Duchess Utara

Duchess Utara
Bab 18 Obat bukan sembarangan


__ADS_3

Tanpa Devian sadari Baron mengapalkan tinjunya.


__________


Devian tak tau bahwa kini Baron menatap dia dengan tatapan yang berbahaya.


"Hanya seorang Kesatria saja beraninya dia"ucap Baron marah sambil menggertakan giginya.


Para Pelayan dan Pengawal yang berbaris demi menyambut Duchess baru wilayah Utara kini bergidik ngeri mereka bahkan tak berani menatap ke arah Baron, sehingga mereka hanya bisa menudukkan kepala lebih dalam.


Sampai di kamar Duchess Devian segera membaringkan Melody di sana secara hati-hati.


"Ambilkan obat penurun panas, ambil juga kompres"perintah Devian yang segera di lakukan oleh Pelayan tersebut.


"Baik Tuan"ucap Pelayan tersebut pergi, tak lama dia datang membawa obat serta satu baskom air hangat untuk mengkompres Melody.


"Taruh saja di sana"ucap Devian tanpa menoleh dia sibuk membenarkan selimut untuk Melody.


"Kamu boleh pergi"ucap Devian kepada Pelayan tersebut


"Pastas saja Yang Mulia sangat lelah dan sakit siapa juga yang tak akan merasa seperti ini saat memiliki pikiran yang kacau?"ucap Devian sambil menatap iba Melody yang kini masih berbaring dengan tenang di atas tempat tidur.


"Apa yang akan kamu lakukan Yang Mulia?"tanya Devian kepada Melody yang bahkan kini sedang pingsan.


Devian mengambil kain dan mencelupkannya ke dalam air hangat, memerasnya dan menaruh kain basah itu di kening Melody.


Meletakkan tangan nya di pipi Melody Devian duduk di pinggir kasur.


"Panasnya semakin naik, Yang Mulia sepertinya banyak pikiran"ucap Devian menghela nafas lelah.


Melihat buah pisang di atas meja Devian mengambilnya dan memakannya setelah mengupasnya dengan santai.


Nyam.


Nyam.


Nyam


"Ini cukup manis, pasti ini sangat mahal"ucap Devian kepada dirinya sendiri sambil melihat pisang di tangannya dengan penuh minat, dan memakan nya lagi.


Nyam.

__ADS_1


Nyam.


'Aku tak sabar dengan pertunjukan yang akan hadir sebentar lagi'


Tak di sangka bibir Devian kini membentuk seringan penuh rasa ketertarikan, dia memikirkan hal apa yang akan dilakukan oleh Melody, dia yakin bahwa Baron dan para anteknya akan mendapatkan hadiah yang luar biasa.


Menatap Melody, Devian akhirnya mengganti kompresnya lagi, saat ini dia bahkan tak bisa mempercayai siapa pun di sini jadi sampai Nona Diana datang dia akan jadi pengasuh sementara.


Tak lama Melody membuka matanya dengan tatapan sayu.


"Ugh!, ini di mana?"tanya Melody sambil memegang kepalanya yang pusing, penglihatan cukup buram karena dia sedang pusing di tambah dia baru saja bangun dari tidurnya.


"Oh, kau sudah bangun Yang Mulia?, sekarang kita ada di Mension Duchess Duchy Utara, apa ada yang bisa saya bantu?"tanya Devian.


"Tidak, tidak ada aku hanya butuh istirahat saja"ucap Melody sambil menutupi wajahnya dengan tangannya matanya tak bisa melihat cahaya mungkin dia terkena migran?


"Baiklah, tapi sebelum itu minumlah obat dulu"ucap Devian sambil mengambil obat serta satu gelas air putih.


Melody menatap setiap gerakan Devian dengan mata sayu nya, dengan pelan Melody duduk dan menerima obat serta air putih itu.


Saat akan menelan obat itu tak sengaja lidahnya menjilat obat tersebut, rasa pahit obat yang tak biasa itu membuat Melody mengerutkan keningnya tak nyaman.


Devian yang melihat itu kembali mengambil obat serta air putih itu.


"Yang Mulia, bukan kah?, anda harus cepat sembuh jika ingin mengurus Duchy Utara menjadi lebih baik lagi, banyak kebusukan yang terjadi sejak beberapa tahun lalu sejak Duke Utara yang dulu paman Yang Mulia meninggal dunia"ucap Devian.


"Jadi setidaknya minumlah obat ini"ucap Devian menyodorkan kembali obat serta air putih itu ke pada Melody.


Melody yang melihat itu secara reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tak mau minum obat itu rasa pahitnya tak biasa itu jelas berbeda dengan rasa pahit obat yang dia ketahui selama ini.


"Tidak mau!"ucap Melody tak jelas.


Devian yang mendengar ucapan tak mau itu mengerutkan keningnya kesal.


"Tak mau ya, Yang Mulia anda harus meminumnya"ucap Devian dengan senyum jengkelnya.


"Setidaknya anda harus sembuh bukan?"ucap Devian kini senyum menyeramkan terlihat, hal itu membuat Melody merasakan firasat buruk.


Melody kini semakin menyusut ke kasurnya itu, firasatnya tak akan pernah salah, hatinya terus berteriak bahwa dia harus pergi.


Namun sayang sekali saat dia hendak pergi Devian sudah menarik tubuhnya hingga dia terduduk di pangkuan Devian.

__ADS_1


"Mau kemana Yang Mulia"ucap Devian dengan senyum menyeramkan, dia juga secara tak sengaja meremas tangan Melody kenceng.


Melody yang memberontak tak berdaya karena Devian benar-benar memegang dan menarik tangan nya dengan erat.


"Aku tidak mau!, minum obat pahit itu!, lepas kan aku!"ucap Melody sambil memberontak


Tak ada jawaban dari Devian dia hanya diam saja tanpa menanggapi Melody yang masih memberontak di atas pangkuannya, hingga tangannya yang sudah gatal tak sabar dan dengan paksa memasukkan obat tersebut ke dalam mulut Melody.


Melody yang di perlakukan seperti itu sangat kaget, Devian ini sangat berani, bagaimana mungkin dia begitu berani berbuat seperti ini kepada anggota Kekaisaran?!.


"Telan Yang Mulia"ucap Devian dengan tatapan kejam yang membuat Melody ketakutan.


Sangkin kasar nya secara tak sadar dia sudah ia menelan obat tersebut


Glup..


Melihat bahwa Melody sudah menelan obat nya Devian nampak puas dan segera memberi air putih ke pada Melody, yang di sambut Melody dengan cepat.


Melody segera meminum air itu hingga tandas dengan sesegera mungkin, untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya.


"Nah begini kan anda pasti akan sembuh"ucap Devian dengan senyum polosnya, dengan tanganya yang kini sudah tak memegang Melody lagi dengan kuat.


"Kamu!, beraninya bersikap kasar terhadap ku?!"ucap Melody dengan tatapan mematikan ke arah Devian yang kini hanya tersenyum polos tanpa dosa.


"Itu adalah hukuman,  anak nakal yang tak mau minum obat harus di hukum"ucap Devian sambil menaruh jari telunjuknya di bibirnya.


"Hukuman?, beraninya kamu memberi hukuman untuk ku?!!"ucap Melody lagi.


"Kenapa?, lagi pula dulu aku juga selalu seperti itu jika tak ingin minum obat Kesatria ku akan memaksa obat itu agar tertelan"ucap Devian.


'Si4l!, sebenarnya seperti apa Kesatria nya itu?!!'batin Melody entah kenapa saat ini dia memiliki dendam dengan Kesatria Devian.


"Tersarah!"ucap Melody dan segera berguling dari atas pangkuan Devian, membalut tubuhnya dengan selimut.


Devian yang malihat itu segera bangun dari duduknya dan keluar dari kamar Melody sesudah mengatakan suatu hal


"Baiklah Yang Mulia saya pergi dulu, nona Diana sebentar lagi akan sampai Mension"ucap Devian dan segera menutup pintu.


Semantar itu Melody yang kini terbungkus selimut memiliki wajah hampir menangis karena mulutnya sakit.


"Si4l, aku harus membalasnya berkali-kali lipat, beraninya dia memasukkan obat dengan kasar"ucap Melody dengan wajah sedih.

__ADS_1


__ADS_2