Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 64


__ADS_3

Perjalanan antara keduanya sangat mukus tanpa rintangan selama 5 jam perjalanan tapi itu hanya lima jam sebelum kini pata bandit memblokir jalan mereka yang membuat Melody sebagai kusir mau tak mau menghentikan kereta tersebut.


Pamam Wage yang merasakan kereta berhenti mendadak segera membuka matanya dan bertanya kepada Melody.


"Ada apa nak?, apa ada yang aneh?"tanya nya dengan heran.


Melody tak menjawab dan hanya menatap ke depan, tatapan itu jelas sangat datar.


"Serahkan semua barang kalian!, atau kalian berdua mati!"teriak seseorang dengan galak dan keras.


Teriakan itu membuat Paman Wage segera duduk, dan menatap ke depan di mana di sana ada sekitar 20 bandit yang sedang mengepung kereta kuda tersebut sambil mengarahkan pedang mereka kearah Melody dan dia.


"Si4l, kenapa harus ada bandit di saat situasi genting seperti ini?"desis nya kesal pasalnya dia benar-benar sedang di kejar waktu saat ini.


"Apa yang kalian lamunkan ceoat serahkan barang dan harta kalian!"ucap bandit tersebut yang langsung bisa di tebak bahwa orang tersebut adalah pemimpinnya.


Mendengar gertakan dari para bandit paman Wage terlihat kesal dan dongkol.


"Huh!, kenapa aku harus memberikan semua harta ku pada kalian!, kaliam pikir aku takut dengan tikus-tikus seperti kalian ini!"murka paman Wage dan dalam sekejap mata dirinya kini sudah terbang dengan sebuah pedang di tangnnya yang dia ambil dari bawah kursi.


Trang!


Dua pedang kini berbenturan antara pedang paman Wage dan si ketua bandit, ilmu kanuraga paman Wage ternyata lebih besar dari para bandit-bandit tersebut sehingga dalam sekali serang ketua dari bandit itu langsung terbang ke belakang.


Para bandit yang melihat ketua mereka terbang kini mulai memasang sikap waspada.


"Hey!, apa yang kalian lihat cepat serang orang itu dan bunuh dia!"teriak ketua bandit yang kini memegangi dadanya yang sakut dia baru saja mutah darah.


Para bandit yang mendapatkan intruksi itu segera berlari kerah Paman Wage dan mengerahkan ssmua kekutan mereka untuk melumpuhkan Paman Wage.


Hiyaaa!!!


Serang!!!


Seru para bandit.


Paman Wage yang melihat itu langsung terbang sambil berbutar menghindari pedang yang di tusukan bersama kearahnya, sehingga pedang-pedang itu saling bertumburan.


Tranggggg!!!!!


Tap!

__ADS_1


Paman Wage ini mendarat di atas pedang para bandit yang saat ini masih saling menempel satu sama lain, para bandit terkejut namun sebelum mereka bisa berreaksi, paman Wage sudah berputar di udara sambil memukul mereka semua.


Buak!


Duk!


Buak!


Bugh!


Urghhh!


Ahhh!


Buak!


Arghhh!


Duk!


Suara pukulan dan teriakan serta erangan kesakitan kini terdenga memenuhi jalan yang sepi itu.


Para bandit langsung saja tersungkar di atas tanah, ketua bandit yang melihat itu sangat marah.


Sebelum dirinya terbang kearah paman Wage dan beradu padang dengan nya.


Trang!


Tang!


Ketua bandit itu kini menyerang leher paman Wage namun hal itu bisa di tangkis dengan mudah oleh Paman Wage.


Ting!


Traang!!


Bugh!


Berbagai macam gaya sudah mereka jabatkan di mulai beradu dengan pedang atau bahkan menggunakan tangan kosong dan bahkan saling menendang di udara.


Duak!

__ADS_1


Bugh!


Paman Wage menyerang ketua bandit dengan pukulan siku yang mudah di tangkis oleh ketua bandit.


Buahk!


Sebuab tendangan kini membuat paman Wage terpental lumayan jaun dan jatuh tersungkur di tanah.


Dia kini memegangi dadanya yang sakit dengan darah yang keluar dari mulutnya, dia seperti terluka parah, bagian dalam nya lah yang rusak.


Sementara itu Melody yang melihat pertarungan antara Paman Wage dan Ketua bandit hanya menonton tanpa ada keinginan membantu.


Tapi walaupun begitu dia juga kagum akan paman Wage yang begitu hebat, yah walaupun di sini tak ada sihir tapi dia yakin bahwa mereka memakai tenaga dalam tak seperti sihir yang anak terlihat dengan warna terteu, tenaga dalam itu seperti bersatu dengan daerah sekitarnya dengan kata lain tidak nampak.


Bahkan saat paman Wage kalah dan memutahkan darah dari mulutnya Melody hanya mengangkat satu alisnya, dia seperti memiliki kepribadian ganda terkadang ramah, terkadang naif dan bahkan sikap-sikap yang lain nya jangan salahkan dia dia hanya akan bersikap seperti suasana hati nya saja.


"Dasar bajing4n teng1k!, lihatlah siapa yang menang"ucap sang pemimpin bandit sombong dia seperti sangat bangga akan kemenangannya melawan Paman Wage.


Sikapnya itu ternyata mendapat tatapan sengit dari Paman Wage, kagum dari para ateknya yang kini bahkan mulai bersorak menyuarakan nama pemimpin mereka sekaligus nama kelompok mereka.


"Hidup Pemimpin!"


"Hidup kelompok surya!"


Sorak mereka semua kegirangan sambil memgakat pedang mereka tinggi-tinggi dengan senyum bangga dan bahagia.


Namun tentu saja Melody hanya menatap mereka semua seperti mereka itu idi0t!, apa mereka tak melihat bahwa masih ada dia yang akan menjadi lawan mereka?, atau paman bandit kecil itu sama sekali tak menganggapku ada?.


"Hahahahaha!!, terima kasih semuanya!, kalau begitu ayo ambil barang jarahan kita!"ucap ketua bandit utu dengan bangga seakan-akan itu adalah sebuah prestasi yang pantut di banggakan oleh nya.


Padahal menirut Melody itu bukan hal yang pantut di banggakan, bahkan bukan dia saja dia yakin abhwa smeja manusia di bumi juga akan setuju dengan apa yang di katakan oleh nya hanya orang yang sejenia dengan paman di depan nya ini saja lah yang akan setuju jika menjarah,  merampok, dan yang lain nya adalah hal yang baik.


Malihat mereka mendekat Melody segar turun dari kereta kuda soalnya yang awalnya tak menjadi perhatian kini segera manarik semua perhatian yang ada.


Apa lagi wajah cantik bak dewi nya itu segera msmikat para bandit yang ada,  itu mengundang lapar di mata mereka serta berbagai pikiran mesum.


"Kalian tidak di ijinkan memgambil apa pun!"ucap Melody tegas menatap tajam kearah para bandit.


"Sudah lah nak, uhuk!, biarkan saja uhuk!, tak apa yang panting kita selamat"suara paman Wage kini memasuki telingannya dia seperti nya benar-benar sekarat ya?.


"Tidak bisa paman!, bagimana paman menyerahkan begitu saja kepada mereka bukankah paman bisa kena marah pelanggan!"teriak Melody tak terima.

__ADS_1


Si4l!, dia muak melihat lah klasik seperti ini di mana yang kuat akan menang dan menjdas yang lemah, rasanya menyebalkan melihat adegan yang biasanya dia baca di novel atay film benar-benar ada di depan nya, jika dia tak bisa membunuh semua bandit inj jangan pernah sebuat dia sebagai Grand Duchess Melody Calsion De Janeiro Salvier!!.


Tanpa sadar pemimpin bandit itu benar-benar memperhatikan Melody dari atas sampai bawa dia benar-benar terpesona akan paras cantik nan anggun seperti Melody, bahkan kini air liur menetes dari mulutnya, hal itu membuat Melody merasa jijik.


__ADS_2