
Melody serta Isabella yang melihat senyum puas di wajah Janda Permaisuri 2 kini merasa bingung.
Janda Permaisuri 2 yang tau kebingungan mereka kini melanjutkan ucapannya.
"Tak seperti ibu Melody yang merupakan cinta dari Kaisar atau pula ibu Isabella yang menikah karena cinta sepihak, aku menikah hanya karena sebuah politik itulah sebabnya aku hanya memiliki satu anak saja, dan juga Kaisar hanya menganggap aku temannya saja begitu juga sebaliknya"jelas Janda Permaisuri 2.
Isabella yang mendengar itu kini merasa miris pasalnya ibunya menikah karena cinta sepihak, Melody yang tau bahwa kakaknya sedih kini diam-diam meraih tangan kakaknya tersebut dan menggenggam nya lembut.
Isabella yang merasakan genggaman itu kini menoleh kepada Melody yang masih saja fokus mendengarkan kisah dari Janda Permaisuri 2.
Isabella yang merasa nyaman menggenggam balik tangan Melody sebuah senyum kini terukir di bibirnya.
Akhirnya sudah lama mereka ada di sana dan berbincang-bincang hingga akhirnya Melody ijin untuk pamit.
"Yang Mulia Janda Permaisuri 2 dan Putri Isabella saya mohon untuk undur diri"ujar Melody membungkuk hormat kepada mereka.
"Mau kemana kamu baru sebentar di sini?"tanya Janda Permaisuri 2.
"Aku mau pulang ke Duchy bu tak baik membuat ke tiga Kesatria ku dan juga orang-orang di sana merasa khawatir, lagi pula aku harus pergi membeli hadiah oleh-oleh untuk Delice dan Diana aku yakin mereka sangat khawatir dengan diriku"ujar Melody
"Ah!, Delice dan Diana ya mereka berdua sepertinya memang mengkhawatirkan mu, kalau begitu cepatlah pulang ibu kasian dengan mereka yang menunggu lama, pakailah saja portal teleportasi Isatana ibu yang akan memberikan ijin"ujar Janda Permaisuri 2 sambil memberikan sesuatu ke tangan Melody itu adalah sebuah kertas dengan stempel Isatan Janda Permaisuri 2.
"Baik makasih bu"ujar Melody dan segera pergi dari sana.
Ternyata di sana ketiga 'Sir' sudah menunggu dirinya di luar mereka berbaris dengan tegap bersama Kesatria lainnya.
Saat melihat Melody keluar mereka langsung saja mengikuti Melody di belakangnya jadi Melody sama sekali tak perlu repot-repot mengajak mereka.
"Duchess anda mau kemana lagi?"tanya Sir Galib.
"Seharusnya aku ingin bertemu dengan Pangeran Rexid terlebih dahulu tapi sayang dia belum kembali juga jadi ayo pergi ke pasar beli beberapa barang dan langsung pulang"ujar Melody
"Baik Yang Mulia Duchess!"ujar mereka brrtiga bersamaan.
Di pasar Melody langsung saja mendatangi toko pakaian dan membelikan dua set baju untuk Delice dan yang lain nya.
Dia juga mampir ke toko Penyihir untuk membeli beberapa buku sihir baru dia ingat kalau Diana sudah saatnya memiliki buku baru untuk di pelajari.
__ADS_1
Namun saat dirinya hendak pergi dia kemudian tertarik dengan toko senjata.
Devian yang melihat bahwa Melody ingin pergi ke sana kemudian berdiri di sisinya.
"Yang Mulia apa anda ingin ke sana?, aku sarankan jangan ke sana"ujar Devian.
Ucapan Devian membuat Melody mengangkat satu alisnya bingung
"Kenapa aku tak bisa ke sana?, apa produk di sana buruk?"tanya Melody.
Devian yang mendengar itu menggelangkan kepalanya.
"Bukan hanya saja pemilik toko itu seorang kepala batu yang amat benci dengan bangsawan, aku tak tau kenapa"ujar Devian.
"Benar Duchess aku juga pernah di usir dari sana saat mau membeli sebuah pedang memang brengs3k!"ujar Sir Gio kesal.
"Memangnya kamu bangsawan?"tanya Melody.
"Aku bukan lagi karena keluarga ku bangkrut dan kami menjual nama bangsawan kami kepada orang lain, tapi itu terjadi saat aku masih memiliki nama bangsawan"jelas Sir Gio.
Oh!
"Tak apa Gio aku akan memberikan nama ku untuk mu"ujar Melody.
Yang mendapat tatapan horor dari ketiga Kesatria tersebut.
"Tak perlu aku tak butuh!"tegas Sir Gio.
"Lah kenapa?"tanya Melody bingung.
"Yang Mulia apa anda ingin menikah dengan Sir Gio?"tanya Sir Galib
"Menikah dengan nya?, tentu saja tidak!, jika aku menikah dengan bukan kalimat sayang yang akan aku dengar tapi kalimat umpatan lah"gerutu Melody.
Yang langsung mendapat tanggapan dari Sir Devian dan Sir Galib dengan tawa mereka dan Sir Gio dengan kekesalan nya.
"Ck!, anda kira aku juga mau menikah dengan mu?!"bentak Sir Gio hingga membuat Melody menutup telinganya.
__ADS_1
Sir Gio ini sepertinya sudah tak memiliki rasa hormat kepada atasannya saja.
"Aku tau jadi jangan berteriak di sini si4lan"jengkel Melody pasalnya kini mereka jadi perhatian banyak orang di sana.
Namuan bukan nya merasa malu atau minta maaf Sir Gio hanya memalingkan mukanya dengan ekspresi marah.
Melody yang melihat itu kini menyeringai.
"Tenang Sir aku serius tentang hal itu, aku akan memberikan mu nama bangsawan, jika kamu tak mau pakai namaku kamu bisa pakai nama yang kamu peroleh sendiri"ujar Melody sambil menepuk bahu Sir Gio
Ucapan Melody yang terdengar serius kini memberikan tanda tanya kepada Sir Gio begitu juga yang lainnya.
"Karena sepertinya kini akan mendapatkan hal besar saat kita kembali"ujar Melody lagi.
Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam toko senjata tersebut.
Benar saja seperti apa yang Devian katakan baru saja Melody membuka pintu toko sebuah pisau sudah terlempar kearahnya namun dengan cepat Melody bisa menangkap pisau tersebut.
Serangan yang begitu tiba-tiba itu membuat ketiga Sir yang ada di belakang nya marah dan hendak menangkap sang pelaku namun Melody segara saja menahan mereka semua.
"Cih!, melesat ternyata"sebuah suara kesal kini terdengar menyapu pendengar mereka semua.
Kini perhatian mereka langsung saja berpindah ke arah seorang laki-laki tua yang kini sedang turun dari tangga.
"Padahal sudah aku peringatkan kalau aku tak menerima pelanggan bangsawan tapi kenapa lalat-lalat seperti kalian masih saja bersikeras masuk?"tanya pria tua itu kesal menatap mereka dengan sangat tajam.
Urat-urat di wajah ketiga Sir sudah tak tertahan dan amarah mereka siap meledak kapan saja, namun Melody kini hanya tersenyum menatap laki-laki tua tersebut.
"Selamat siang Tuan"sapa Melody ramah sambil membungkuk.
Tindakan Melody membuat ketiga Sir itu terkejut.
"Yang Muli_!"
"Syutt~, diam Sir Galib"ucap Melody sedikit berbisik namun semua orang bisa mendengar hal tersebut.
Sir Galin yang mendengar itu kini menjadi diam.
__ADS_1
Pria tua yang mendengar hal itu sedikit mengangkat satu alisnya terlihat bingung dan juga kaget.
"Baru kali ini ada bangsawan yang membungkuk pada rakyat biasa"ujar Pria tua itu.