfikir dengan serius kini di kagetkan oleh suara pintu yang terbuka
Krieettt~
"Ah~, ada apa?"tanya Kaisar pada Sekertaris nya.
"Yang Mulia Duke Milian ingin bertemu"ucap Sekertaris Kaisar.
"Biarkan dia masuk"ucap Kaisar.
"Baik yang Mulia"ucap Sekertaris Kaisar yang kemudian kembali keluar dan menutup pintu.
Tak lama pintu tersebut kembali terbuka hanya saja bukan Sekertaris Kaisar, itu adalah Duke Milian.
"Ada apa kau kemari?"tanya Kaisar langsung tanpa basa-basi.
Kaisar pun menerima nya dan seketika tangannya mengerat dengan kuat, dia tak pernah menyangka bahwa dia sudah bergerak hingga jauh bahkan sampai hendak membunuh adiknya dan juga berani membunuh Penjaga bayangan yang dia kirim untuk menjaga adiknya, pantas saja dia terputus komunikasinya dengan penjaga tersebut, tapi siapa sangka bahwa itu perbuatan nya, dia sungguh marah ingin sekali rasanya dia menghukum orang itu namun apa daya dia harus sabar.
"Duke tolong percepat, aku akan mengambil semuanya yang seharusnya menjadi milik ku dalam satu bulan dan dalam waktu itu temukan cara untuk menurunkan Janda Permaisuri I dari jabatan nya" ucap Kaisar bulat penuh akan tekad tadinya dia akan melakukan hal itu secara perlahan karena bagaimana pun juga dia adalah ibunya namun sekarang dia harus menjadi anak durhaka.
Dia sama sekali tak ingin ibunya terus berjalan di jalan yang salah, dia ingin memafaakan ibunya tapi itu bukan hal nya, biarkan lah Melody yang akan menetukan semua nya entah ingin memaafkan nya atau tidak semuanya akan dia terima dengan lapang dada.
Mendengar perintah itu mata Duke kini bersinar aneh untuk sesaat sebelum kembali seperti semula.
"Baik Yang Mulia akan segera saya laksanakan"ucap Duke Milian.
"Baiklah kalau begitu kamu boleh pergi lain kali kita akan membahas hal ini lebih jauh, dan juga jangan lupa tolong bilang ke pada Devian untuk mengumpulkan informasi tentang apa pun yang di lakukan adik ku"ucap Kaisar dengan wajah yang luamyan memerah.
__ADS_1
Dia tak sabar menerima laporan tentang adik bungsunya.
"Baik yang mulia, dan untuk itu saya ada bebarapa informasi yang bisa dibagikan kepada anda"ucap Duke Milian sambil menyerahkan bebarapa berkas lagi yang di dalam nya berisi tengang fakta-fakta Melody selama di Utara.
Tentu saja Kaisar menerima nya dengan senang hati dan segera menyimpan nya di laci dengan hati-hati dia akan membacanya nanti.
"Ehem!, baiklah kamu benar-benar boleh pergi"ucap Kaisar sambil sedikit berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
"Baik Yang Mulia" ucap Duke Milian sebelum pergi dari ruang kerja itu.
Namun siapa sangka bahwa saat dia membuka pintu ternyata di sana ada pangeran ke 2 dan ke 3 yang sedang menguping pembicaraan mereka berdua.
Saat Duke keluar mereka berpura-pura bahwa mereka baru datang sambil berdehem, namun siapa itu Duke Milian, dia adalah ahli pedang tentu saja dia lebih peka dari pada manusia biasa, dia bahkan sudah tau dari awal bahwa keduanya ada di balik pintu hanya saja dia merasa bahwa mereka berdua juga perlu untuk tau.
"Ehem!, Duke Milian ada urusan apa kamu kemari?"tanya Pangeran ke 2 mencoba ramah walaupun itu sama sekali tak cocok untuk diri nya.
"Iya, ada urusan apa?"tanya Pangeran ke 3 yang ikut-ikut saja.
"Tidak ada apa-apa Yang Mulia Pangeran 1 dan 2, hamba hanya memberi beberapa laporan yang harus di laporan"ucap Duke sambil membungkuk hormat.
"Oh begitu kah kalau begitu sampai jumpa"ucap Pangeran ke 2 sambil melambaikan tangan ke arah Duke di ikuti oleh Pangeran ke 3 yang kini masuk ke dalam ruangan kakak nya.
Mereka berdua tak akan pernah membiarkan kakak pertama mereka memonopoli ssmua nya sendirian dia harus berbagi.
Sedangkan Duke dia hanya tersenyum tipis, terkadang dia salit akan semua anak Kaisar walaupun mereka berbeda ibu namun mereka bisa saling menyayangi dan saling mengalah satu sama lain, hubungan mereka sangat damai, walaupun mereka tau bahwa hubungan ibu mereka sangat rumit.
"Kakak aku tau kau barusan mendapat informasi tentang Melody bukan?"kini aura yang di kekuarkan oleh Pangeran kedua begitu berbeda dia sangat menyaramkan itu bahkan membuat Kaisar terkejut.
"Iya aku juga tau"ucap Pangeran ke 3 kini matanya seperti rubah licik, dia bahkan kini tersenyum menyeramkan.
__ADS_1
'Hikk!, bagaimana mereka bisa tau, aku sama sekali tak mau berbagai, aghhhhhkkk!!!' Batin Kaisar menjerit dia cukup serakah untuk informasi ini ok.