
Dame Clara yang di ejek kini memalingkan muka dari Melody dengan wajah yang merah padam.
"Tidak bukan begitu Yang Mulia!, aku tidak menyukai nya!, benar-benar tidak!"tolak Dame Clara dengan suara yang malu-malu jelas sekali kalau dirinya menyukai Viscount.
"Benarkah?"goda Melody lagi dia sungguh senang menggoda Dame Clara karena menurutnya itu sangat menyenangkan pasalnya wajah Dame Clara yang malu-malu terlihat sangat imut.
"Iya itu bukan"elak Dame Clara lagi.
"Kau bilang kau tidak menyukainya berarti kamu mencintai dan menyayangi nya kan?"goda Melody lagi makin menjadi.
Dan
Dam!
Wajah Dame Clara kini makin merah semerah cabai merah sangat merah bahkan kini rona merah tersebit sudah sampai di telinganya Melody bisa melihat itu bahkan gerakan dari Dame Clara saat ini menjadi kaku dan canggung.
"Bu_bukan begi_tu"cicit Dame Clara lirih.
Melody hanya bisa tertawa kecil melihat itu rasanya menyenangkan menggoda Dame Clara tapi rasanya kasian juga karena di goda terus wajah nya tak mau kembali ke warna semula dan masih saja berwarna merah.
Baiklah sudahi saja godaan nya karena siapa sangka bahwa dia sudah sampai di area pertambangan.
Biar ku perjelas lagi wilayah Utara itu berbeda dengan wilayah lain di mana mereka juga memiliki beberapa bertambangan yang berbeda hanya saja jarak satu pertambang ke pertambangan lain nya itu berada di tempat yang berbeda.
Berbeda lagi dengan Duchy Salvier yang wilayah pertambangan berada dalam satu kawasan walaupun jenis pertambangan satu dengan yang lainnya berbeda.
Masuk ke dalam pertambangan dirinya bisa melihat bahwa semua orang bekerja keras, dari kejauhan Melody bisa melihat seseorang yang tengah berlari kearahnya dengan tergopoh-gopoh.
"Selamat datang di wilayah pertambangan Yang Mulia Duchess Salvier"ujar orang tersebut sambil menaruh tangannya di dadanya.
Melody tak kenal siapa itu sehingga Dame Clara yang melihat Melody kebingungan membisikan sesuatu ketelingan Melody.
Melody yang mendapat informasi bahwa yang kini memberi ucapan selamat datang kepada nya adalah Penjabat yang mengurus pertambangan kini tersenyum.
__ADS_1
"Senang juga bisa bertemu dengan mu Tuan"ujar Melody dengan senyum nya.
"Ah!, tidak Yang Mulia saya jauh lebih senang bertemu dengan anda"ucap orang tersebut buru-buru sepertinya tak enak.
Mana berani dirinya yang hanya seorang Penjabat rendahan yang hanya mengurus pertambangan bisa menjadi hal yang menyenangkan bagi Tuannya saat bertemu?, dia sama sekali tak berani.
Melihat respon dari Pejabat tersebut Melody hanya tertawa kecil, kini dia mulai mengamati sekitar dengan lebih teliti.
Melody bisa melihat para pekerja yang bekerja dengan semangat, tubuh mereka yang kurus sungguh berbeda dengan tenang yang tersimpan di diri mereka masing-masing.
Pakaian lusuh bahkan dengan lubang-lubang di kaos nya mereka pakai untuk bertembang, mungkin karena efel sering di gunakan untuk bekerja keras jadilah seperti itu.
Cukup memperhatinkan pasalnya mereka seperti kirang makan doa kira pekerja tambang akan memiliki tubuh yang besar dan berotot tapi siapa sangka bahwa mereka akan memiliki tubuh yang kecil seperti itu dak bahkan mengangkat hasil pertambangan.
Melihat iti Melody iba pikiran nya menjadi berkelana saat jaman SD dulu di mana pada saat itu dia sedang pelajaran IPS, di mana dia mempelajari bab tentang Penjajahan Belanda serta Jepang serta nasib bangsa Indonesia pada saat itu yang di haruskan mengikuti romusha atau Kerja Paksa, sungguh sangat menyedihkan dia bahkan tak bisa membayangkan jika dia berada di posisi mereka.
Hendak bertanya dan menoleh ke arah sang Pejabat namun dirinya segera saja menutup mulutnya kembali saat melihat bahwa pakaian Penjabat serta tubuh Penjabat tersebut tak jauh berbeda dengan petugas tambang.
Akhirnya alih-alih bertanya Melody malah berbisik-bisik dengan Dame Clara.
"Benar Yang Mulia saya juga memiliki firasat yang sama dengan anda"
Tentu saja aksi mereka berdua membawa tanda tanya besar kepada sang Pejabat yang kini memiringkan kepalanya dengan wajah bod0h karena bingung.
Melody yang melihat itu merasa tak enak dan akhirnya menyudahi aksi nisik-bisik antara dirinya dan Dame Clara.
"Ehem!, kamu pasti tau kenapa aku datang ke sini bukan"tanya Melody berdehem untuk menghilangkan kecanggungan
"Tentu saja Yang Mulia pasti ingin mengambil uangnya bukan?"ujar Pejabat tersebut.
Kalimat tersebut sontak membuat Melody terkejut.
"Kenapa kamu berfikir bahwa kedatangan kami ke sini hanya ingin meminta uang dan bukanya melakukan hal lain, seperti melihat hasil kerja kalian atau melihat jurnal pertambangan?"tanya Melody
__ADS_1
Lagi-lagi Penjabat itu bingung.
"Apa maksud Yang Mulia selama ini kan memang selalu seperti itu"ujar nya.
Mendengar jawaban dari Penjabat tersebut lagi-lagi keterkejutan menghampiri Melody dan Dame Clara.
"Lalu bagaimana dengan beberapa bulan ini apa semua yang datang hanya mengambil uang dan pergi?"tanya Melody.
"Bener seperti itu Yang Mulia, karena memang sudah biasa bahkan hal ini sudah berjalan sejak Duke terdahulu meninggal"jelas Penjabat tersebut.
Melody yang mendengar penjelasan itu mengerutkan keningnya dia kini tau kalau hal tersebut terjadi karena Baron yang sudah mati, jelas sekali kalau kabar tentang kematian Baron belum sampai ke daerah pertambangan maklum saja mereka di sini sangat terisolasi dari dunia luar.
Mungkin lain waktu dia harus membuat jadwal libur bagi semua pekerja.
"Kalau begitu mulai sekarang jika ada Penjabat yang datang ke sini serahkan juga jurnal milik pertambangan dan suruh mereka untuk mengecek serta melaporkan nya pada ku, jika mereka menolak bilang saja ini perintah Duchess secara langsung"ujar Melody.
Dia juga nampak tak senang karena rupanya masih ada Penjabat yang sama busuknya.
"Baik Yang Mulia"tanpa banyak tanya atau bagaimana Penjabat tersebut langsung saja menuruti apa kata Melody.
"Kalau begitu tunggu apa lagi bawa jurnal nya ke sini"ujar Melody yang membuat sang Penjabat gelagapan.
Dia gelagapan karena sudah lama tak melakukan ini dan apa lagi atasan nya sendiri yang datang langsung membuatnya gerogi pasalnya sudah lama sekali sejak dirinya mendapat kunjungan dari penguasa wilayah.
"Baik Yang Mulia tunggu sebentar"ujarnya dan segera berlari ngacir ke dalam kantornya.
Tak lama Penjabat tersebut keluar dengan jurnal di tanganya itu cukup banyak.
"Ini Yang Mulia"serahnya.
Melody pun segara saja membuka dan membacanya namun hal-hal tertentu membuatnya mengerutkan keningnya.
"Dame berapa harga Nikel di Kekaisaran kita secara normal?"tanya Melody.
__ADS_1
"Itu pada bulan ini harga nikel adalah 22.115 ribu emas per-ton Yang Mulia"jawab Dame Clara.