Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 149


__ADS_3

"Count Leonardo adalah seorang yang bijak dan adil serta seseorang yang di sayangi oleh Duke terdahulu tahun ini beliau berumur 55 tahun, namun teoatjya setelah beberapa bulan kematian Duke terdahuku beliau melakukan pemberontakan dan berfikir untuk merebut kekuasaan yang ada"


"Oleh karena itu Baron yang merupakan satuan petinggi waktu itu menyuruh para bawahan untuk menangkap nya pada hari senin tanggal x bulan x tahun xxxx di depan rumah"


"Dan karena semua kejahatannya beliau di jatuhi hukuman mati namun mengingat semua jasanya yang sudah banyak beliau di beri keringanan dengan hukuman penjara seumur hidup"ujar sang jaksa.


Jaksa itu segera mundur menunggu perintah dari Melody lagi.


Melody sendiri dia tak habis pikir oenjara seumur hidup? Bukan kah itu malah lebih buruk dari pada mati, aku yakin Baron Wilton pasti gila, ah tidak penghianat itu kan memang gila.


"Cerita yang cukup menarik, lalu apa ada bukti?"tanya Melody kestah jaksa penuntut.


Seorang jaksa yang berbeda kini maju.


"Salam Yang Mulia"


"Berdasarkan penyekidikan pada saat itu beberapa bukti di temukan di kediaman sang Count berupa berkas-berkas yang berisi rencana pemberontak serta beberapa saksi yang merupakan bawahan setia dari Count"ujar jaksa tersebut.


"Oh benar kah ada saksi, lalu bisakah kamu mengeluarkan saksi tersebut?"tanya Melody.


Sebenarnya dia bahkan tak percaya saksi tersebut berbicara yang sebenarnya, dan juga apa nya yang bawahan setia jika memang mereka setia mereka tak akan pernah membocorkan rahasi, itu malah seperti bahwa mereka bukan bawahan setia tapi sebaliknya.


"Maaf sebelumnya Yang Mulia karena gelombang Monster waktu itu sebagain besar saksi telah mati dan kini hanya menyisakan satu orang sasi saja, namun_"jaksa tersebut terlihat sangat ragu.


"Kenapa?, ada apa dengan saksinya?"tanya Melody.


Sejujurnya dia tau alur kasus ini tapi dia sama sekali belum mengunjungi saksi.


Bahkan jaksa yang ada di sini di rengkut dalam waktu yang singkat, mereka cukup beruntung bahwa ada beberapa bangsawan dari Duchy Salvier yang memiliki pendidikan hukum yang tinggi.


Kalau tak salah Sir Galib menemukan mereka dua hari yang lalu setelah menelusuri semua bagian dari desa-desa Duchy yang masih berdiri.

__ADS_1


Siapa yang akan menyangka bahwa di sana mereka bisa menemukan beberapa keluarga bangsawan yang masih hidup?


"Saksi tersebut sepertinya mengalami trauma yang cukup berat"ujar sang jaksa tersebut sopan sambil menudukan kepalanya.


Melody yang mendengar hal tersebut nampak berfikir sejenak.


"Kalau begitu dia sama sekali tak bisa jadi saksi, orang gila sama sekali tak bisa di percaya"putus Melody.


Dia sama sekali tak menerima orang yang tak waras untuk menjadi saksi dan juga entah kenapa dia berfikir bahwa itu hanya akan merepotkan.


"Baik Yang Mulia"ujar sang jaksa kembali.


"Lalu itu berarti tidak ada saksi?, kalau begitu bawa barang bukti ke depan ku"perintah Melody.


Segera saja setumpukan dokumen ada di atas mejanya.


Membaca sebentar Melody merasa bahwa hal tersebut sangat lucu sekali, jika di perhatikan memang itu tukisan sang Count tapi jika di perhatikan lagi jelas sekali ada beberapa perbedaan di dalamnya.


Itu malah terlihat bahwa tulisan ini seperti berusaha meniru suatu hal, tapi perlu di ancungi jempol bahwa ini memang sangat mirip.


Count yang merasa di panggil kini menatap lurus, jika ini adalah hal yang kemarin-kemarin maka dia akan dengan tegas mengatakan tidak.


Lagi pula dia mengatakan ada atau tak adanya sama sekali tak berguna karena dia tetap akan di salah kan bagaimana pun caranya.


Mereka memang sangat ingin dirinya hancur.


Namun hal tak terduga keluar dari mulutnya.


"Tidak Yang Mulia"


Tentu saja suara tersebut membuat Melody mengangkat satu alisnya, dia tak berfikir kalau Count akan menerika tuduhan yang berlari kearahnya dengan begitu sangat mudahnya.

__ADS_1


Sedangkan yang lain nya sama terkejutnya Delice hanya diam merasa maklum dia berfikir bahwa Count masih saja beluk percaya dengan Duchess nya.


Sedangkan Marques sendiri dia terkejut dan sama sekali tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Count.


"Hey, dasar Count sial4n!, bukan kah kamu seharusnya melakukan pembelaan!?, dasar keras kepala!, ini lah kenapa kamu begitu mudah di jatuhkan!"teriaknya keras dari arah kursi penonton bahkan dirinya kini berdiri sambil memperlihatkan wajah marahnya.


Dia sungguh merasa bahwa Count adalah orang konyol!.


"Tenanglah Marques jangan membuat keributan di dalam persidangan yang sedang berlangsung"ujar Melody ringan.


Marques yang mendengar perkataan tersebut segera saja menatap kearah Melody.


"Maafkah saya Yang Mulia"ujarnya meminta maaf dengan sopan, dia merasa bersalah karena dia terbawa akan emosi sejenak.


"Hmm ya tidak apa, kalau begitu bisakah kita lanjutkan pengadilannya?"tanya Melody menatap Count yang masih saja menampilkan ekspresi datarnya di wajah tua itu.


"Lalu apa ada yang bisa di katakan oleh pengacara dari terdakwa?"tanya Melody menatap sang pengacara yang kini duduk di sebelah Count.


Pengacara tersebut tak lain dan tak bukan adalah Sir Devian.


"Terima kasih Yang Mulia karena sudah memberikan saya waktu untuk berbicara"ujar Devian membungkukkan kepalanya sedikit saja.


Melody sendiri sama sekali tidak menanggapi dan hanya menatap Devian menunggu.


"Yang Mulia saya tidak berfikir bahwa Count bersalah!"ujarnya tegas.


"Kenapa kamu berfikir demikian?"yah sejujurnya dia juga berfikir hal yang sama.


"Menurut analisi saya, hal apa yang akan di dapatkan Count apa bila dirinya memberontak?, bukah kah itu hanya akan membawa nya dalam kematian apa bila Kekaisaran mendengar nya?".


"Apa lagi seperti yang di ketahui semua otang Duchy Salvier atau bisa di sebuat Duchy Utara awalnya adalah milik salah satu anggota Kekaisaran namun karena beliau terlah tiada maka hal kekuasaan di kembalikan lagi kepada Kekaisaran"jelas Devian.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan di lakukan oleh Kekaisaran apa bila Kekaisaran tau bahwa akan ada pemberontakkan?, bukankah mereka pasti akan mengirim pasukan untuk menangkap pemberontak, dalam keadaan ini Count sama sekali tak akan bisa menang"ujar Devian.


"Selanjutnya apa alasan nya Count memberontak?, saya berfikir tak ada alasan yang cukup bagus untuk itu, apa bila itu karena kekuasaan serta Kekayaan saya rasa itu sama sekali tak benar, pada saat itu Count lah yang memegang kekuasaan atas Duchy atas perintah Kekaisaran dan jika itu karena Kekayaan hal tersebut terasa tak wajar karena pada dasarnya Count adalah orang terkaya di Duchy bahkan Kekayaannya mengalah kan Duke pada saat itu"


__ADS_2