
Siapa sangka bahwa kini beberapa miliaran tahun sudah terlewati oleh Melody yang masih saja setia membaca buku-buku yang ada.
Namun kini Melody hanya membaca beberapa buku yang dia kira cukup perlu, seperti ilmu pengetahuan serta bebarapa buku-buku penting tentang pemerintahan, pembangunan serta sihir-sihir yang di kira akan di butuhkan kelak.
Tap!
Suara buku di tutup kini terdengar di ruangan yang sunyi itu.
Hah~~
Menghela nafas Melody sangat lelah sudah sangat lama sekali dia ada di ruangan ini dan hanya membaca buku dia rasa semuanya yang sudah dia serap dan baca sudah cukup.
Walaupun di sana masih banyak buku yang belum dirinya baca namun dia tak mau serakah karena bila dia ingin menyelesaikan semua buku-buku yang ada mungkin dirinya akan terjebak di sini selamanya.
Melody akhirnya berdiri dan mengembalikan buku yang dia baca ke tempat semula serta mulai melangkah menelurusi lorong untuk kembali ke titik awal di mana pertama kalinya dia datang.
[Kamu sudah selesai?, apa itu sudah benar-benar cukup?, masih banyak pengetahuan yang akan berguna di sana] ujar suara Perpustakaan.
"Ku rasa ini semua sudah cukup aku tak membutuhkan lagi, lagi pula memangnya seberapa lama aku akan hidup di dunia itu, percuma punya pengetahuan yang banyak kalau tidak bisa di terapkan di kehidupan nyata, apa lagi yang ku pelajari kebanyakan tentang pembangunan wilayah jadi pasti akan butuh berpuluhan tahun untuk menerapkan beberapa dari mereka yang ku baca"jelas Melody.
[Kamu benar, namun menurutku memiliki pengetahuan yang lebih bukan kah tak masalah, kamu bisa memberikan peningglan kepada anak cucumu di dunia itu kelak] ucap suara itu lagi.
"Buat apa, toh pada akhirnya Keturuan BlueMoon juga akan ada lagi"ujar Melody.
Yang berarti bahwa jika hari ini dia tak bisa meninggalkan apa-apa, atau hanya bisa meninggalkan sedikit saja pengetahuan untuk anak cucunya dia tak akan khawatir lantaran pada akhirnya pasti salah satu keturunannya juga bisa masuk ke sini dan membaca buku-buku yang tersisa.
"Jika itu bukan anak ku maka itu cucu ku jika bukan lagi maka itu cicitku dan jika bukan maka anak teturunanku, bukan kah kamu akan selalu membukan gerbang bagi keturunan BlueMoon, iya kan Perpustakaan?"ucap Melody dengan senyum.
[Tentu saja itu janjiku kepada BlueMoon pertama]
"Jadi ku rasa sudah cukup bagiku belajar sampai sini sisanya serahkan saja kepada garis keturunanku yang selanjutnya, lagi pula ku rasa pengetahuan yang ku bawa bisa berguna bahkan sampai 100 keturunanku bukan?"tanya Melody.
__ADS_1
[Ku rasa begitu^.^]
"Baik tolong buka pintunya"perintah Melody.
Seketika sebuah pintu muncul di depan nya, Melody segera saja memegang ganggang pintu tersebut dan membukanya, melangkah ke dalam ruangan serbah putih kini menyapanya.
Matanya berat dan secera perlahan tertutup berbarengan dengan sebuah cahaya yang bersinar terang di depannya, pada saat itu sebuah suara menyapa telinganya.
[Ku harap kamu bisa melakukan apa nya kamu mau, dan semoga saja kamu bisa memperbaiki pelindungnya, Yang Mulia Putri Melody Van BlueMoon, atau Grand Duchess Utara Melody Calsion De Janeiro Salvier] ujar suara tersebut penuh harapan.
Di dalam badai salju yang termata kencang dan lebat sebuah cahaya yang bersinar terang kini muncul di sana dan segera menghilang meninggalkan seorang gadia dengan baju merah nya ala genre Fantasi barat seperti di komik-komi kini bernaring dengan nyeyak di sana.
Tak lama badai berhenti namun anehnya gadia tersebut sama sekali tak terusik akan udara yang dingin bahkan saat di samping kiri dan kanan nya terfapat gundugan salju akibat badai dirinya sama sekali tak terkena salju walaupun itu hanya ujung rambutnya.
Suara nafas yang teratur bisa membuat siapa saja tau bahwa gadis tersebut kini sedang terlelap tidur di sana.
"~~#%#~"
Suara beberapa orang yang berbicara kini terdengar dari kejauhan dan semakin jelas dan jelas apa yang mereka bicara.
"Kau tau Miranda aku pernah memmergoki Direktur dan seorang Artis sedang melakukan itu di sebuah kamar di hotel!"ucap seseorang pria dengan gaya gosipnya yang menggebu-gebu dengan logat dan bahaya inggris yang khas.
"Benarkah?!, lalu apa yang terjadi?"tanya Miranda penasaran dia juga terkejut saat mendengar gosip itu dari temannya ini
"Mana aku tau!, aku langsung pergi saat melihat itu, aku takut Direktur tau dan memecatku!, bisa gawat kalau seperti itu"ujar sang pria.
"Seharusnya kamu vidioin dulu baru tinggal pergi"ucap Miranda rada sesat.
Telinga Melody yang masih saja sensitif bahkan jika kalau itu jauh bisa mendengar dan mengetahui mereka berbicara apa akibat dari alat penerjemah yang dia bawa.
Matanya bahkan beberapa kali bergerak namun tetap saja dia sama sekali tak bisa membuka matanya barang sedikit saja, alhasil dia hanya bisa me dengarkan semua obrolan mereka berdua.
__ADS_1
"Boro-boro kalau vidioin yang ada kalau ketahuan aku yang bakal kena masalah nya"ujar sang pria kesal.
"Hahahaha!, iya iya maaf ya Hendrik"tawa Miranda kini terdengar di tempat tersebut.
Sedangkan pria tersebut yang ternyata bernama Hendrik kini hanya cemberiy dia pudung akibat ulah Miranda.
Namun tawa iti tak bertahan mala akibat Hendrik yang tiba-tiba saja menatik tangan dari Miranda.
"Miranda lihat depan!"teriaknya.
"Hah_?"Mitand yang kaget pun melihat ke depan tampa dia sadari dab betapa terkejut nya dirinya saat dirinya melihat sosok gadis yang kini sedang tertidur dengan nyaman nya di sana.
Langsung saja keduanya kini berlari dan menghampiri tubuh tersebut dan memeriksa apa kah gadis yang tertidur itu masih hidup.
Deg
Deg
Deg
Denyut nadi kini berdenyut di tangan Hendrik yang saat ini mengecek pergelangan tangan gadis itu yang kini berbaring di tengah salju.
"Dia masih hidup cepat buat api!, nyalakan api!"ucap Hendrik panik mereka harus cepat memberikan pertolongan pertama kepada Melody.
Dalam gerakan cepat Miranda langsung membingkar tasnya serta kayu bakar yang di gendingnya dan mwmbuat apu unggun di sana tapi tentu saja membuat api unggun di sana tidak lah muda untung saja kini zaman sudah maju serta moderen jadi mereka tak membutuhkan waktu lama untuk menyalakan api du cuaca seperti ini.
Keduanya juga dengan gerakan cepat dan cekatan segera membuat kemah dengan cara membentuk tumpukan salju sebagai tenda mereka dan membentukya menjadi seperti rumah-rumahan.
Setelah iyu mereka mendekatkan rubuh gadia tersebut yang ternyata Melody ke dalam tenda yang kini dekat dengan api.
"Kenapa dia bisa sampai di sini?"tanya Hendrik bingung dia sama sekali tak mengerti hal absurd apa yang terjadi di sekitarnya.
__ADS_1
"Mana aku tau, aku juga sedang berfikir bagaimana dia bisa sampai di sini bahkan dengan persiapan yang begitu tak lengkap, lihatlah dia bahkan hanya memakai baju tebal tanpa membawa benda apa pun, dan lagi bajunya aneh kan?"tanya Miranda memandangi pakaian yang di pakai Melody.