Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 20 Pesta?, tentu saja aku harus datang!


__ADS_3

"Tawari dia keindahan Dunia, harta yang melimpah, serta pria tampan, siapa yang kan menolak?"ucap Miranda dengan senyumnya itu.


______________


"Tapi bagaimana jika Yang Mulia tidak merasa senang dan malah menuduh kita!?"tentang Baron keras.


"Itu tak akan, bilang saja bahwa di Utara hal seperti itu sudah biasa"ucap Miranda.


"Kamu benar, kita coba dulu membuat Yang Mulia ada di pihak kita"ucap Baron.


"Baiklah, pertama-tama ayo buat pesta penyambutan yang sangat megah"ucap Miranda dengan senyum cerahnya.


Melody yang masih terjebak di dalam tumpukan berkas-berkas sama sekali tak memiliki waktu untuk pergi keluar dari ruang kerjanya.


"Argghhh!!!, kertas-kertas si4lan!!!"teriak Melody mengegelegar di dalam Mension para Pelayan hanya mengabaikannya karena semenjak Melody menyentuh berkas-berkas pasti akan ada suara teriakan frustasi atau bahkan umpatan kekesalan, namun tetap saja Duchess akan tetap mengerjakan semua itu walaupun harus banjir air mata.


"Huhuhu, hiks, kenapa, aku harus mengerjakan ini samua hiks"tangisan Melody akhirnya terdengar namun tetap saja tangannya serta pikirannya terus bergerak mengerjakan semua berkas-berkas yang datang serta berkas yang salah dia selalu memperbaikinya.


Diana yang selalu menemani Melody di luar ruangan akhirnya masuk dia sangat khawatir dengan keadaan Melody.


"Yang Mulia, anda bisa istirahat sebentar saja, lagi pula masih banyak waktu untuk membereskan semua itu"ucap Diana sambil membawa biskuit serta susu yang dia minta untuk buatkan beberapa waktu lalu.


"Tidak bisa aku harus cepat, tempat ini harus di bereskan dengan cepat, berkas nya hanya tinggal beberapa lagi"ucap Melody yang terus saja menulis walupun kini tangannya yang memegang kuas sangat gemetar.


"Tidak apa-apa Yang Mulia, di sini ada saya, Delice, dan Devian, kita akan menemani Yang Mulia, jadi istirahat sebentar, dari pagi-pagi buta sekali Yang Mulia balum makan"ucap Diana khawatir.


Melihat Diana yang sangat khawatir Melody tak memiliki pilihan lain selain beristirahat sebentar saja sebelum kembali bertugas.


"Baik sebentar saja"ucap Melody pada akhirnya.


Baru saja satu gigitan suara ketukan di pintu membuat aktivitas makan Melody berhenti.


Tok


Tok


Tok


Tok


"Masuk"ucap Melody

__ADS_1


Pintu terbuka memperlihatkan seorang Pengawal, di lihat dari seragamnya itu adalah Pengawal kediaman Baron, pengawal itu mendekat sebelum berlutut.


"Salam Yang Mulia Grand Duchess"ucap Pengawal tersebut.


"Ya, ada apa"ucap Melody.


"Yang Mulia, Baron mengirim undangan pesta penyambutan atas kedatangan anda"ucap Pengawal tersebut membuat aktivitas Melody benar-benar berhenti.


"Pesta?"tanya Melody aura di sekitaranya kini berubah.


Beraninya Baron mengadakan pesta padahal wilayan Utara dalam keadaan yang sangat sulit??!!


Namun tak lama sebuah seringan muncul di bibirnya, sepertinya dia tau apa yang akan di lakukan oleh Baron, dia makin penasaran hal menarik apa yang akan Baron perlihatkan untuknya, dia menunggu.


"Diana ambil undangan nya"ucap Melody.


Diana yang mendengar perintah itu segera mengambil undangan yang di kirimkan Baron dari tangan Pangawal tersebut.


"Katakan bahwa Duchess Utara akan datang"ucap Melody dengan senyum misterius di bibirnya yang membuat Pengawal itu sedikit bergetar.


Namun dari ekspresi Pengawal itu entah kenapa Melody seperti bisa melihat bahwa Pengawal itu seperti enggan untuk memperbolehkan Melody untuk datang, itu bisa di lihat dari wajah datar nya yang murung saat Melody mengatakan bahwa dirinya akan datang.


"Baik Yang Mulia Grand Duchess"ucap Pengawal tersebut sebelum mundur secara perlahan untuk segera pamit.


"Menarik, hal ini semakin menarik"ucap Melody sambil mengambil lagi makanan ringan, dan memakannya.


"Yang Mulia saya pamit undur diri dulu"ucap Diana sambil membungkuk hormat.


"Tunggu"cegah Melody.


"Ya, Yang Mulia"ucap Diana.


"Kepala Pelayan di sini siapa?"tanya Melody dengan serius.


"Itu Madam Camelia"ucap Diana sopan.


"pangil dia kemari Diana"ucap Melody.


"Baik Yang Mulia"ucap Diana sebelum dirinya pergi.


'Sebelum aku memperbaiki wilayah ini akan lebih baik jika memperbaiki Mension dulu yang sudah sangat rusak'batin Melody.

__ADS_1


Saat dia membereskan semua berkas di Mension dia menemukan banyak hal janggal, seperti pengeluaran Mension yang membengkak, serta masih banyak lagi, sepetinya Mension ini saja banyak masalah, memikirkan hal itu membuat Melody sekali lagi menghela nafas dan memegang kepalanya yang mulai pusing.


"Bisa gila aku"ucapnya pada dirinya sendiri.


"Gila?, siapa yang gila?"sebuah suara mengalihkan pikiran Melody, kini di depan pintu berdiri Devian Yang membawa bebarapa laporan.


"Hik!, sejak kapan kamu di situ??!!"tanya Melody.


"Sejak anda berkata kalimat gila?"ucap Devian.


"Huh?, jadi ada apa?"tanya Melody.


"Oh ini beberapa berkas tentang para Kesatria, Pengawal dan Prajurit"ucap Devian sambil menyerahkan semua berkas itu.


Melody pun menerimanya dan membacanya ternyata isinya adalah tentang keperluan yang di perlukan oleh para Kesatria, Pengawal, serta Prajurit.


"...!!!!!!!!"


"Ini apa kah semua ini harus pakai uang?"tanya Melody dengan kagetnya saat melihat nominal yang harus di keluarkan.


"Tentu saja Yang Mulia"ucap Devian.


"Ah, si4l, apa aku mati saja ya?"ucap Melody yang membuat Devian terkejut bukan main, baru pertama kalinya dia melihat seseorang yang mengatakan kata mati dangan begitu mudahnya seakan kematian bukan lah apa-apa bagi nya.


"Yang Mulia_, apa yang anda kataka_!!!!"kalimat Devian kini terpotong saat dia dengan lebih teliti melihat Melody, kalau di perhatikan wajahnya memang lebih kusut dari pada saat sampai kesini, matanya juga kini menjadi seperti mata panda.


"Yang Mulia?, apa anda baik-baik saja?"tanya Devian hati-hati.


"Apa aku terlihat seperti baik-baik saja?"tanya Melody balik.


"Apa anda yang mambuat anda begitu kelelahan?"tanya Devian lagi namun seperti dia sudah tau jawabannya saat melihat tumpukan dokumen di pojok ruangan.


"Banyak hal"jawab Melody.


"Yang Mulia jika anda merasa berat mengerjakan semua dokumen ini mungkin saya bisa membantu, walupun saya memang dari kecil selalu di medan perang tapi saya pewaris Duchy Milian"ucap Devian.


"Benarkah!?, kamu mau membantu?"tanya Melody dengan sangat cerah bahkan sinarnya bisa membutakan Devian.


"Ehem!, ya saya akan membantu"jawab Devian canggung


"Baiklah kalau bagitu silakan duduk dan bantu aku, tapi sebelum kamu membantu ku bisa kamu pergi ke semua kediaman Pejabat di Duchy Utara, kemudian ambil samua berkas yang ada pada mereka, tak perlu semua nya hanya dari Duke yang lama meninggal saja"ucap Melody dengan cepat.

__ADS_1


"Baik Yang Mulia"ucap Devian dan segera undur diri untuk menjalan kan tugasnya bersama dengan para Kesatria, Pangawal, dan Prajurit yang dalan beberapa hari ini sudah sangat tertip.


__ADS_2